
Aku terbangun pukul 2 pagi, karena aku mendengar suara orang merintih kesakitan. Kubuka mataku perlahan, kulihat mas Hans sedang memegangi kakinya yang terluka, aku segera bangun dari tempatku dan kudekati mas Hans.
Kutuang air kedalam gelas, kuberikan pada mas Hans.
''Mas, apa kaki mas sakit sekali? Apa kita harus ke dokter besok?'' tanyaku karena khawatir padanya.
''Mas, tidak apa-apa sayang. Kamu istirahatlah mas baik-baik saja'' kata mas Hans.
''Tapi mas, aku khawatir sama mas. Apa yang bisa aku lakukan mas, agar rasa nyerinya agak hilang''
''Apa mas bisa berbaring dipangkuanmu'' kata mas Hans sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
Aku tak tega melihat mas Hans kesakitan, aku mengiyakan saja permintaannya.
Aku duduk diatas kasur, kuluruskan kakiku, mas Hans membaringkan kepalanya diatas pahaku. Ku usap-usap kepala mas Hans berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakit pada kakinya.
''Mas tidurlah, aku akan menjaga mas'' kataku terus mengelus kepalanya.
Mas Hans mendongakkan kepalanya, dia tersenyum menatapku.
''Jangan pernah pergi dari hidup mas sayang, mas sangat mencintaimu dan anak kita'' katanya.
''Mas, tidurlah biar rasa nyerinya sedikit hilang'' kataku.
''Baiklah mas akan tidur'' kata mas Hans. Aku yang tidak siap akan terjadi apa-apa, kaget saat tangan mas Hans tiba-tiba terangkat, menundukkan kepalaku dan menciumku.Aku jadi tersipu malu karenanya, mungkin apa kata mas Hans benar bahwa aku sebenarnya masih sangat mencintainya, aku bahkan sudah mulai tersipu malu saat bersamanya seperti dulu.
Perlahan mata mas Hans mulai tertutup, tetap ku usap kepalanya sampai terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Kupindahkan perlahan kepala mas Hans ke atas bantal. Saat hendak kembali ke tempatku tidur, mas Hans terdengar sedang mengigau sambil menangis.
''Sayang kamu jangan tinggalkan mas, mas minta maaf sayang. Pelangi jika kamu tinggalkan mas lebih baik mas mati saja, tidak ada gunanya mas hidup tanpamu dan buah cinta kita'' katanya sambil terus terisak.
Ku usap perlahan air matanya dan ternyata air mata juga menetes di pipiku. Segera kusapu air mataku kemudian ikut tertidur di sampingnya.
.
__ADS_1
''Sayang'' kudengar suara mas Hans.
Kubuka mataku perlahan ternyata mata hari sudah tinggi. Mas Hans duduk disampingku dengan rambut yang sudah basah dan bajunya juga sudah bukan yang ia pakai semalam.
''Mas ini jam berapa?'' kataku.
''Ini sudah jam 9 sayang, kamu bangun sarapan dulu mas dan Hans sudah masak'' katanya sambil menatap anak kami yang menganggukkan kepala.
Aku ingin cepat-cepat bangun tapi rasanya kepalaku sangat sakit. Mungkin ini karena semalam aku terus saja menangis, hatiku sangat sakit melihat mas Hans terluka.
''Maaf, mas boleh aku tidur lagi? Kepalaku agak berat dan perutku keram lagi'' kataku.
''Istirahatlah sayang, tapi kamu harus makan dulu'' kata mas Hans sambil datang membawakan sepiring nasi dan sayur bening.
Aku memakan sarapan yang dibawa mas Hans, aku disuapi mas Hans sementara anak kami duduk disampingku sambil memgelus-elus perutku.
''Apa perut mama sakit lagi?'' tanya putraku.
''Iya sayang, kamu jangan nakal ya'' kataku.
''Iya mama, mama harus cepat sembuh'' katanya yang mulai menangis.
.
Kubuka mataku perlahan, aku tersentak kaget melihat tubuhku yang sudah dipenuhi alat-alat medis. Kulihat mas Hans menangis disamping tempat tidur rumah sakit sambil menggendong putra kami.
Rasanya aku sudah berusaha berteriak memanggil mereka berdua tapi mereka tak mendengar teriakanku atau mungkin suaraku yang tak keluar.
Aku didorong masuk ke sebuah ruangan, kulihat ada lampu besar di atas tempatku tidur. Tak kudapti lagi mas Hans dan putraku disana hanya ada orang-orang berpakaian warna hijau.
Seorang dari mereka menghampiriku, menyuntikkan obat kedalam cairan infus yang sudah terpasang ditanganku. Tak lama aku tak melihat apapun lagi.
''Sayang, kamu sudah bangun?'' terdengar suara mas Hans memanggilku.
Kucoba membuka mataku, tapi rasanya kepalaku pusing sekali.
__ADS_1
''Kalau kamu masih pusing tidurlah dulu, aku akan membawa Hans mencari makan siang, kasian dia belum makan. Ada Indra yang akan menjagamu'' katanya lagi.
''Mama, aku cari makan dulu sama papa nanti aku belikan mama bakso jadi mama harus sehat biar bisa makan bakso. Papa nanti kita belikan mama bakso ya?'' kata putraku.
.
Kubuka mataku perlahan, kulihat ada Indra sedang duduk di sofa di sudut ruangan. Rasanya aku ingin minum tenggorokanku terasa sangat kering.
''Ndra, bisa tolong ambilkan saya air'' kataku dengan lemah karena kepalaku masih agak pusing.
''Nyonya, ingin minum?'' kata Indra.
''Iya'' jawabku.
Indra membuka air mineral yang ada di atas meja kemudian memberikan sedotan. Aku minum hampir setengah botol air mineral. Tak lama pintu ruangan terbuka lagi, kulirik sekilas ternyata mas Hans dan putra kami yang datang.
Segera mereka berdua menghampiriku. Mas Hans mengecup keningku kemudian mengusap lembut kepalaku sambil tersenyum. Kulihat putra kami datang membawa kue bolu coklat ditangannya.
''Ma, tadi Hans liat kue ini jadi Hans belikan untuk mama, mamakan suka sama bolu coklat.Tidak ada bakso disana ma, kata abang penjualnya sudah habis. Nanti kalau sudah ada lagi, baru Hans belikan mama ya'' kata putraku mendekat ke arahku dan memberikan bolu yang dibawahnya.
''Terimakasih sayang'' kataku mengusap kepalanya pelan.
''Mas, kita dimana sekarang kenapa kita dirumah sakit'' kataku heran. Karena seingatku tadi aku tidur di rumah setelah sarapan.
''Kita sudah ada di kota lagi sayang, mas membawamu kerumah sakit ini karena mas khawatir'' kata mas Hans denga mata yang berkaca-kaca.
''Tapi, aku tidak apa-apa mas, aku cuma ngantuk dan agak pusing saja tadi sehabis sarapan, jadi aku tidur lagi. Mas tidak usah khawatir aku tak apa-apa'' kataku.
''Tidak apa-apa bagaimana sayang, sudah dua minggu kamu tidak sadarkan diri sayang. Aku dan Hans sangat takut melihat kondisi kamu saat kita disana. Sehabis sarapan 2 minggu lalu, kamu tidur, tapi tiba-tiba darah mengalir ditempat kamu tidur sayang. Aku dan Hans panik segera kuhubungi om Andre dan tak lama om datang dengan mobil ambulans dan beberapa tenaga medis. Kamu mas bawa kerumah sakit, dokter disana bilang kamu harus ditangani oleh dokter ahli, maafkan mas,mas membawamu kesini tanpa minta ijin dulu. Tapi mas sangat khawatir saat itu, jadi mas langsung minta surat rujukan dari sana dan membawamu kemari dengan menggunakan pesawat agar kita lebih cepat sampai'' kata mas Hans panjang lebar menjelaskan semua yang terjadi.
Mataku membulat seutuhnya, aku kira baru tadi pagi aku tidur dan bangun siang ini tapi ternyata aku ada dirumah sakit, ternyata aku sudah tidur selama 2 minggu.
''Kamu jangan khawatir sayang aku akan menjagamu disini'' kata mas Hans.
''Aku juga akan menjaga mama disini'' kata putra kami.
__ADS_1
''Indra, kamu pulanglah dan istrahat nanti kamu bisa sakit, kami yang akan menjaga istriku disini. Sebentar lagi ibu dan oma juga datang'' kata mas Hans.
Indra kemudian pamit untuk istirahat, aku hanya mengangguk tak tahu harus apa dan juga masih bingung dengan yang terjadi.