
''Sabar dek, ingat ada putri cantik yang butuh dukunganmu''
Aku mengusap air mataku kemudian berdiri dan memeluk putriku.
''Jangan menangis mah, Audy tidak akan tinggalin mama. Jangan menangis mah nanti aku ikutan sedih'' ucap Claudy mengusap bulir bening yang masih terus lolos dari kedua mataku.
''Udah ah, sedih-sedihnya mending kita istirahat, ingat lho sebentar lagi kamu akan di perkenalkan jadi pemimpin perusahaan ini. Jadi kamu harus jadi wanita kuat'' ucap kak Nisa.
Akhirnya aku ikut menikmati minuman dan kue-kue basah yang sudah di sediakan di atas meja.
''Selamat pagi bu, maaf apa ibu sudah siap untuk kita ke aula? Kegiatan akan segera mulai'' ucap Indah dari ambang pintu.
''Sudah, ayo'' ucap ku kemudian berdiri dan berjalan beriringan dengan Indah menuju ke aula. Sesampainya disana aku melihat begitu banyak orang yang sudah berkumpul.
'Begitu besarkah perusahaan papa ini? Banyak sekali karyawannya' batinku.
''Silahkan masuk bu, ibu langsung menuju ke kursi yang ada di bagian depan, nona Claudy dan bu Nisa bisa ikut saya duduk di bagian samping dari kursi ibu''
''Terimakasih Indah, tolong temani mereka''
''Baik bu''
Dengan langkah pasti aku berjalan menuju kursi yang sudah di sediakan oleh Indah untukku. Meski aku merasa sedikit gugup, namun berusaha aku tutupi dengan senyuman.
''Selamat pagi bapak, ibu dan hadirin sekalian. Hari ini kita di kumpulkan disini untuk menyambut kedatangan pemilik perusahaan tempat kita bekerja. Silahkan ibu Pelangi Wiandra untuk maju ke depan, waktu dan tempat kami serahkan'' ucap seorang staf yang bertugas sebagai pembawa acara hari ini.
Aku menoleh kesamping dimana Claudy, kak Nisa dan Indah duduk, Claudy menganggukkan kepalanya kemudian mengacungkan kedua jari jempolnya. Aku berdiri kemudian di ikuti oleh Indah dari belakang.
''Selamat pagi, terimakasih untuk sambutan yang diberikan kepada saya. Jujur saya tak pernah bermimpi jika saya akan berdiri disini. Terimakasih kepada Tuhan dan kepada mendiang kedua orang tua saya dan terimakasih kepada semua orang yang sudah mendukung saya baik dalam suka maupun duka. Saya juga sangat terimakasih sudah mendapat sambutan hangat dari kalian semua disini, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Mungkin sampai disini saja yang bisa saya sampaikn selebihnya terimakasih untuk semuanya.''
Riuh suara tepuk tangan menggema di seluruh penjuru aula, saat aku selesai berbicara.
__ADS_1
''Terimakasih untuk sambutannya bu Pelangi, sebagai pemimpin baru di perusahaan ini kami bersyukur ibu juga menyambut baik kami semua''
Setelah berbagai kegiatan yang berlangsung cukup lama sekitar dua jam, di akhir acara kami semua menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh karyawan yang bertugas di bidangnya.
Aku cukup bersyukur karena dapat berbaur dengan semua karyawan dan juga mendapat sambutan hangat dari mereka. Aku mencoba mendekatkan diri pada mereka, aku tak ingin ada yang merasa tak pantas saat bersamaku karena bagiku mereka adalah teman-temanku, bukan orang yang harus di pandang rendah meski mereka adalah bawahanku.
Tak ada kegiatan lain selain perkenalan hari ini, setelah acara selesai kami semua kembali pulang ke rumah masih di antar oleh supir yang menjemput kami tadi pagi.
Aku sempat mengajak Indah untuk pulang bersama namun ia menolak dengan alasan mobilnya tak akan ada yang bawa pulang jika aku mengantarkannya. Aku tahu bahwa itu hanya alasannya saja karena segan denganku, padahal aku sudah mengatakan agar menganggap aku sebagai temannya saja.
"Kalau begitu kami pulang duluan ya Indah, hati-hati di jalan" ucapku kemudian masuk ke mobil.
"Iya bu, hati-hati di jalan bu" ucapnya.
Ditengah perjalanan aku meminta pak Supir untuk singgah sejenak di sebuah supermarket, aku ingin membeli beberapa bahan makanan karena kebetulan stok makanan di rumah sudah habis.
"Pak, kita singgah di supermarket sebentar boleh?" Tanyaku.
"Tentu bu"
Cukup lama kami berada di dalam supermarket, biasalah, namanya juga ibu-ibu pasti selalu mencari yang murah meski beda seribu tetap mencari yang murah, begitulah sifat ibu-ibu kalau sedang belanja hehehehe.
"Ada lagi yang mau kamu beli nak?"
"Sudah bu, ini semua sudah cukup, aku juga sudah membeli beberapa buku baru untuk aku pakai mendaftar di sekolah baru nanti"
"Baiklah, ayo kita bayar di kasir"
Aku mendorong troli belanja ke arah kasir, namun tak jauh dari sana aku melihat pak Philip dan mas Hans juga sedang berbelanja. Aku segera memanggil kak Nisa kemudian memberikan troli dan uang untuk membayar belanjaan padanya, segera aku menarik Claudy keluar dari dalam supermarket dan bersembunyi di dalam mobil.
"Pak bisa tolong bantu kak Nisa di dalam di kasir, dan jika ada yang bertanya tentang saya jangan bilang kami ada disini"
__ADS_1
"Baik bu"
Pak Yus segera berlalu masuk ke dalam area supermarket tak lama ia keluar dengan mendorong satu troli penuh belanjaan di ikuti kak Nisa di belakangnya.
Setelah selesai memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi, pak Yus membawa troli kembali ke tempat penyimpanan. Saat hendak kembali ke mobil, tiba-tiba pak Yus berpapasan dengan mas Hans dan pak Philip.
Terlihat mereka berjabat tangan kemudian berbincang-bincang entah apa yang mereka bicarakan. Aku berharap pak Yus tak mengatakan bahwa aku yang ia antar kesini, sebab beberapa kali mas Hans terlihat menoleh ke arah mobil kami.
"Mah, itu bukannya papa ya?" Tanya Claudy.
"Iya nak"
"Koq papa bisa kenal sama pak Yus"
"Mungkin karena pak Yus sudah lama bekerja di perusahaan nak, perusahaan papa kamu itu anak perusahaan dari perusahaan kita"
"Maksudnya perusahaan papa itu milik perusahaan kita juga"
"Bisa di bilang begitu nak"
"Maaf bu, sudah menunggu lama tadi saya berbicara dengan pemimpin perusahaan di salah satu anak perusahaan kita, tak enak hati juga jika meninggalkan mereka" ucap pak Yus saat masuk ke dalam mobil.
"Tidak apa-apa pak. Oh iya apa mereka menanyakan kami karena tadi saya sempat melihat mereka melihat ke arah mobil kita"
"Mereka bertanya sedang apa saya disini bu, jadi saya jawab saya sedang mengantarkan bos saya belanja bu. Katanya beliau titip salam sama ibu dan keluarga"
'Andai saja kamu tahu mas, kalau kami yang ada dimobil ini pasti mas akan marah-marah' batinku.
"Ayo pak kita pulang"
"Baik bu"
__ADS_1
Mobil perlahan berjalan melewati jalan-jalan besar dengan bangunan tinggi di sisi kiri dan kanannya, hingga akhirnya kami tiba gerbang perumahan. Kami menunjukkan kartu pengenal khusus yang diberikan pada setiap pemilik rumah disini, tak sembarang orang bisa masuk ke perumahan ini hanya bagi yang memiliki kartu khusus.
"Terimakasih pak" ucapku pada satpam perumahan setelah selesai melakukan pemeriksaan data.