
Hari-hari terus berganti, sudah 5 tahun berlalu sejak kami dikabarkan meninggal dunia dalam kebakaran mobil. Aku juga sudah memiliki sebuah usaha kecil-kecilan yang bergerak di bidang kuliner dan sebuah perusahaan usaha produk kecantikan. Iseng-iseng aku membuat akun fb baru yang kuberi nama CLAUDY PUTRY tak kusertakan nama marga keluargaku agar tak ada yang tahu.
Ku unggah beberapa foto Claudy disana, tak lama banyak yang meminta pertemanan.
''Selamat pagi bu, ada yang mencari ibu?''
Aku bangkit dari dudukku mendengar perkataan dari karyawanku. Kira-kira siapa yang mencariku disini setahuku, tak banyak orang yang mengenalku.
Ku intip dari balik pintu ruanganku, ternyata seorang pria dengan wanita, juga seorang anak laki-laki berusia 10 tahunan.
Aku jadi agak ragu kesana entah kenapa wanita itu terlihat seperti Sandra, jika ia melihatku nyawaku dan anakku bisa dalam bahaya.
Kuhubungi karyawanku tadi agar segera keruanganku.
''Ada apa bu?'' Tanyanya.
''Ririn, yang nyari saya siapa?'' Tanyaku.
''Itu bu, pengusaha terkenal yang sering muncul di tv. Dia datang bersama anak dan istrinya. Kalau tidak salah namanya pak Hans dan bu Sandra. Mereka yang menawarkan kerja sama bu''
Deg
Hatiku mencleos, seketika lututku lemas, aku terduduk dilantai, ya Tuhan, apa lagi ini? Kupikir aku dan putriku sudah bebas dari mereka semua. Dengan sigap Ririn membantuku duduk di kursi.
''Bisa katakan pada mereka jika saya tidak ada ditempat, katakan saja kalau kita tidak bisa terima kerja sama itu. Karena saya sedang keluar daerah''
Ririn bingung dengan ucapanku, namun tetap ia mengangguk juga.
Setelah Ririn keluar, ku coba mengintip mereka. Terlihat Ririn sedang menjelaskan sesuatu.
Brak
Mas Hans memukul meja di depannya.
''Sombong sekali bosmu itu, emang dia pikir dia siapa? Sudah untung perusahaan kami mau bekerja sama. Katakan pada bosmu jangan jadi orang sombong, baru juga punya usaha kukiner kecil sudah sombong. Kerja sama ini dibatalkan''
Terlihat amarah pada wajah mas Hans.
''Mama...... aku sudah pulang sekolah'' Claudy berlari dari luar menuju ruanganku sambil berteriak disusul bu Dita dibelakangnya, karena ia yang slalu menjemput Claudy setiap pulang sekolah. Mas Hans juga sempat menatap bu Dita dan begitupun sebaliknya, tapi Sandra langsung menarik tangannya untuk pergi.
Mas Hans sempat menatap wajah putrinya kemudian berlalu pergi. Entah apa yang ia pikirkan.
Aku terduduk disamping pintu menangis sambil memeluk lututku. Kenapa hatiku begitu sakit melihat mereka bersama bukankah aku sudah tak mencintainya lagi dan anak laki-laki tadi pasti Hans putraku.
''Kamu kenapa nak? Kenapa menangis?''
Segera kuhapus air mataku, kupeluk putriku yang malang, ia bertemu ayahnya tapi mereka tak saling mengenal.
''Aku tidak apa-apa bu, Claudy, sudah pulang sekolah sayang? Ayo kita pulang dan makan siang. Ibu tak terlalu sibuk hari ini''
__ADS_1
Segera kuraih tas dan ponselku di atas meja, bu Dita melihatku dengan tatapan aneh.
''Nanti kita bicara dirumah bu''
Bu Dita mengangguk dan kami pulang kerumah. Dalam perjalanan hanya keheningan yang tercipta, bu Dita bahkan terlihat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Cukup 45 menit kami sudah tiba dirumah. Aku menuju kamar mengganti baju Claudy dan kemudian ke meja makan untuk makan siang. Sama seperti saat perjalanan pulang tadi, kami masih tak bersuara sama sekali, hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Setelah makan, ku ajak Claudy untuk tidur siang karena ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan bu Dita.
''Bu, boleh aku masuk?'' Bu Dita segera manarikku, membawaku masuk ke sebuah ruangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ruangan itu ada di balik dinding dalam kamar mandi bu Dita.
Waaawwww...
Aku terkejut saat masuk, ini bukanlah sebuah ruangan bagiku ini sebuah rumah, karena semua fasilitas ada di dalam.
''Bu, ada yang ibu ingin bicarakan?''
Aku duduk disamping bu Dita yang kelihatan sedang termenung memandang sebuah foto. Aku terkejut melihat di foto itu ada bayiku.
''Nak, ibu mau tanya, siapa yang datang di restoranmu tadi? Kenapa anak laki-laki itu mirip dengan anak ibu yang sudah meninggal?''
''Maksud ibu yang mana bu?''
''Yang ketemu ibu dan Claudy tadi, entah kenapa aku seperti mengenal ayah dari anak laki-laki itu. Tapi ibu tak yakin, ibu sempat berpikir itu anak ibu, namun ibu kembali teringat bahwa anak ibu sudah tiada''
''Bu, yang datang tadi itu suami saya bu, dan yang perempuan itu istri barunya namanya Sandra, ia dan ibu mertuaku yang coba menghabisi kami dengan membakar mobil bu. Sementara anak laki-laki itu, aku yakin itu putraku bu kakaknya Claudy. Aku sangat takut tadi bu, jika ia tahu bahwa aku masih hidup, mungkin mereka akan mencoba melenyapkan aku dan Claudy bu''
Air mataku mengalir bak air bah, tak dapat lagi kutahan sendiri beban dalam hatiku.
''Astaga nak, tapi kamu tidak di apa-apakan sama mereka nak?''
Bu Dita memeriksa setiap bagian tubuhku dia terlihat sangat khawatir.
''Aku tidak apa-apa bu, tapi maafkan aku bu, kontrak kerja dengan perusahaan mereka batal''
''Tidak apa-apa nak, yang penting bagi ibu keselamatan kalian berdua''
Aku kembali memeluk bu Dita sambil terus terisak.
''Nak, entah kenapa ibu merasa kalau ayah anak itu anaknya ibu yang orang-orang bilang sudah meninggal. Ibu punya tiga anak, yang pertama perempuan yang kedua dan ketiga laki-laki mereka kembar. Sewaktu anak kembar ibu masih berumur 1 bulan, tante dan sepupu ibu mengajak ibu pergi jalan-jalan, akan tetapi ditengah jalan ibu dipukuli dan diturunkan, sementara anak-anak ibu dibawa. Aku tahu kalau tanteku ingin anaknya yang menjadi istri suamiku.
Mereka merencanakan untuk melenyapkan ibu dan anak-anak ibu, itu yang ibu dengar saat mereka membuang ibu berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ibu dibuang kejurang, beruntung ada orang baik yang menemukan ibu dan merawat ibu.
Dua bulan setelah itu, ibu sempat kembali kerumah ibu dan suami akan tetapi saat ibu sampai disana acara pernikahan suami ibu dan sepupu ibu sedang berlangsung.
Ibu coba bertanya pada beberapa warga yang tidak mengenal ibu. Mereka bilang, kata tantenya ibu, kalau ibu pergi meninggalkan anak-anak ibu, ibu tak sayang mereka dan ibu lari dengan laki-laki lain. Mau tak mau suami ibu harus menikah agar anak-anak kami ada yang mengurus.
Saat hendak masuk ternyata pembantu dirumah itu mengenali ibu meski sudah pakai kerudung dan kaca mata. Pembantu itu juga sudah sekongkol dengan tante ibu.
__ADS_1
''Untuk apa kamu kembali pergilah dari sini, sudah tak ada tempatmu lagi disini''
Kata pembantu itu.
''Tapi anak-anak saya ada di dalam'' Kataku, iya kemudian menatap sinis dan berkata ''Anak-anakmu sudah mati dan kaupun juga dianggap sudah mati. Jika kau tak pergi akan aku panggilkan tantemu agar dia benar-benar menghabisimu''
Kata-kata pembantu itu membuat ibu takut, akhirnya ibu memilih pergi. Untuk apa juga ibu kembali, toh anak-anak ibu sudah tiada. Ibu pergi membawa luka yang begitu dalam, ingin rasanya membalas perbuatan mereka tapi siapalah ibu saat itu hanya gadis desa yang sudah tak memiliki orang tua.''
Ibu mertua menceritakan kisah hidupnya, aku menagis mendengar kisahnya. Ternyata kisah kamipun sama tak diinginkan juga yatim piatu.
''Bu, anak-anak ibu cantik dan gagah? Siapa nama mereka?'' Ucapakan ingin menghibur sedikit rasa sakitnya meski aku rasa itu tak akan mampu mengobati lukanya.
''Nama putri ibu Natalia, nama anak kembar ibu Frans dan Hans''
Deg
Apa aku tak salah dengar apa ibu Dita ibu mas Hans, tapi kenapa mereka tak mengatakan kalau ibu mertuaku bukan ibu kandung mereka atau mereka juga tak tahu?
''Bu ada yang ingin aku katakan dan tanyakan tapi aku harap ibu tak kaget'' Kataku menatap bu Dita.
''Katakanlah nak ibu akan memdengarkanmu''
Ku hirup napas dalam-dalam sebelum berbicara, entah kenapa aku curiga bu Dita adalah ibu kandung mas Hans.
''Bu foto anak ibu sangat mirip dengan foto anak pertaman saya waktu bayi''
Bu Dita langsung membenarkan posisi duduknya.
''Apa kamu tidak salah nak?''
Aku menganggukkan kepala kemudian bertanya lagi.
''Iya bu, oh iya, siapa nama suami dan sepupu ibu?''
''Suami ibu namanya pak Adrick Badai dan sepupu saya namanya Rena''
Hatiku langsung berdegup kencang mendengar nama-nama itu disebut. Ya, itu nama yang tak asing, itu nama ibu mertua dan ayah mertua. Berarti yang mencelaki bu Dita juga ibu mertua dan ibunya.
Oh Tuhan, betapa kejamnya mereka bahkan anak-anak yang masih hidup mereka katakan sudah meninggal. Mereka tega memisahkan ibu dan anaknya. Berarti bu Dita adalah ibu mertuaku yang asli, aku harus memberitahu kebenarannya.
''Bu, orang-orang yang ibu sebutkan tadi aku mengenal mereka. Suami dan sepupu ibu adalah mertuaku dan Kak Lia, kak Frans adalah kakak iparku, sementara Hans adalah suamiku bu. Aku yakin mereka pasti anak-anak ibu, berarti ibu adalah mertuaku yang asli''
Perkataanku mampu membuat kedua bola mata bu Dita membulat sempurna.
''Apa kamu yakin nak?''
''Iya bu, mas Hans itu suamiku, orang yang sempat bertatapan dengan ibu direstoran tadi. Dia Hans anak ibu dan anak laki-laki itu cucu ibu namanya juga Hans sama dengan nama ayahnya. Jika mereka semua anak-anak ibu berarti anak-anak ibu sehat-sehat saja. Kak Lia sudah jadi dokter, kak Frans jadi arsitek dan mas Hans mengelola perusahaan ayahnya''
Air mata bu Dita berlomba-lomba keluar dari sudut matanya, kulihat ada binar bahagia terpancar disana.
__ADS_1