PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
SINYAL BAHAYA


__ADS_3

Segera aku berangkat ke salah satu bank terdekat, aku harus tiba disana sebelum jam oprasional bank berakhir. Aku berangkat kesana menggunakan sepeda motor bu Ratna, saat tiba di halaman bank, aku tak melihat satupun kendaraan disana. Aku jadi berpikir apakah aku sudah terlambat, namun masih ada beberapa pegawai di dalam sana.


''Hai Pelangi, masuk sini. Kami sudah menunggumu di dalam'' Ucap Sintia sahabatku yang bekerja disini.


''Oh iya, maaf sudah menunggu'' Ucapku seraya ikut masuk kedalam.


Saat tiba di dalam aku melihat sudah tak ada nasabah, hanya tersisa para petugas bank. Aku di persilahkan duduk, kemudian aku mengutarakan kedatanganku. Ternyata mereka sudah akan pulang namun menungguku karena sudah membuat janji tadi. Aku merasa tak enak hati pada mereka, karena aku mereka terlambat pulang. Aku mengambil uang dalam jumlah yang cukup banyak, namun aku tak langsung membawanya pulang melainkan salah satu petugas bank, yaitu sahabatku yang akan menolongku membawanya. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu, namun karena aku naik motor, aku khawatir terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan, jika aku pulang membawa uang banyak mengendarai motor.


Saat tiba di rumah bu Ratna, segera aku masuk ke dalam rumah. Ku lihat Claudy dan bu Ratna sudah menunggu ku di depan pintu masuk.


''Ma, mama dari mana?'' Tanya Claudy.


''Mama habis ada keperluan di luar. Maaf ya, mama ninggalin kamu tadi'' Ucapku.


Claudy merangkulku dan kami masuk ke dalam rumah bu Ratna, bu Ratna hanya tersenyum melihat kami. Aku bersyukur memiliki tetangga seperti bu Ratna, dia sangat baik dan tak segan-segan membantuku jika aku memiliki masalah.


Hari sudah menjelang senja saat aku tiba di rumah bu Ratna, ia segera memintaku dan Claudy untuk makan malam lebih dahulu sebelum nantinya aku mengurus pembayaran para karyawan. Selepas makan Selfi anak bu Ratna mengajak Claudy masuk ke kamarnya, sementara aku dan bu Ratna menunggu sahabatku yang bekerja di bank yang akan membawakan uang yang aku ambil tadi.


''Selamat malam'' Ucap Sintia dari arah pintu. Ia datang bersama seorang laki-laki yang sudah cukup berumur dan saat kuteliti lebih jelas ternyata orang itu om Bram ayahnya Sintia.


''Selamat malam juga'' Ucapku hampir bersamaan dengan bu Ratna. Aku mempersilahkan Sintia dan om Bram duduk di sofa ruang tamu bu Ratna. Bu Ratna beranjak dari duduknya dan tak lama ia kembali dengan nampan berisi teh dan beberapa cemilan.


''Silahkan diminum'' Ucapnya kemudian ikut duduk di sofa. Ayah pernah mengatakan jika ia sahabat dekat dengan om Bram, dan om Bram beserta keluarganya tiap bulan pasti berkunjung ke rumah oleh sebab itu aku mengenal dekat mereka dan bersahabat dengan Sintia.


Kami bercerita banyak hal, sebenarnya aku yang lebih banyak bercerita, namun aku tak mengatakan apapun masalahku saat ini kepada om Bram dan Sintia cukup aku yang tahu. Cukup lama kami berbincang-bincang, hingga akhirnya om Bram dan Sintia pamit pulang. Aku mengantarkan mereka sampai di halaman rumah bu Ratna.


Selepas kepergian mereka, aku dan bu Ratna mengemas uang tersebut kedalam amplop yang sudah aku siapkan. Cukup lelah juga karena harus mengisi 300 buah amplop, tak lama satu persatu karyawan pabrikku datang. Aku memberikan mereka amplop yang telah aku isi dengan sedikit rejeki dan juga gaji mereka untuk bulan ini. Meski ada yang sempat menolaknya namun aku memaksa mereka untuk menerimanya.

__ADS_1


''Bu, ibu lebih butuh uang ini sekarang'' Ucap beberapa karyawanku saat aku berikan amplop.


Aku memang membutuhkan uang untuk sekarang, namun aku juga tak ingin mengorbankan pegawaiku. Meski mereka tak bisa bekerja sekarang, setidaknya mereka bisa hidup selama beberapa minggu sampai mereka memiliki pekerjaan baru.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam saat kami selesai membagikan amplop. Aku juga memberikan satu amplop pada bu Ratna, awalnya ia menolak namun aku tetap memaksanya agar dia mau menerimanya. Aku dan bu Ratna memutuskan untuk istirahat, badanku terasa sangat lelah. Sebenarnya bukan hanya badan, batin dan pikiranku juga lelah karena masalah yang akhir-akhir ini.


Sinar matahari terasa sangat menyilaukan saat aku membuka mataku, aku melihat ke sisi kasur sudah tak ada Claudy di sampingku. Aku segera beranjak turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi kemudian membasuh wajahku dan keluar dari kamar.


Saat membuka pintu kamar, sayup-sayup ku dengar ada suara ribut-ribut dari halaman rumah bu Ratna. Bergegas aku menuju pintu dan saat aku tiba disana betapa terkejutnya aku melihat ada seorang laki-laki yang sedang dipukuli beberapa orang. Bu Ratna menangis tergugu di teras depan rumahnya, sementara Claudy terlihat menenangkan Selfi dalam pelukannya.


Segera kuhampiri mereka, sengaja kubanting mangkok stainless yang ada di meja teras bu Ratna untuk mengalihkan perhatian mereka. Dan benar saja akibat suara yang terlalu keras, mereka segera berhenti memukuli laki-laki yang sudah tersungkur tak berdaya di halaman rumah.


''Ada apa ini? Kenapa kalian memukulinya?'' Tanyaku pada beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu.


Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan, kemudian mereka mendekat kearahku. Otakku bekerja cepat mengirimkan sinyal bahaya, saat seorang dari antara mereka mendekat ke arahku. Meski aku bisa belada diri namun kadang aku tak bisa bergerak jika sedang panik. Aku berusaha setenang mungkin agar mereka tak tahu aku sedang panik, ku atur nafasku agar normal kembali.


''Ada apa melihatku begitu?'' Ucapku seraya menepis tangannya yang ingin menyentuh bahuku.


''Ow.. ow...owww galak banget sih. Jangan galak-galak dong sayang'' Ucapnya lagi ingin memegang pipiku, diiringi gelak tawa teman-temannya.


Segera kutangkap tangannya dan kuplintir kebelakng sampai terdengar suara kreeekkkkkkk, entahlah itu bunyi apa mungkin tangannya patah. Upss, rupanya aku terlalu keras. Ya, begitulah aku jika sedang tak main-main, makanya aku jarang sekali menggunakan teknik bela diri yang aku ketahui, karena terkadang aku tak bisa berlaku halus, hehehe.


''Aarrgghhhhhh! Sakittttt!!'' Ucapnya, refleks aku melepas tangannya. Ia meringis saat aku melepas tangannya dan benar saja tangannya hanya terayun-ayun sepertinya tangannya benar-benar patah.


Teman-temannya terlihat menghampirinya dan berusaha membantunya namun ia menepis tangan teman-temannya. 'Dasar sombong sudah sakit masih sok' Batinku.


''Lihat apa kalian cepat seret dan bawa dia!! Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang!'' Ucapnya pada teman-temannya.

__ADS_1


Teman-temannya melihatku, kemudian dengan senyum menyeringai mereka berjalan mendekat ke arahku.


''Kalian mau apa? Berhenti disana atau kalian bisa celaka'' Ucapku pada mereka karena dalam keadaan terancam otakku tak bisa bekerja hanya anggota tubuhku yang bergerak sendiri. Mereka tak mengindahkan ucapanku, malah menunjukkan senyum mengejek.


Bugh.. bugh... bugh... bugh... Beberapa pukulan dan tendangan melayang kewajah, perut dan area sensitif keempat orang tadi. Mereka terlihat meringis menahan sakit, dimana satu orang diantaranya ternyata sudah tak sadarkan diri.


''Bos, dia bukan wanita dia tarsan yang lepas dari hutan'' Ucap salah satu di antara mereka.


Tak lama terlihat sebuah mobil berhenti dihalaman rumah bu Ratna, seorang pria paru baya keluar dari mobil. Dari penampilannya sepertinya dia bos dari kelima orang yang aku pukuli, namun aku merasa begitu familiar dengan wajahnya. Semakin ia mendekat aku semakin tahu siapa orangnya apalagi saat ia membuka masker yang ia kenakan, Om Bram adalah orangnya.


Ia berjalan ke arah kami dan tanpa di duga ia melayangkan satu tamparan kepada laki-laki yang tangannya terlihat patah.


Plakkk


Suara tamparannya terdengar begitu keras, aku sampai memegangi pipiku sendiri seperti ikut merasakan nyeri.


''Maaf pah'' Ucap laki-laki itu, namun hanya ia abaikan. Ia kemudian berjalan menghampiri pria yang dipukuli oleh kelima orang tadi, saat ia membantunya duduk, aku baru tahu ternyata itu adalah suami bu Ratna. Pantas saja bu Ratna dan Selfi sangat histeris saat pria itu dipukuli.


''Maafkan anak saya pak. Tolong bawa pak Iman kerumah sakit'' Perintahnya pada orang-orang yang ada disana.


''Bawa juga anak bodoh ini'' Ucapnya lagi sambil menunjuk laki-laki yang ku pukuli tadi.


Bu Ratna membantu suaminya untuk masuk ke mobil dan ikut kerumah sakit, sementara Claudy ku minta untuk membawa dan menenangkan selfi di kamarnya.


''Om Bram?'' Ucapku.


''Maafkan anak om ya, sudah bikin kekacauan disini. Om benar-benar malu karena ulahnya. Kalian bawa teman-temn kalian ini dan urus mereka!''

__ADS_1


Keempat orang yang ku pukuli tadi kemudian dibawa oleh beberapa orang kedalam mobil dan mobil pun segera melaju meninggalkan halaman bu Ratna.


__ADS_2