PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KENYATAAN HIDUP (HUBUNGAN KELUARGA YANG RUMIT)


__ADS_3

Seminggu setelah sidang pertama, sidang kedua dilanjutkan dan dua minggu kemudian sidang ketiga dan sekaligus sidang putusan dilaksanakan. Akan tetapi keluarga mas Hans melakukan banding, dan terjadilah sidang ke empat dan kelima yang memiliki jarak satu minggu tiap sidang. Ada rasa sedih melihat keluarga mas Hans yang sangat membela bu Rena dan Sandra, akan tetapi kami tak bisa melakukan apa-apa dan hukum harus tetap berjalan. Agar nanti tak ada lagi korban-korban selanjutnya.


Keluarga mas Hans menyewa pengacara terkenal, maklumlah mereka punya uang yang banyak. Bagaiman tidak, mereka termasuk dari 10 besar orang terkaya di Indonesia. Mulanya aku ragu kami akan menang melawan mereka, tapi puji Tuhan semua berjalan lancar sesuai yang kami kehendaki.


Setiap melihat mas Hans, rasanya aku ingin memberitahunya bahwa aku ingin bertemu dengan putraku, tetapi dia selalu menghindari kami. Setiap aku ingin dekat dengan mereka, mereka selalu menghindar, bahkan saat aku ke rumah besar itu ingin bertemu dengan putraku, mereka tak membiarkan aku masuk.


Keluarga mas Hans, mengatakan pada putraku jika aku sudah tiada, jika ada yang mengaku sebagai ibunya maka itu adalah orang jahat. Begitu tega mereka padaku.


Satu hal yang aku belum menggerti sampai saat ini. Jika Sandra adalah keponakan bu Rena, sedangkan bi Ratna adalah ibu dari Sandra, berarti bu Rena dan bi Ratna adalah saudara ibuku, jadi bisa dipastikan bahwa aku adalah sepupu Sandra dan aku juga keponakan bi Rena. Ibu mertuaku sendiri adalah sepupu bu Rena dari pihak ibu sedangkan bu Rena adalah saudara ibuku, aku jadi bingung sendiri mau memanggil apa pada ibu mertuaku.


Ada satu hal yang membuat aku terkejut saat sidang ketiga, saat hakim akan membacakan putusan. Tiba-tiba bu Rena membuat sebuah pengakuan yang membuat diriku seketika lemas. Yang selama ini aku berpikir jika ibu dan ayahku meninggal murni karena kecelakaan, ternyata itu semua sudah terencana dan dalang dari semua ini tidak lain adalah bi Ratna dan bu Rena. Mereka iri kepada ibuku, karena harta warisan diberikan lebih banyak pada ibuku, bukan ibuku serakah, sebenarnya ia tak mengambilnya begitu saja akan tetapi mereka yang menjual bagiannya pada ibuku.


Ternyata ibuku, bu Rena dan bi Ratna bukanlah saudara kandung. Ibu bi Ratna adalah orang yang sudah berselingkuh dengan ayah dari ibuku. Nenekku yaitu ibu dari ibuku, menjadi depresi dan meninggal dunia karena tak mampu menghadapi kenyataan. Sedangkan kakekku menikah lagi dengan ibu dari bu Rena da bi Ratna. Lima tahun setelah menikah bu Rena lahir dan dua tahun setelahnya bi Ratna lahir. Saat usia pernikahan kakek dan ibu bi Rena sudah menginjak usia sepuluh tahun kakek berpulang.


Tiga hari selesai kakek dimakamkan, notaris yang sudah bertugas untuk membuat surat wasiat menemui ibuku, bu Rena, bi Ratna dan ibu mereka untuk membacakan isi surat wasiat dari mendiang kakek. Dalam surat wasiat tersebut, tertulis bahwa 40% kekayaan kakek akan diberikan kepada ibuku, bu Rena 30% dan bi Ratna 30%. Itu semua karena dalam harta itu ada uang dari mendiang nenek (ibu dari ibuku) jadi ibu mendapatkan lebih banyak. Awalnya mereka tidak keberatan dengan hal itu, akan tetapi karena mereka hanya berfoya-foya menghabiskan harta warisan mereka, lambat laun bagian mereka mulai habis perlahan-lahan. Karena bi Ratna dan bu Rena sangat suka menghambur-hamburkan uang, mereka sempat meminjam uang kepada rentenir dan akhirnya mereka tak bisa membayar. Bu Rena dan Bi Ratna kemudian menjual sebagian warisan mereka kepada ibuku, jadilah ibuku membeli sebagian harta warisan mereka.


Saat mereka sudah benar-benar kehabisan harta warisannya, mereka kembali pada ibuku ingin meminta warisan yang sudah mereka jual kepada ibuku, akan tetapi ibu menolak mengembalikannya, karena bukan saja ibu membeli pakai uangnya akan tetapi menggunakan uang dari ayahku juga. Ibuku menawarkan pada mereka jika mereka ingin membelinya kembali namun mereka tidak mau mereka hanya ingin gratisan saja.


Ibuku terus menolak kemauan mereka, lama mereka tak menemui ibu. Ibu berpikir bahwa mereka sudah menyerah akan tetapi ternyata ibu salah mereka tetap pada kemauan awal mereka. Hingga akhirnya mereka merencanakan pembunuhan terhadap kedua orang tuaku agar mereka bisa menguasai hartanya karena saat itu aku masih kecil dan tak mungkin aku menuntut hal itu.

__ADS_1


.


Bu Rena dan ibunya dituntut hukuman seumur hidup sedangkan Sandra dihukum 20 tahun penjara. Meski aku tak tega namun hukum harus tetap dilksanakan.


Setelah semua perkara selesai kami kembali kerumah. Tak ada gunanya juga kami tinggaal di kota, tak ada yang akan kami lakukan.


Seminggu setelah pulang dari kota aku berencana akan mengunjungi rumahku yang ada di bagian utara pulau. Rumah bu Asni yang dulu aku beli kini kugunakan sebagai tempat usaha produksi keripik pisang, keripik singkong dan keripik keladi. Bahan bakunya aku dapatkan dari para tetanggaku disana, karena sebagian besar mereka adalah petani. Pekerjanya juga aku ambil dari warga setempat, aku bahagia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain meski tak banyak yang busa kubantu.


''Bu, saya mau kerumah produksi keripik, apa ibu mau ikut?''


Kuhampiri bu Dita yang sedang duduk di teras samping, beliau sedang membaca sebuah majalah.


''Tentu saja bu''


Karena malam sudah semakin larut kami memutuskan untuk tidur karena besok akan bersiap untuk pergi.


.


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, kulihat Claudy masih tertidur nyenyak sambil memeluk bantal doraemon kesayangannya. Kulangkahkan kaki keluar dari kamar menuju dapur. Setibanya di dapur kulihat sudah ada bu Dita dan Bu Ita istri pak Beni. Mereka sedang sibuk menyiangi sayuran sambil bercerita dan tertawa-tawa kecil.

__ADS_1


''Sudah bangun nak?''


''Sudah bu, hari ini kita mau masak apa bu, bi?''


''Kita akan masak makanan kampung bu'' Kata bu Ita.


''Wah pasti enak tuh, apalagi sayur bening trus ikan asin yang sudah di goreng. Saya dan anak saya yang pertama sangat suka makan itu bu''


Tes


Air mataku menetes lagi, mengingat putraku yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertemu denganku. Aku sangat merindukannya, rasanya aku begitu ingin dia ada di sisiku.


''Jangan menangis nak, berdoa saja cucuku sehat dan bahagia terus disana''


Setelah sarapan pagi kami segera mandi kemudian bersiap untuk berangkat ke bandara. Dalam perjalanan ke bandara hanya Claudy dan anak-anak pak Beni yang sibuk bercerita tentang kegiatan mereka selama di sekolah. Anak pak Beni juga sekolah ditempat yang sama dengan Claudy, bu Dita yang membayar semua biaya sekolahnya. Bagi bu Dita Claudy dan anak pak Beni itu sama, mereka cucu-cucu bu Dita, anak-anak yang harus berpendidikan tak ada bedanya, meskipun mungkin bagi orang lain mereka tak sepadan tapi bagiku dan bu Dita kita semua sama.


Pesawat mengudara sekitar pukul 1 siang dan mendarat pukul setengah 4 sore. Saat tiba disana sudah ada supir yang menjemput kami, dia juga karyawan di rumah produksiku.


Kami naik mobil sekitar 1 jam, setelah melewati jalan berkelok-kelok has pedesaan, kemudian baru tiba dirumah priduksi. Rumah bu Asni itu sudah aku renofasi, rumahnya sudah bertingkat dan seluruhnya sudah ditembok. Disini selain rumah produksi, juga ada sebagian karyawan yang tinggal disini, ada 8 kamar dirumah ini. Aku mengajak bu Dita dan pak Beni sekeluarga untuk istirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2