
Tetot......
Tetot.........
Tetot.....
Tetot.....
aku terbangun saat mendengar suara klakson abang penjual sayur yang lewat setiap jam 7 pagi. Belum sadar sepenuhnya aku berjalan kearah jendela menyibak sedikit tirai pada jendela, ku lihat sudah ramai ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur mayur.
''sudah jam berapa ini?''
kataku sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal karna sinar matahari terasa sudah sangat menusuk mataku menembus jendela, aku bergegas ke arah meja mengambil ponsel hendak melihat jam. Alangkah terkejutnya aku mendapati ponselku mati dan aku baru ingat ternyata semalam ponselku aku nonaktifkan pantas saja aku tidak mendengar alaram.
Segera kunyalakan ponsel, bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar dari kamar mandi secepat mungkin aku bersiap untuk berangkat kerja karena jam sudah menunjukkan pukul 7:45 pagi. Aku bergegas keluar kamar tak lupa mengunci pintu kemudian pamit pada ibu kos yang kebetulan sedang berbelanja sayur.
''selamat pagi ibu, saya pamit mau berangkat kerja''
''hati-hati di jalan nak dan selamat bekerja'' jawabnya
aku hanya tersenyum kemudian berjalan setengah berlari ke arah restoran karena biasanya aku sudah tiba di restoran sebelum jam 8 pagi.
.
.
''selamat pagi teman-teman'' sapaku pada teman-teman pekerja kemudian berlalu dan karena terburu-buru aku tidak sengaja menabrak pak albert, menejer di tempatku bekerja
''selamat pagi pak, ma..maaf saya tidak melihat bapak'' kataku karena tak enak hati sudah menabrak dirinya, sementara pak albert sendiri hanya tersenyum dan berlalu tanpa mengucapkan satu katapun.
Hari ini terasa cukup melelahkan karena lumayan banyak pelanggan hari ini, juga ada pesanan makanan dari sebuah perusahaan. Meski harus lembur sampai jam 6 tapi semua terbayar karena pak albert memberikan kami uang bonus saat hendak pulang.
Tuhan aku sangat bersyukur atas berkat yang tersedia bagiku hari ini. Selain uang bonus kami juga mendapat nasi kotak 3 kotak setiap orang. Karena aku hanya tinggal sendiri aku memutuskan untuk menyimpan satu kotak saja dan yang dua kotak aku berikan kepada ibu kos.
.
.
Setibanya di kamar aku memutuskan untuk membersihkan diri dahulu sebelum aku ke rumah ibu kos. Setelah membersihkan diri aku beranjak ke rumah ibu kos tak lupa aku membawa kotak bekal yang diberikan anak ibu kos kemarin malam saat memberiku makan malam.
tok..tok..tok...
''selamat sore'' sapaku, akan tetapi 3 menit menunggu tidak ada suara ku coba mengetuk lagi pintunya
tok..tok..tok...
__ADS_1
''permisi, selamat sore'' kataku lagi namun juga tidak ada jawaban, aku berpikir mungkin sedang tidak ada orang dirumah. Ketika hendak berbalik aku baru menyadari di tembok samping pintu rumah ibu kos ada bel
''hehehe dasar orang udik kampungan kamu pelangi'' gumamku sambil tertawa kecil dan menekan bel dan benar saja cukup satu kali aku tekan kemudian ada suara orang sedang berjalan mendekati pintu.
ceklek...
krieett...
dan pintupun terbuka, dibuka oleh seorang gadis kecil sambil memamerkan senyumannya
''hallo kakak manis, ada apa? Ibu sedang memasak di dapur. Silahkan masuk kakak manis'' katanya kemudian berlalu dan duduk di sebuah sofa menwpuk-nepukkan tangannya
''duduklah disini kakak manis aku akan panggilkan ibu'' kemudian iya berlalu untuk memanggil ibunya. Aku melihat rumah ibu kosku yang sangat bagus dan nyaman. Banyak hiasan dan pernak pernik yang indah didalam rumahnya juga foto-foto keluarganya yang tersusun indah diatas meja-meja dan juga tergantung di diding. Belum habis kekagumanku suara ibu kos mengagetkanku
''selamat malam nak, ada yang bisa ibu bantu?'' kata ibu kos
''selamat malam ibu, saya ada sedikit rejeki dari restoran tadi, saya ingin berbagi dengan ibu''
''trimakasih nak, tapi apa kamu juga punya nak?''jawabnya dengan wajah penuh rasa khawatir
''ada bu, saya juga punya satu''jawabku dan seketika raut wajahnya berubah berseri kembali.
''saya pamit bu, saya mau makan malam juga kemudian istirahat''
.
.
''ayah, ibu, mbok serly, aku rindu kalian''
TES
air mataku menetes seketika melihat foto ketiga orang yang aku sayangi. Tidak banyak kenangan yang aku ingat bersama ayah dan ibuku karena aku masih kecil dan belum mengerti apa-apa saat mereka tiada. Bulir-bulir bening seketika lolos dari sudut mataku dan mengalir deras dipipiku hingga membasahi bantal yang aku kenakan.
''huhuhu....hu...'' air mataku terus saja mengalir, meski aku sudah berusaha menahannya entah kenapa ia terus saja lolos dari mataku.
Kupandangi lekat-lekat wajah mereka bertiga pada foto yang aku genggam, seketika aku menghapus air mataku
''ibu, ayah, mbok, aku akan jadi orang yang berguna dan bisa membuat kalian bangga'' ku ucapakan kata-kata itu sambil memeluk foto ketiga orang yang aku sayangi.
Tak terasa malam kian beranjak kuraih ponselku yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kuletakkan foto ketiganya diatas meja samping kasurku kemudian berdoa dan beranjak tidur. Tak lupa aku menyetel alaram pada ponselku hingga aku tidak terlambat lagi bangun besok pagi.
Tring....
Tring....
__ADS_1
Tring....
Aku terbangun saat mendengar suara alaram dari ponselku segera aku berdoa kemudian merapikan tempat tidur, bergegas mandi kemudian membuka pintu kamar agar udara segar dan sinar matahari bisa masuk kedalam kamarku.
''selamat pagi'' sapa seorang perempuan dari sisi kanan kamarku
''selamat pagi juga'' kataku sambil tersenyum, aku duduk di kursi yang ada di depan kamarku sambil menikmati sinar matahari.
Kring...
Kring.....
Kring.....
terdengar suara telpon dari dalam kamar aku beranjak untuk mengambil ponsel, ku lihat bi ratna yang menelpon. Dengan segera aku menerima panggilan dari bibiku
''halo pelangi ini bibi'' katanya dari ujung telpon
''halo juga bibi, apa kabar bibi?''jawabku
''sombong ya kamu sekarang, katanya kamu sudah bekerja, apa kamu lupa kalau kamu punya bibi di kampung? Kenapa tidak beritahu kalau kamu sudah kerja hah!''
tanpa menjawab pertanyaanku bibi langsung marah padaku. Bukan aku tidak memberitahu pada bibi kalau aku sudah bekerja tapi setiap aku telpon selalu saja panggilanku di tolak.
''i..iya bi pelangi sudah kerja'' jawabku lagi
''dasar kamu ya, sekarang mentang-mentang sudah kerja sudah lupa kamu sama bibimu ini hah!, dasar kamu sombong, andai saja kamu dulu mau bibi jodohkan dengan anaknya pak rahman mungkin kamu tidak akan lupa pada bibi, kamu pikir kamu itu siapa kamu hanya gadis desa jangan berharap jadi seorang ratu. Bibi menjodohkanmu dengan anak pak rahman agar kamu bisa jadi bunga yang mekar tapi kamu malah kabur merantau ke kota. Tidak tahu terimakasih kamu itu''
''aku ti..'' belum sempat aku menjawab bibi menghinaku lagi
''dasar anak yatim piatu, kamu pikir masih ada laki-laki yang mau sama kamu setelah kamu menolak di jodohkan. Kamu pikir dengan otakmu yang tidak seberapa akan ada laki-laki yang mau menikah denganmu. Sadar pelangi sadar kamu itu hanya gadis desa yang bahkan sudah tidak punya orang tua! Laki-laki akan berpikir dua kali untuk mau menikah denganmu! Kamu itu bisa disandingkan dengan bunga yang sudah layu, tidak memiliki harapan dan tidak di inginkan siapapun jadi jangan sombong kamu''
''tapi bibi aku...''
Tuuuutttttt.......
belum selesai aku bicara bibi sudah memutuskan sambungan telponya. Mataku berkaca-kaca mendengar semua yang bibi katakan rasanya hatiku perih satu-satunya keluarga yang aku miliki menghinaku seperti itu. Apakah aku benar-benar seumpama dengan bunga yang sudah layu? Ingin menangis tapi air mataku enggan untuk keluar, aku berusaha kuat dan bersiap untuk berangkat bekerja karena waktu sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi.
Di tempat kerja aku tidak fokus karena perkataan bibi selalu terngiang-ngiang didalam kepalaku. Aku bahkan sempat menumpahkan minuman saat hendak mengantarkannya kepada pelanggan. Beruntung pak albert tidak marah dan hanya menasehati untuk fokus dan hati-hati bekerja. Saat tiba waktu untuk pulang aku segera mengambil jatah makan malam dan uang transportasi kemudian pamit pulang.
Semua teman memperhatikan aku, mungkin mereka sedang berpikir apa yang terjadi sehingga aku tidak bersemangat bekerja hari ini. Beberapa teman bahkan menawarkan diri untuk mengantarku pulang karna mereka berpikir aku sedang sakit.
Hari ini terasa begitu berat, mungkin karena aku kepikiran dengan perkataan bibi tadi pagi.
''bunga yang layu? apa aku memang seburuk itu?'' gumamku saat berjalan pulang ke kosan. Aku tidak menikmati santapan makan malamku hari ini rasanya makanan yang maauk kedalam mulutku terasa hambar. Setelah membersihkan diri sehabis makan malam akupun beranjak untuk langsung tidur karena kepalaku terasa pusing memikirkan perkataan bibi tadi pagi.
__ADS_1