PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
HARI PEMAKAMAN PUTRAKU


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman putraku, aku ingin hadir untuk mengantarkannya ke rumah barunya. Meski keadaan ku belum sepenuhnya pulih, namun ku kuatkan diri untuk menghadirinya meski aku hanya bisa melihatnya dari jauh.


Pagi hari saat matahari belum bersinar, kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat putraku akan di makamkan. Kami memilih berangkat lebih pagi agar tak ada yang tahu jika aku ada di sana. Sementara kak Nisa dan Claudy akan ke rumah ayahnya untuk memantau keadaan disana.


Sebenarnya aku tak mengisinkan Claudy pergi, namun aku tak bisa menahannya karena ini akan menjadi kali terakhir ia bertemu dengan almarhum kakaknya. Aku hanya berharap semoga tak ada yang mengenal mereka dirinya disana.


''Ma, mama hati-hati ya disana nanti. Om Roni titip mama ya'' ucap Claudy.


''Tenang saja sayang om akan menjaga mamamu'' ucap kak Roni.


Claudy kemudian pamit padaku dan kak Roni, sedangkan kami juga berangkat menuju ke tempat pemakaman, karena cukup jauh jalan yang harus kami tempuh untuk sampai disana kurang lebih empat sampai lima jam perjalanan. Saat tiba di sana jam menunjukkan pukul sepuluh, berarti kami harus menunggu satu jam lagi untuk bisa menyaksikan pemakaman putraku. Kami bersembunyi di salah satu rumah warga yang dekat dengan tempat pemakaman, dan kata Claudy makam kakaknya hanya berjarak 8 meter dari rumah warga yang kami tempati sekarang.


Aku bisa melihat jelas rumah yang akan ditempati oleh putraku, terlihat seperti sebuah rumah mewah yang di hiasi dengan ukiran yang indah.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang lewat 25 menit, namun belum ada tanda-tanda kedatangan orang-orang yang hendak melakukan pemakaman.


''Tunggu sebentar ya dek. Aku mau menghubungi kak Nisa dulu'' ucap kak Roni kemudian berlalu keluar rumah.


Aku terus memandang ke daerah pemakaman itu, tak lama terdengar suara sirine mobil ambulans. Aku langsung memakai kaca mata dan masker, meski tak akn ada yang melihatku karena aku melihat dari kamar di salah satu rumah warga, tapi tak ada salahnya waspada.


''Dek, mereka sudah datang. Kamu tunggu disini, sebentar lagi kak Nisa akan kesini bersama Claudy. Kakak akan berpura-pura kesana menyapa teman-teman kakak yang bertugas mengawal proses pemakaman ini''


''Baiklah kak hati-hati''


Bu Tini, warga yang rumahnya aku tempati saat ini untuk melihat pemakaman putraku, masuk ke dalam kamar dan berdiri sambil mengusap bahuku.


''Sabar nak, ia sudah bahagia di surga. Ikhlaskan dia dan jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, ingatlah putrimu yang masih butuh kasih sayang dan perhatianmu.'' Ucap bu Tini.


''Terimaksih bu, sudah mengijinkn saya untuk melihat pemakaman putra saya dari rumah ibu''

__ADS_1


''Sama-sama nak''


Aku memandang dengan pilu proses pemakaman putraku, aku tak tahu apa yang bisa aku katakan atau lakukan rasanya pikiranku begitu penuh sehingga aku tak bisa memikirkan apa-apa.


Air mataku tak berhenti mengalir dari kedua mataku melihat putraku di masukkan kedalam rumah tempatnya untuk beristirahat selamanya. Ku lihat Claudy juga ikut serta dalam kerumunan yang mengantarkan putraku ke rumah barunya.


Aku bersyukur putriku baik-baik saja, ku lihat tak ada kak Lia terlihat di pemakaman itu, hanya ada mas Hans, oma dan keluarga yang lain. 'Kemana dia?' batinku.


Ku lihat mas Hans benar-benar sedih dan terpukul atas kepergian putranya. Air matanya tak berhenti mengalir bahkan ia sampai harus di papah agar tetap bisa berjalan.


Setelah jenasah putraku sudah di masukkan ke dalam kuburannya, satu persatu pelayat berjalan untuk pulang. Aku memgirim pesan pada Claudy untuk ikut pulang juga karena khawatir orang-orang akan curiga jika ia terus berada disana.


Ku lihat kak Roni menghampirinya, mereka berbicara dan tak lama mereka berjalan meninggalkan area pemakaman itu.


Tring...


[ Dek kamu jangan kemana-mana. Aku mengajak kak Nisa dan Claudy cari makan dulu, sekalian menghindari kecurigaan orang-orang jika kami langsung kesitu]


Segera kubalas pesannya.


[Baik kak]


Virda anak bu Tini juga ikut masuk ke kamar ini, dia membawa nampan yang berisi teh dan semangkok mie ayam.


''Bu, makan dulu. Maaf kami cuma punya mie ayam saja'' ucanya.


''Terimakasih nak, tapi ibu belum lapar nak'' ucapku menghapus bulir bening yang masih setia mengalir di pipiku.


''Baiklah bu, saya simpan disini ya bu. Jika ibu ingin makan nanti makan saja'' ucapnya meletakkan nampan di atas sebuah kursi kayu samping tempat tidur dan berlalu keluar.

__ADS_1


Cukup lama aku menunggu hingga terdengar suara kak Nisa dari depan pintu kamar, bahkan sudah tak terlihat lagi orang-orang di pemakaman itu.


''Dek, kamu sudah makan?'' Tanyanya saat sudah masuk ke dalam kamar.


Aku hanya menggeleng sambil terus memandangi area pemakaman, rasanya aku ingin sekali kesana namun aku takut jika ada yang mengawasi dan aku ketahuan.


''Makanlah dulu dek, jika putramu bisa melihatmu, ia akan sedih jika melihat ibunya seperti ini. Kamu harus bangkit dek, ingatlah Claudy yang masih butuh kasih sayangmu''


Aku menatap kak Nisa kemudian meraih mangkuk berisi mi ayam yang dibawakan Virda tadi.


''Apa kakak juga sudah makan?''


''Aku, Roni dan Claudy sudah makan dek, kamu makan dulu setelah itu kita pulang''


Dengan segera aku menyuapkan mie ayam yang ada di mangkuk hingga tak terasa aku sudah menghabiskan satu mngkok mi ayam. Kuraih teh hangat yang sudah dingin karena sudah dari tadi di buat oleh Virda, kuminum hingga habis.


''Apa kakak juga membeli makanan untuk Bu Tini dan Virda?'' tanyaku pada kak Nisa.


''Tenang saja dek, kakak sudah urus semuanya. Apa kita sudah bisa pulang sekarang? Sepertinya tak aman jika kita terus berada disini. Tadi sewaktu di pemakaman ada seseorang yang sepertinya terus mengawasi rumah ini'' ucapan kak Nisa kembali membuatku khawatir.


Segera kami pamit pada bu Tini dan putrinya kemudian bergegas pulang. Kami juga sudah berpesan pada bu Tini untuk tidak mengatakan pada siapapun jika aku tadi berada di rumahnya. Aku takut jika bu Tini juga akan ikut di libatkan dan di ganggu oleh orang-orang yang tak menyukai ku.


''Kak kita langsung ke perumahan saja ya, sepertinya ada yang sedang ngikutin kita dari belakang. Aku perhatikan motor itu dari tadi terus mengikuti kita'' Ucapku pada kak Roni.


''Ia dek, kakak juga berpikir begitu. Tapi apa kamu sudah baik-baik saja? Apa kita tak perlu ke rumah sakit lagi?''


''Aku sudah baik-baik saja kak. Kita langsung ke perumahan saja aku takut orang-orang jahat masih terus mengintaiku dan putriku''


Kak Roni menambah kecepatan mobilnya. Mungkin ia juga khawatir karena sekarang sudah ada dua motor yang mengikuti kami.

__ADS_1


__ADS_2