
Aku masih terus merasa mual dipagi hari padahal usia kandunganku sudah 7 bulan. Selama beberapa bulan ini selain membantu bu Asni mengurus anak-anak panti aku juga mencoba menjual kue ulang tahun. cukup banyak yang memesan kue buatanku, aku sangat bersyukur karena mereka merasa puas.
Suatu hari aku menerima sebuah pesanan kue ulang tahun. Aku membuatnya sebagus mungkin berharap pembeliku tak kecewa.
Aku mengantarkan kue itu ke alamat yang ditulis, tak ada perasaan apapun saat aku mengantar kue itu hanya saja calon bayiku terus saja bergerak di dalam perutku.
''Selamat siang, saya mengantar pesanan kue ulang tahun'' sapaku pada seorang wanita yang sedang menyapu halaman rumah itu.
Saat wanita itu berbalik, aku kaget melihatnya.
''Bi Asih?'' kataku.
''Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?'' tanya bi Asih.
''Aku baik bi, bibi bagaimana kabarnya?''
''Syukurlah bibi sehat, apa nyonya sedang mengandung?'' tanya bi Asih melihat perutku yang sudah membuncit.
''Iya bi, sudah 7 bulan doakan saja sehat terus calon bayinya. Ini kuenya bi'' kataku sembari menyerahkan kotak kuenya.
''Bi Asih apa pesanan kuenya sudah datang'' suara mas Hans datang menghampiri kami. Dia menatapku dengan tatapan tak suka.
''Ngapain lagi kamu kesini? Hebat ya baru beberapa bulan berpisah kamu sudah hamil saja.Cih! Dasar murahan, kamu memang wanita tak tahu malu, sudah hamil masih saja menampakkan wajahnya disini, paling itu anak haram'' kata mas Hans.
Sakit hatiku mendengar caciannya padaku dan anak yang kukandung, ingin rasanya aku menangis tapi kutahan air mataku.
Bi Asih ingin memberitahu mas Hans, tapi aku menahannya.
''Bi usir wanita ini, jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi'' kata mas Hans berlalu pergi. Perutku bergerak terus, aku hanya mengusap-usapnya saja.
''Bi, saya permisi pulang jangan bilang kue itu saya yang buat dan jangan bilang sama mas Hans jika saya sedang mengandung anaknya, biarlah saya mengurusnya sendiri'' kataku pada bi Asih. Dia hanya mengangguk dan menatap iba padaku.
Aku tak ingin mendapatkan rasa kasihan dari orang lain, aku akan berusaha kuat demi anakku.
''Nak ibu harap kamu jadi anak yang kuat, tunjukkan pada semua orang bahwa kamu bukanlah anak haram seperti kata ayahmu tadi'' kataku sambil mengelus perutku.
.
.
.
Dua bulan kemudian, hari persalinankupun sudah tiba, sedari subuh perutku memang sudah terasa mulas tapi masih belum teratur dan masih jarang timbul. Aku masih membantu ibu Asni mengurus anak-anak panti. Sore hari saat aku selesai mandi, aku merasa ada yang basah di kakiku, segera kupanggil bu Asni.
''Sepertinya bayimu akan lahir nak, ibu panggilkan dokter ya kamu tidurlah diranjang'' kata ibu berlalu memanggil dokter Lia yang selama ini menangani kehamilanku.
.
Dokter Lia sudah ada di kamarku, dia memeriksa apakah aku akan melahirkan atau belum.
''Bu, ini sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi bayinya akan lahir'' kata dokter.
Aku dibawa dokter Lia ke kliniknya, rasa mulasnya sudah mulai teratur dan berlangsung lama.
''Dokter apa saya sudah boleh mengejan rasanya perut saya sudah sakit sekali'' tanyaku.
Dokter Lia segera memeriksaku, dia tersenyum.
''Boleh bu, pembukaannya sudah lengkap. Jika sakit tarik napas dalam-dalam terus mengejanlah seperti saat hendak buang air besar'' kata dokter Lia.
__ADS_1
Aku melakukan sesuai petunjuk dokter. Cukup tiga kali tarikan napas terdengar suara tangis bayiku, rasa bahagia menyeruak di dalam hatiku menggantikan rasa sakit tadi.
Setelah debersihkan dan dipakaikan baju, bayiku diletakkan di atas dadaku agar dia bisa mencari sumber makanannya sendiri. Wajahnya sangat mirip dengan mas Hans, hidungnya mancung kulitnya putih dan matanya tidak sipit sepertiku.
.
Hanya satu malam aku menginap di klinik dokter Lia. Saat kembali ke panti, anak-anak sangat antusias ingin melihat adik baru mereka. Secara bergantian mereka mencium putraku. Ya, anakku adalah seorang putra yang kuberi nama HANS PRATAMA PELANGI WIANDRA.
.
.
Bu Asni sangat menyayangi putraku dia bahkan selalu menjaganya saat aku sedang sibuk bekerja. Aku mulai membut kue lagi saat Hans berumur 7 bulan, sekarang usianya sudah 3 tahun. Dia belum pernah sekalipun bertemu ayahnya, mungkin ayahnya juga sudah lupa pada kami.
''Apa kamu tidak ingin membawanya bertemu ayahnya nak?'' kata bu Asni saat kami sedang membuat adonan kue.
''Tidak bu, biarlah kami hanya hidup berdua saja, toh ayahnya juga tidak mencari kami bu'' kataku.
Sebenarnya di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku juga ingin bertemu mas Hans. Tapi mengingat perlakuannya pada pertemuan terakhir kami aku mengurungkan niat membawa Hans mememuinya.
''Bu besok kan ibu ulang tahun, kita pergi jalan-jalan ya bu'' kata Hans datang memelukku.
''Iya sayang, kalau begitu kamu duduk disana jangan ganggu ibu kerja biar besok kita bisa pergi jalan-jalan'' kataku.
Hans bersorak riang menuju ke kamarnya untuk bermain. Jika besok hari ulang tahunku berarti juga hari ulang tahun pernikahan kami.
.
Keesokan paginya aku bangun pagi-pagi sekali membuat nasi tumpeng dan lauk pauk untuk kami nikmati bersama anak-anak panti. Karena hari ini hari spesial jadi menu kami harus spesial. Mungkin mas Hans sudah melupakan hari ini tapi aku masih sangat mengingatnya.
Kami bertamasya bersama anak-anak panti kesalah satu wahana bermain air di kota. Anak-anak terlihat sangat bahagia menikmati bermain air.
Setelah puas bermain air kami memutuskan untuk makan siang kemudian pulang. Aku merasa bahwa Indra terus mengikuti kami dari tadi.
Anak-anak sudah masuk kedalam panti bersama bi Asih. Aku masih diluar menyelesaikan pembayaran transportasi kami. Saat bis berlalu, aku melihat Indra sudah berdiri di samping mobil mas Hans di seberang jalan. Aku segera berbalik terburu-buru ingin masuk kepanti.
Indra mencekal tanganku hingga langkahku terhenti. Ia menatapku dengan tatapan penuh tanya.
''Siapa anak yang nyonya peluk tadi, kenapa wajahnya begitu mirip dengan tuan Hans?'' tanya Indra.
Aku hanya menunduk tak tahu harus mengatakan apa.
Indra melepaskan cekalannya pada tanganku kemudian bertanya lagi.
''Apa dia anak tuan Hans?''
''Bukan, dia cuma anakku tolong jangan ganggu kami lagi. Jangan katakan apapun pada tuanmu biarkan aku dan anakku hidup bahagia meski tanpa ayah'' kataku kemudian berlalu meninggalkan Indra yang terpaku di tempatnya.
''Siapa itu tadi nak? Apa dia menyakitimu?'' tanya bu Asni yang ternyata melihat semuanya dari balik pintu.
''Dia asisten pribadi mas Hans bu, tadi dia sudah melihat Hans saat dikolam tadi. Aku harap dia tak memberitahu mas Hans tentang putraku bu''
''Tapi nak, biar bagaimanapun dia tetap ayahnya. Suatu saat mereka pasti bertemu'' jawab bu Asni.
Aku hanya mengangguk dan masuk ke kamarku.
Setelah kejadian aku bertemu Indra, aku merasa setiap hari ada yang mengawasiku dari jauh. Aku jadi takut sendiri, mungkin ada orang yang berniat jahat padaku.
Hari minggu pagi selepas pulang ibadah, aku mengajak Hans jalan-jalan ke kota. Katanya ia ingin bermain komedi putar, aku pergi hanya berdua dengan Hans. Setibanya di kota aku langsung membawanya kesebuah pusat peebelanjaan yang juga jadi tempat wahana komedi putar.
__ADS_1
Aku bahagia melihat senyum di bibirnya, jika tersenyum dia sangat mirip mas Hans. Setelah puas bermain komedi putar, ia mengajakku untuk makan katanya dia sudah lapar.
''Mah, kita makan ayam goreng ya?'' katanya dengan manja.
''Baiklah sayang kita makan disana yuk'' kataku menunjuk sebuah gerai makanan khusus ayam goreng.
Dengan semangat Hans berlari kesana tapi di tengah jalan iya berhenti.
''Mama, bukannya itu papa? Kenapa papa jalan tak mengajak Hans? Apa papa tak sayang kita bu?'' tanya Hans menunjuk pada sebuah meja.
Aku melihat mas Hans sedang duduk disana bersama, ibu mertua dan oma.
''Ayah'' Hans berteriak memanggil ayahnya, mas Hans menatap kami dari mejanya, dia tak berkedip memandang kami.
Aku segera menggendong Hans dan pergi dari tempat itu, aku melihat mas Hans mengikuti kami, aku berlari secepat mungkin sambil memesan taksi online, tapi mas Hans ternyata bisa menyusul kami. Dia sudah berdiri di hadapanku aku hanya menunduk mencari kesempatan untuk lari dan saat taksi pesanan sudah tiba aku segera berlari kearah taksi dan menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat itu.
Aku bahkan berbohong pada Hans bahwa tadi itu ayam gorengnya sudah habis besok baru ada. Agar kami bisa menghindar dari mas Hans.
Kami tiba di panti setelah hari sudah sore, aku melangkah masuk kepanti sembari menggendong Hans yang sudah tertidur.
''Dia sangat mirip denganku bukan?'' suara mas Hans terdengar dibelakangku, aku terus berjalan mungkin aku sedang berhalusinasi, karena berharap mas Hans mencariku selama ini. Aku terus melangkah masuk ke panti, saat tiba di depan pintu aku melihat ada ibu mertua, oma dan juga bu Asni.
Ingin menyapa mereka tapi aku harus menidurkan Hans dulu di kamar, dia pasti lelah. Setelah menidurkan Hans aku beranjak keluar kamar kudapati mas Hans berdiri di depan pintu kamarku sambil tersenyum.
Aku hanya menatapnya, kemudian berlalu menuju ruang tamu menemui ibu mertua dan oma. Aku menyalami keduanya, mereka melihatku dengan wajah sendu, aku jadi tidak enak hati pada mereka karena telah menyembunyikan cucu mereka.
''Bagaiman kabarnya bu, oma?'' tanyaku.
''Kami baik nak, bagaiman denganmu'' kata ibu mertua.
''Aku juga baik bu''
''Apa tadi itu anakmu nak? Berapa usianya nak?'' tanya oma.
''Dia putraku, usianya sudah 3 tahun'' jawabku.
Mas Hans terus memandangku, begitu juga oma dan ibu mertua. Jika mereka menanyakan banyak hal lagi aku tidak tahu harus menjawab apa.
Suara tangisan Hans terdengar, dia sudah berdiri di depan pintu kamar sambil menangis.
''Ibu, ayo kita tidur, jangan tinggalkan Hans bu, Hans takut, Hanskan cuma punya ibu'' katanya lirih disela-sela tangisnya.
''Maaf bu, oma, bu Asni saya akan menemani dia tidur karena dia tak bisa ditinggal jika tidur. Selamat malam''.
Aku segera meninggalkan mereka di ruang tamu, aku masuk ke kamar mengunci pintu, kemudian menemani Hans tidur. Sebenarnya hatiku sangat sakit, mengapa mereka baru mencari kami sekarang? Mengapa tidak dari dulu? Apa karena wajah putraku yang mirip ayahnya? Aku menangis dalam diam sambil menemani putraku tidur.
Saat bunyi mobil terdengar meninggalkan pekarangan panti, aku baru keluar dari kamar. Bu Asni yang melihatku langsung memelukku, aku menumpahkan tangisku di pelukannya.
''Bu kenapa mereka datang saat aku dan putraku sudah bahagia tanpa mereka?'' kataku sambil terus terisak.
''Mungkin ini sudah jalan Tuhan nak, agar Hans bisa bertemu ayahnya juga keluarganya'' kata bu Asni.
.
Setelah kedatangan mas Hans aku tak pernah bisa hidup seperti biasa. Aku tidak ingin diganggu lagi oleh mereka, aku meminta ijin bu Asni untuk pindah saja tinggal di kampung lain. Aku tak ingin bertemu dengan mas Hans atau keluarganya, untungnya bu Asni memgijinkanku pergi. Aku mengucapkan banyak terimakasih atas semua bantuannya bahkan rumah yang akan aku tempati adalah rumah bu Asni yang iya tidak tinggali di kampung.
Aku juga berpesan pada bu Asni jika ada yang mencariku, katakan saja bahwa aku sudah kembali ke kampung halamanku. Aku tak ingin orang lain tahu dimana aku dan anakku tinggal apa lagi mas Hans.
Jika saat aku mengandung, masih ada cinta untuk mas Hans, saat putraku lahir cintaku pada mas Hans sudah mulai memudar bahkan saat aku bertemu dengannya tak lagi kurasakan getaran cinta, mungkin rasa di hatiku sudah mati untuknya.
__ADS_1