
Tak lama pintu ruangan ICU terbuka kembali, Claudy sudah duduk di kursi roda dengan senyum merekah. Kursi roda itu di dorong oleh dokter yang tadi, aku kembali mengerutkan dahi melihat pemandangan yang ada di hadapanku saat ini. Kenapa Claudy begitu bahagia melihat dokter itu, apa ia adalah kawan kak Robin? Pikirku karena tadi ia menyebut nama kak Robin.
''Mama, mama kenapa?'' Tanyanya sambil meraih jemari tanganku.
Akupun tersadar dari lamunanku saat jemarinya mengusap punggung tanganku. Ku berikan senyum terbaikku pada putriku.
''Ayo ma kata om Trisna, aku sudah bisa pindah kamar sekarang'' Ucapnya kemudian menoleh pada dokter yang berdiri di samping kursi rodanya.
''Tak usah bingung ma nanti aku jelaskan jika sudah di kamar, ayo om antar aku ke kamar ku''
Kursi roda Claudy kemudian di dorong oleh salah satu perawat, aku segera menyusulnya. Ku lihat kak Nisa, kak Roni dan dokter itu masih terlihat berbicara.
''Kak?'' Ucapku.
''Duluan saja dek, nanti kami akan menyusul'' Ucap kak Roni.
Aku bergegas mengikuti perawat yang membawa Claudy, tak lama kami tiba di salah satu ruangan yang sudah tertata dengan rapi. Claudy di bantu beberapa perawat berbaring di atas ranjang, tak lama mereka pamit setelah memastikan semuanya telah selesai. Aku mengucapkan terimakasih kepada mereka, aku merasa aneh pada sikap perawat itu. Rasanya mereka sekarang sangat segan kepadaku, entah karena apa.
Saat para perawat berlalu, tak berselang lama kak Nisa, kak Roni dan dokter Trisna datang menghampiri ke ruangan Claudy. Aku masih memandangnya dengan heran karena aku sama sekali tak bisa mengingat siapa dia meski wajahnya sangat familiar bagiku.
''Apa kamu masih belum bisa mengingatku? Mungkin karena aku terlalu tampan sekarang, sehingga aku sulit kamu ingat, hahahhahaha'' Ucapnya sambil terkekeh.
''Kamu tak mengingatnya dek?'' Tanya kak Nisa sambil ikut terkekeh.
Aku menatap ketiga orang dewasa di hadapanku ini sepertinya mereka sedang menertawakan aku. Aku melirik ke arah Claudy, ia bahkan terlihat cekikikan di atas tempat tidurnya.
''Maklum om, mama aku sudah tua jadi sudah kupa sama om ganteng'' Ucapnya kemudian kembali cekikikan.
''Maaf tapi aku benar-benar tak ingat, meski sebenarnya wajah anda juga tak asing bagiku'' Ucapku.
''Hahahaha begitu lucu adikmu ini Ron''
Aku mencoba mengingat kembali siapa sebenarnya dia namun semakin aku coba semakin tak bisa aku mengingatnya. Sungguh aku pusing di buatnya.
__ADS_1
Dia menuju ke ranjang dimana Claudy berbaring, entah apa yang mereka berdua bicarakan namun aku melihat putriku begitu bahagia. Cukup lama mereka berdua bercakap-cakap, kemudian dokter Trisna pamit karena ada pasien yang harus ia tangani.
Aku mencoba bertanya pada kak Nisa dan kak Roni namun mereka hanya terus menertawakan aku dan tak mau menjawab akhirnya aku hanya diam saja.
Akhirnya kami tertidur dalam diam. Cahaya matahari perlahan masuk menembus celah-celah horden jendela ruangan entah siapa yang sudah membuka jendela sepagi ini.
''Pagi ma, apa mama sudah bangun?'' Sayup-sayup terdengar suara putriku menyapaku.
''Sepertinya ibumu terlalu lelah sayang? Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja di taman saja'' Ucap seorang laki-laki yang mirip seperti suara dokter Trisna. Ku buka mataku kembali dengan jelas agar aku bisa yakin siapa yang mengajak putriku berjalan-jalan.
''Baik dok''
Ternyata dugaanku benar dokter Trisna yang ingin membawa putriku jalan-jalan. Ingin aku ikut namun rasanya kepalaku terasa berat dan mataku tak ingin terbuka. Aku mencoba menjawab pertanyaannya namun entah kenapa tiba-tiba saja semua menjadi gelap.
Brugh
''Mama......'' Masih bisa ku dengar teriakan putriku hingga tak kurasakan apa-apa lagi.
Saat aku membuka mataku, aku merasa jika kepalaku terasa berat sekali. Ku lihat sekelilingku, tak ada siapapun di dalam ruangan ini.
''Bagaiman kak, siapa yang akan pergi untuk melihat ke rumah papanya Claudy?'' Suara seseorang yang terdengar seperti suara kak Roni.
Lama ku tunggu ada seseorang yang menjawab namun tak ada jawaban, dengan kepala yang masih terasa berat, aku paksakan untuk membuka mataku. Kulihat hanya ada kak Roni di dalam kamar ini. 'Dengan siapa ia berbicara tadi, apa ia sedang menelpon?' Batinku bertanya-tanya.
Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa sangat kering, rasanya haus sekali. Ku coba memanggil kak Roni dengan suara yang lemah dan untung saja kak Roni mendengarnya.
''Kak..'' Ucapaku lirih.
''Ada apa dek? Apa kamu butuh sesuatu?'' Ucapnya sambil mendekat ke arah ranjangku.
''Aku ingin minum kak aku haus''
''Tunggu sebentar kakak ambilkan dulu ya''
__ADS_1
Kak Roni berlalu menuju ke meja yang ada di sudut ruangan, ia mengambil sebotol air mineral, membuka tutup botolnya dan memasangkan sedotan, kemudian membantuku untuk minum.
''Jika kamu masih pusing istirahatlah dek''
''Claudy mana kak? Bagaimana keadaannya?'' Tanyaku, aku khawatir akan keadaan putriku. Siapa yang menjaganya saat aku tak sadarkan diri tadi.
''Claudy baik-baik saja dek. Sekarang kamu istirahat saja, sebentar lagi dia akan kesini bersama kak Nisa''
Tak lama terdengar derit pintu, perlahan daun pintu itu terbuka, Claudy dan kak Nisa terlihat berjalan masuk ke ruangan.
''Mama sudah sadar? Bagaimana keadaan mama?'' Ucap Claudy sambil memelukku erat.
''Ibu sudah lebih baik nak. Kamu bagaimana kabarmu?'' Tanyaku karena merasa heran dan sekaligus bahagia melihat putriku. Ia sudah terlihat jauh lebih sehat, tak ada lagi alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya bahkan selang infus sekalipun sudah tak ada lagi.
Ia tersenyum kepadaku kemudian menjawab.
''Aku sudah sehat mah. Mama juga harus cepat sehat agar kita bisa mengantarkan kakak ke rumah barunya'' Ucapnya dengan wajah sendu.
''Syukurlah nak, tapi nak, bukannya tadi sebelum mama pingsan kamu masih pakai infus?'' Tanyaku.
''Tidak ma, aku sudah sehat dari 2 hari yang lalu. Mama sudah tak sadarkan diri selama tiga hari''
Aku cukup tercengang mendengar perkataannya. Aku sudah tak sadarkan diri selama tiga hari, aku merasa baru tadi aku tak sadarkan diri.
''Ibu harus sehat ya, dua hari lagi kakak akan di kuburkan. Tadi aku sempat kesana, tapi aku hanya ketemu bi Asih saja''
Aku jadi khawatir dengan keadaan putriku. Kenapa ia sampai nekat kesana, sementara nyawa kami berdua sedang terancam.
''Nak, kamu tidak apa-apakan? Jangan kesana lagi nak bahaya jika mereka melihatmu di sana. Ibu tak ingin terjadi apa-apa denganmu''
''Aku tak apa-apa bu, lagian aku kesana juga bukan sebagai anak mama, tapi aku menyamar sebagai teman kuliah kakak ma. Tak ada juga yang mengenalku karena tante Nisa bisa membuat wajahku terlihat berbeda dengan polesan make upnya''
Kak Nisa tersenyum kepadaku, ia mendekat dan membelai rambutku.
__ADS_1
''Kamu harus sehat dek. Selama ada aku Claudy pasti aman, kamu jangan khawatir'' Ucapnya kemudian memelukku.
''Maaf dek, kakak sudah ceritakan tentang putramu pada adiknya'' Ucap kak Roni yang ku jawab dengan senyuman. Memang Claudy harus tahu bagaimanapun ia adalah kakaknya, meski waktu mereka bersama terbilang cukup singkat, namun aku yakin kebersamaan mereka hanya meninggalkan kenangan bahagia untuknya.