
Air mata bu Dita terus mengalir mendengar penuturan dari bu Asih. Mungkin dia mengingat kembali kejadian kelam itu, dimana ia disiksa dan dipisahkan dari anak-anknya.
Bi Asih menghampiri ketiga anak-anak bu Dita membawa ketiganya dihadapan bu Dita. Bu Dita memegang wajah ketiga anaknya secara bergantian dan air matanya terus saja mengalir. Sementara ayah mertua tetap membeku ditempatnya.
''Tuaaaaaaaaann''
Teriakan pak Zul membuat semua orang melihat ke arah ayah mertua. Ya Tuhan, ayah mertua tak sadarkan diri, lekas pak Zul dan beberapa orang disana membawanya masuk, di ikuti anak-anaknya. Ayah mertua ditidurkan di atas sofa diruang tamu terlihat jelas dari luar, kak Lia segera mengambil minyak kayu putih kemudian digosokkan pada pelipis dan dada sang ayah.
Aku,bu Dita dan Claudy masih berada di luar rumah, kami tak ikut masuk sebab tak ada yang menyuruh kami masuk, kami tak ingin lancang masuk kesana.
''Pergi kalian bertiga, karena kalian ayah saya sakit dan kamu ibu tua jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Kamu bukan ibu kami, mama Rena adalah ibu kami''
Kak Lia berteriak dan menunjuk-nunjuk wajah bu Dita,tak lama iya melirik sinis ke arahku.
''Dan kamu perempuan miskin, jangan kembali lagi kemari, bawa anak dari selingkuhanmu itu pergi dari sini''
Tes
Air mataku mengalir deras tanpa bisa ku tahan lagi, kata-kata kak Lia bagaikan pedang yang menancap tepat didalam hatiku. Rasa sesak di dada membuatku tak dapat mengatakan apa-apa.
Bu Dita menggenggam tanganku erat-erat, kami berdua berderai air mata.
''Nak, sebaiknya kita pergi dari sini, tak ada yang menginginkan kita disini''
Aku mengangguk dan kami kembali ke atas mobil. Saat membuka pintu mobil aku kembali melihat rumah itu sejenak tapi tak ada siapapun yang keluar dari sana selain kak Lia, padahal aku berharap mas Hans akan keluar dan melihatku.
''Apa lagi yang kalian tunggu cepat pergi dari sini dan jangan pernah bermimpi untuk bisa kembali lagi kesini. Kalian bukan siapa-siapa bagi kami disini, cepat bawa pergi anak haram itu dari sini, jangan harap Hans akan menerimanya''
__ADS_1
Setelah kami sudah duduk diatas mobil, pak Beni segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mewah itu. Dalam mobil tangisku dan bu Dita saling bersahut-sahutan.
''Bu, tadi ada telpon dari kantor polisi, apa kita kesana sekarang?'' Pak Beni membuka suara setelah kami lama terdiam karena lelah setelah menangis.
''Iya pak''
Mobil melaju melewati padatnya jalanan kota ini, 35 menit kami sudah tiba dikantor polisi. Kami langsung menuju keruangan yang akan mempertemukan kami dengan para tersangka.
Rasa takut dan trauma masih bersarang didalam hatiku, detik-detik memyeramkan itu masih terekam jelas dalam ingatanku, sementara bu Dita tampak lebih tenang.
Kami masuk ke sebuah ruangan dimana ada 1 meja dan empat kursi, dua kursi untukku dan dua lagi untuk bu Rena dan Sandra. Kursi untuk kami dan untuk mereka dibatasi jeruji besi.
Tak lama bu Rena dan Sandra datang menghampiri kami dengan dikawal oleh dua orang polisi wanita. Kami tak langsung memperlihatkan wajah kami sengaja agar mereka terkejut saat melihat aku dan bu Dita.
''Silahkan duduk bu Rena dan bu Sandra''
Polisi wanita itu kemudian meninggalkan keduanya dengan masing-masing satu tangan terborgol pada sebuah tiang besi.
Petugas polisi kemudian meninggalkan kami berempat didalam ruangan tersebut setelah mematiskan kami aman. Sementara Claudy sedang ada di kantin kantor polisi ini bersama pak Beni. Sengaja aku tak membawanya ikut keruangan ini, agar dia tak terganggu, karena bisa saja pembicaraan kami akan diwarnai adu mulut. Aku yakin bu Rena ataupun Sandra pasti akan memaki-maki aku dan bu Dita.
''Kalian siapa? Ada masalah apa kalian dengan kami? Kenapa kalian melaporkan kami dan juga kenapa kalian ingin bertemu dengan kami''
Aku dan bu Dita tak bergeming saat Sandra mulai berbicara, kami masi pada posisi semula membelakangi mereka berdua.
''Heh!! Kalian punya kuping ngak? Kita itu bicara sama kalian, apa kalian tak takut pada kami sehingga mau bertemu, apa kalian tak takut jika kami membunuh kalian. Pasti kalian tak tahu bahwa kami adalah orang-orang yang suka membunuh. Kalian tak tahu kami disini karena sudah membunuh dua orang, apa kalian mau jadi korban selanjutnya?''
Aku mencoba berbicara, tapi aku tak menggunakan suara asli.
__ADS_1
''Kami tak takut, emang siapa yang kalian bunuh? Jangan-jangan kalian cuma penipu agar kami takut pada kalian'' Kataku tentunya dengan suara yang agak berbeda.
''Kamu pandang enteng kami, kamu tahu pak Badai. Seorang pengusaha kaya raya itu, aku dan ibuku telah membunuh ibu kandungnya dan membuangnya kejurang, sementara istrinya aku dan keponakanku sudah menyingkirkannya dia sudah aku bakar bersama bayinya didalam mobil. Hahahahaha aku sangat bahagia melihat ketiga orang itu mati dan kami berdua bisa menggantikan posisinya dirumah mewah itu''
Yes, kata-kata Sandra dan bu Rena tadi tanpa sepengetahuan orang lain bahkan bu Dita, sudah aku rekam dengan ponsel dan juga ada kamera kecil yang aku letakkan di atas meja didalam saku tas Claudy. Aku yakin kami akan membutuhkan bukti ini saat persidangan nanti. Aku menggenggam erat tangan bu Dita kemudian kami membalikkan badan bersamaan.
Kedua orang yang ada dihadapan kami wajahnya langsung pucat pasi, tak ada lagu raut kesombongan seperti saat berkata-kata tadi. Bu Rena dan Sandra terlihat sangat ketakutan melihat kami berdua, jelaslah mereka takut, dalam pikiran mereka kami berdua sudah meninggal.
''Ka..ka..kal..kalian'' Kata bu Rena tergagap.
''Hallo Rena, senang bertemu denganmu setelah tiga puluh tahun lebih. Aku suka melihat ekspresimu sekarang, mungkin kau juga ingat bagaimana ekspresiku saat aku meminta belas kasihan padamu dan ibumu dulu. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana ketakutakannya aku waktu itu, aku rasa seperti dirimu saat ini. Kamu pasti tak menyangka bahwa kita akan bertemu lagi bukan?''
Bu Dita berbicara dengan tenang sambil terus menatap tajam ke arah bu Rena dan Sandra. Sandra bahkan tak berkedip memandangku. Hehehe habis kamu Sandra.
''Hahahaha, kamu masih hidup toh. Tapi kamu jangan senang dulu, meskipun kamu sudah kembali tak akan ada yang mau memerimamu lagi disana. Semua orang sudah membencimu. Lagian suami dan anak-anakmu sangat menyanyangiku, aku yakin dengan uang yang mereka miliki kami akan segera bebas dari sini. Meskipun kamu yang melaporkan kami, kau tak akan menang melawan suamiku. Aku tahu kau orang yang tak punya apa-apa, harta orang tuamu bahkan sudah aku dan ibuku jual semua. Kau dan menantumu yang duduk di sampingmu itu sama-sama miskin, jadi kalian tak usah berharap akan menang melawan kami hahaha'' Kata bu Rena.
''Benar bu, pasti ayah dan mas Hans akan membebaskan kita'' Timpal Sandra.
''Aku tak takut, oh ya, sampai jumpa di pengadilan sayang?''
Kata bu Dita kemudian menarik tanganku dan berlalu meninggalkan dua orang itu. Aku salut bu Dita begitu santai, mampu berbicara pada bu Rena sementara aku lidahku kelu tak tahu harus mengatakan apa. Kami pulang ke apartemen setelah dari kantor polisi, kami lelah fisik juga pikiran.
.
Dua minggu setelah penangkapan, sidang pertama dilaksanakan. Kasus bu Dita, didahulukan baru setelahnya dilanjutkan dengan kasusku.
Suasana ruang sidang terasa begitu panas dan sesak. Aku melihat semua keluarga mas Hans, mereka semua tak ada yang berpihak padaku dan bu Dita. Kak Lia memberi kami tatapan tajam selama persidangan, bahkan terjadi adu mulut antara ia dan pengacara kami. Sementara kami hanya didampingi oleh pengacara, sesekali aku melirik ke arah mas Hans begitupun dia. Claudy sangat senang melihat ayahnya namun saat mas Hans tahu Claudy sedang menatapnya dia langsung membuang muka.
__ADS_1
'Sebegitu bencinya kamu sama anakmu mas, hanya karena hasutan dua orang jahat itu. Yang bahkan ingin membunuhku, anakmu dan ibumu' Batinku.
Saat persidangan selesai, kami langsung kembali ke apartemen lagi. Rasa kantuk datang dengan cepat, rasanya kami sangat lelah hari ini.