
Semakin mendekat ke arah peti, rasa sesak dan sakit semakin terasa di dalam dada. Kak Nisa terus memegang bahuku hingga kami tiba di samping peti. Ku coba menatap siapakah gerangan yang terbaring didalam peti mati itu, sampai hatiku seperti tak rela kehilangannya.
Deg
Jantungku seperti berhenti berdetak saat kutatap wajah teduh yang sedang terbaring didalam sana. Dunia serasa kosong, langit seakan runtuh menimpaku dan aku tak dapat untuk bangkit kembali. Mataku dipenuhi kabut yang sangat tebal sehingga menghalangi pandanganku untuk bisa melihat jelas dan memastikan jika aku hanya salah melihat saja.
Ku usap dengan kasar air mataku, kucoba kembali menatap wajah teduh itu, dan hatiku kembali tersayat-sayat. Ku usap wajahnya, dan kucoba untuk membuatnya membuka mata, ku panggil-panggil namanya namun tak ada sahutan darinya. Hatiku masih melawan kenyataan saat ini, tak ada kepercayaan dalam hatiku, jika ia telah pergi meninggalkanku.
Aku beralih memandang pria yang berdiri disamping peti, berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat, dalam hati berharap dia adalah laki-laki yang aku cintai bukan yang ada di dalam peti itu.
''Kak Robin, siapa yang ada di dalam peti itu? Kenapa kalian begitu mirip dan kenapa aku begitu sakit kehilangan dirinya? Tolong katakan sesuatu kak, bicaralah padaku, jangan diam seperti ini. Huhuhuhuhuhu......'' Kataku sambil menangis.
Tak ada jawaban dari pria itu, dia hanya terus menangis sambil mengusap kepala pria yang ada di dalam peti.
''Kamu harus sabar nak, Tuhan lebih sayang pada Robin. Dia sudah bahagia bersama bapa di sorga'' Kata om Jordi.
__ADS_1
''Jangan bilang begitu om, kak Robin tidak mungkin ninggalin aku, dia sudah janji akan selalu menjagaku dan Claudy. Kak Robin tak mungkin ingkar janji padaku, aku tahu dia akan kembali. Sebentar lagi kami akan menikah, dia sedang ada bersamaku, benarkan kak Robin?''
Pria yang ku kira kak Robin melepas pelukanku, kemudian memandangku beruari air mata.
''Kamu harus iklaskan Robin, dia sudah pergi meninggalkan kita semua. Dia takkan bisa kembali lagi pada kita semua, aku harap kamu bisa menerima ini semua. Robin akan sangat sedih jika ia melihatmu seperti ini. Aku bukan Robin, aku Roni saudara kembar Robin''
Apa lagi ini Tuhan? Jika ia bukan kak Robin, berarti pria yang ada di dalam peti itu adalah kak Robin. Aku takkan sanggup iika itu benar-benar terjadi Tuhan, apa yang akan aku lakukan tanpanya? Kenapa semua harus seperti ini Tuhan, aku belum siap kehilangannya.
Kudekati lagi peti itu, kucoba menguatkan hati untuk menerima kenyataan ini. Namun apalah daya, aku tak bisa kuat seperti bayanganku, aku memandang lekat-lekat pria didalam peti itu, menelisik setiap inci diwajahnya berharap dia bukan kak Robin. Namun takdir berkata yang lain, di bagian kepala pria dalam peti itu tertulis jelas nama orang yang ada di dalam peti itu *ROBIN JOSEFIN*. Terduduk lemas di samping peti kak Robin, tak mampu menahan rasa sesak di dalam dada. Tak ada satu katapun yang bisa aku ucapakan, mulutku terasa terkunci terkatup sempurna, hanya mampu menangis dalam diam, hanya air mata yang terus berlomba-lomba keluar membasahi kedua pipiku.
Kuraih tangan yang sudah tak hangat lagi, ku genggam erat-erat, kicium berkali-kali berharap sang pemilik segera membuka matanya dan tersenyum kepadaku. Tak puas karena tak ada respon kuraih tubuhnya dan kubawa dalam pelukanku, berharap hangat dari tubuhku bisa membuat tubuhnya kembli menghangat. Lagi-lagi sang pemilik hanya diam membeku tak membalas pelukanku, ku lepas pelukan dan berbalik membelakanginya.
Kubalik lagi badanku menghadap peti mati, bagai orang yang tak punya akal lagi, aku kembali memeluknya, kusandarkan keplaku di dada bidangnya. Tak ada lagi degup jantung yang terdengar, tak ada lagi usapan lembut dikepalaku jika aku sedang menagis, tak ada lagi kata-kata penenang saat aku bersedih.
Ku dongakkan kepalaku, ku usap lembut pipinya dengan kepala masih menempel di dadanya.
__ADS_1
''Apa ini kak? Apa kakak juga membenciku hingga kakak meninggalkan aku juga? Apa kakak lupa dengan janji kakak padaku? Apa kakak tidak sayang padaku? Kenapa kakak lakukan ini semua padaku? Bukankah kakak janji akan membuat hidupku bahagia? Lalu apa yang kakak lakukan sekarang? Aku tak bahagia kak, aku akan menderita jika kakak berbuat seperti ini padaku. Bangun kak tolong bangun, jika kakak tak suka padaku aku akan pergi dari hidup kakak yang penting kakak harus bangun dulu. Apa kakak lupa juga dengan janji kakak pada Claudy? Liat kak dia sangat sedih, apa kakak tidak mau jadi ayah Claudy lagi? Tak apa jika kakak tak mau juga, tapi tolong bangun kak huhuhu..... Kakak harus bangun, kakak sudah berjanji padaku, Claudy, juga bu Dita kalau kakak akan menjaga kami semua. Sebentar lagi kita akan menikah, kalau kakak mau hari ini juga kita akan menikah kak huhuhuhu... bangun kak huhuhu...........''
''Sudah nak, iklaskan dia, jangan buat dirimu seperti ini nak. Dia sangat mencintaimu nak, jangan katakan seperti itu'' Om Jordi berusaha melepaskan pelukanku, namun entah dapat kekuatan dari mana tenanganya tak mampu melepaskan pelukanku pada kak Robin.
''Jangan bohong om, jika ia cinta padaku tak mungkin ia pergi meninggalkan aku om. Dia sudah berjanji padaku, tapi ia juga sudah mengingkarinya huhuhu......''
''Sudahlah nak, kamu harus sabar ini semua sudah kehendak Tuhan, kita tak bisa berbuat apa-apa'' Bu Dita mengusap kepalaku.
''Tidak bu, kak Robin akan bangun. Dia juga sudah berjanji pada ibu kalau dia akan kembali bukan? Tapi kenapa dia kembali dalam keadaan seperti ini bu? Huhuhu waaaa.......huuuuuuu...waaaa.....huuuuuuu''
Tangisku pecah seketika, tak mampu lagi kutahan. Tak dapat lagi kurasakan genggaman hangat dari tangannya, meski beberapa kali ku coba menggosok telapak tangannya namun tetap tak berubah warna, juga tetap dingin. Kucoba melepas perlahan pelukanku namun tangannya tetap ku genggam erat, kupandangi cincin pertunangan yang masih melekat di jarinya. Hilang sudah harapan indah yang sudah kami susun sedemikian rupa, harapan untuk menjalani kehidupan baru dengan penuh dengan kebahagiaan. Kini harapan itu tinggal angan-angan saja, terbawa angin jauh entah sampai dimana.
''Nak, Robin harus diamandikan dahulu bisa kamu lepaskan tangannya?'' Kata seorang petugas polisi.
''Untuk apa pak, kak Robin bisa koq mandi sendiri, benarkan kak? Ayo jawab dong kak, liat bapak-bapak itu mau mandiin kamu? Apa kakak tidak malu sudah besar mau di mandiin lagi?'' Masih ku genggam erat tangan kak Robin tak ingin aku lepaskan.
__ADS_1
''Baiklah nak, kami tak akan memandikan Robin. Bisa kamu ke kamar Robin dulu, ambilkan handuknya disana. Nanti dia dingin kalau tak pakai handuk habis mandi'' Kata petugas polisi itu lagi.
Akupun menurut, masuk ke kamar kak Robin di antar kak Nisa. Saat memasuki kamar, aku melihat begitu banyak fotoku dan foto kami bersama yang tergantung indah pada dinding-dinding kamar dan juga diatas meja. Kak Nisa menuntunku duduk di atas ranjang kak Robin dan memberiku sebuah buku diary dan sepucuk surat. Yang pertama aku buka ialah surat dari kak Robin, isinya membuatku sangat bahagia juga sedih.