PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
BUAH HATIKU


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu saat kedatangan Rosa bersama kedua orang tuanya beserta anaknya. Mas Hans mulai membagi waktu, kadang akhir pekan dia habiskan bersama Farhan. Farhan nama anak mas Hans, dia baik tak seperti ibunya, sifatnya seperti mas Hans. Dia juga tak segan menyapaku, mengajakku bermain bahkan iya memanggilku bunda.


Rasanya aku sudah memiliki anak jika sedang bersamanya, aku juga berharap segera dititipkan satu bayi di rahimku namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda aku sedang mengandung.


Tak ada yang berubah dari mas Hans, dia tetap menyayangiku seperti sebelum ada Farhan. Sampai suatu hari saat aku sedang berjalan-jalan ditaman bersama mas Hans dan Farhan. Mas Hans berjalan ke sebuah minimarket berniat membelikan es krim untuk Farhan.


Farhan berlari mengejar mas Hans, aku juga ikut berlari mengejarnya karena minimarket ada di seberang jalan. Dari arah belakang kulihat ada mobil yang ingin menabrak Farhan, sekuat tenaga aku berlari mengejar Farhan, kuraih tangannya hingga kami berdua terjatuh ke aspal. Farhan langsung berdiri kembali setelah sempat jatuh bersamaku, baguslah sepertinya dia tak apa-apa pikirku, sementara aku masih duduk di aspal kurasakan perutku terasa keram.


Bruk


Kulihat Farhan di tabrak sebuah sepeda motor, dia tergeletak di atas aspal dengan kepala mengeluarkan darah. Kulihat ada Rosa berdiri di sampingku tapi dia langsung berlari bersembunyi saat aku menatapnya. Aku segera berlari ke arah Farhan tak kuhiraukan lagi keram pada perutku. Kuangkat tubuh kecilnya dan kubawa menuju rumah sakit menggunakan taksi tanpa memberitahu mas Hans terlebih dahulu.


''Dokter, tolong selamatkan dia'' kataku sambil menangis menggendong Farhan masuk ke IGD.


Para dokter disana menatapku sambil memeriksa keadaan Farhan. Bajuku penuh dengan darah Farhan, dia sudah dipasangi berbagai alat medis kemudian didorong pergi.


''Dokter, dia mau dibawa kemana?'' tanyaku pada dokter.


''Mohon maaf bu, pasien harus kami bawa ke ruang ICU, keadaannya kritis'' jawab dokter.


Kurasakan kakiku lemas seperti tak mempunyai tulang. Aku mengikuti kemana Farhan dibawa, aku sangat takut jika mas Hans marah karena aku tak bisa menjaga Farhan. Aku sampai lupa menghubungi mas Hans, pasti sekarang dia sedang mencari kami.


Kurogoh tasku mencari ponsel, ingin menghubungi mas Hans. Baru aku akan menekan nomornya dia sudah muncul dari salah satu koridor rumah sakit. Dia datang bersama seluruh keluarga, Rosa dan keluarganya juga ada.


''Bagaimana keadaan Farhan?'' tanya mas Hans.


''Dia..dia sedang kritis mas'' jawabku takut.


''Hah? kritis, kamu apain anakku sampai dia begitu, pokoknya kamu harus tanggung jawab'' kata Rosa. Kenapa dia khawatir, tadi saja dia hanya melihat-lihat waktu anaknya ditabrak tak menolongnya malah ia bersembunyi.


''Pelangi mas ingin bicara'' kata mas Hans dengan wajah memerah, dia menarik tanganku dengan keras sampai aku merasa agak nyeri.


Mas Hans membawaku ke taman rumah sakit, taman itu tampak sepi.


''Maafin aku mas, aku gagal menjaga Farhan'' kataku penuh penyesalan.


''Maaf katamu, apa kamu pikir aku bisa memaafkan kamu karena telah mencelakai anakku!'' kata mas Hans dengan nada suara yang tinggi bahkan baru aku dengar kali ini.


''Maksud mas mencelakai bagaimana?'' tanyaku bingung karena tak pernah ada niat untuk mencelakai Farhan aku bahkan menganggapnya anakku sendiri.


Mas Hans menunjukkan foto saat Farhan tertabrak motor dan tanganku terulur. Jika hanya dilihat biasa dipastikan orang berpikir bahwa akulah yang mendorong Farhan, mungkin itu juga yang dipikirkan mas Hans.


''Kamu lihat sendiri, aku pikir kamu adalah wanita baik-baik, kamu tulus sayang pada anakku, tapi ternyata kamu wanita bermuka dua, di depanku saja kamu baik tapi di belakangku kamu berencana membunuh anakku, perempuan licik kamu pantas saja bibimu membencimu'' kata mas Hans.


Air mataku luruh membasahi pipiku, kata-kata mas Hans bagai pedang yang menancap pada jantungku meninggalkan luka dan rasa sesak di dalam dada.

__ADS_1


''Tapi aku tidak ada niat menyakiti Farhan mas'' kataku sambil memegang tangannya.


Mas Hans menepis tanganku, dia sangat marah padaku. Tak lama Indra datang dengan membawa tas yang aku kenal, ya, tas yang kupakai menyimpan bajuku saat dari kampung dulu.


''Sekarang kamu ambil kembali barang-barangmu, aku tak ingin hidup bersama dengan wanita jahat sepertimu, pergi dari hidupku dan jangan kembali lagi. Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku segera pergi dari hadapanku sebelum aku melaporkanmu pada polisi karena telah mencelakai anakku'' kata mas Hans.


Dia mengambil tas dari tangan Indra melemparkannya ke hadapanku, aku mengambil tas itu. Saat hendak kembali berbicara mas Hans lebih dulu bersuara.


''Indra bawa wanita ini pergi dari hadapanku, jika ia tidak mau seret saja dia. Kamu tunggu saja surat cerai dariku'' kata mas Hans kemudian berlalu kembali kedalam rumah sakit. Kulihat disana sudah ada Rosa yang menunggunya, Rosa mengapit lengan suamiku kemudian bersandar pada bahuya. Kulihat mas Hans tidak menolak, mungkin ini pertanda aku memang harus pergi.


''Nyonya saya akan antar nyonya sampai gerbang'' kata Indra


''Terimakasih Indra, tapi tidak usah saya bisa sendiri'' aku melangkah meninggalkan Indra, kuhentikan kakiku sejenak dan berbalik kebelakang aku membungkukkan badan pada Indra dan mengucap terimakasih.


.


Aku menunggu angkutan umum di depan rumah sakit, saat tiba-tiba Rosa datang menghampiriku.


''Sudah kubilangkan, kamu tidak akan menang melawanku. Aku akan mendapatkan Hans kembali meski harus mengorbankan anakku'' kata Rosa.


''Apa? Apa maksud kamu?'' tanyaku karena merasa ada yang aneh dengan kata-katanya barusan.


''Ya, pikiranmu benar, aku yang sudah mendorong Farhan, dan semua itu sudah aku rencanakan termasuk foto tadi, jadi ini benar-benar bukan murni kecelakaan lebih tepatnya di celakai, aku harap dia tak pernah sadar agar orang tak tahu jika aku yang sudah mendorongnya. Tadinya aku ingin menabraknya dengan mobil tapi kamu menolongnya''


''Jahat sekali kamu Rosa'' kataku.


''Ya, aku memang jahat demi keinginanku aku rela mengorbankan apa saja termasuk Farhan'' katanya sambil berlalu kembali ke dalam rumah sakit.


Ingin rasanya aku memberitahu seseorang, tapi tak akan mungkin ada yang percaya padaku. Aku masih berdiri di depan gerbang rumah sakit, tidak tahu arah tujuanku kemana. Tak mungkin aku kembali ke kosan ibu kos pasti tak akan menerimaku lagi karena pasti berita ini sudah sampai pada mereka.


Aku memutuskan menuju kesebuah halte bis, kurasakan perutku keram lagi. Saat sedang duduk seorang ibu menghampiriku, aku merasa familiar dengan wajahnya tapi aku tak ingat dia siapa?


''Nak Pelangi, apa ini benar nak Pelangi'' kata ibu itu.


''Iya bu, apa ibu mengenal saya?'' tanyaku.


''Ini ibu nak, orang yang kamu tolong tempo hari waktu ibu sedang kelaparan nak, yang di halte waktu hujan'' kata ibu itu. Aku baru ingat bahwa aku pernah menolong seorang ibu saat aku pulang bekerja dari restoran.


''Maaf bu, saya lupa tadi. Ibu mau kemana?'' tanyaku.


''Saya akan pulang ke panti nak, nak pelangi sendiri mau kemana membawa tas begitu?'' tanya ibu itu.


''Saya tidak tahu bu, boleh saya ikut ibu?'' kataku karena tak tahu mau kemana.


''Tentu saja nak, ibu akan senang'' katanya.

__ADS_1


Kami naik bis bersama, tiga jam kami tempu perjalanan hingga tiba di panti asuhan yang dikelola ibu Asni, untung aku masih punya uang di tas hasil kerjaku selama di restoran jadi aku tidak merepotkan bu Asni untuk membayar ongkos bisku. Aku memang tak membawa apapun milik mas Hans semua yang aku gunakan adalah milikku. Baju pemberian mas Hans yang penuh darah tadi sudah aku ganti dan kukembalikan melalui Indra.


.


.


.


Sebulan bahkan dua bulan telah berlalu, mas Hans sama sekali tak pernah mencariku. Aku tinggal di panti membantu bu Asni mengurus anak-anak, aku bahagia menjalani hari-hariku meski kadang aku merindukan mas Hans.


Huwek.. huwek...


Aku merasa mual lagi, sudah beberapa hari ini perutku terasa kurang sehat. Bu Asni sudah memintaku periksa kedokter tapi aku merasa tidak perlu. Bu Asni datang menghampiriku, dia membantuku berdiri dan keluar dari kamar mandi.


''Ibu panggilkan dokter ya nak, kali ini kamu tak boleh menolak, ibu tak ingin kamu sakitnya tambah parah nak'' kata bu Asni sambil berlalu.


Tak lama iya kembali dengan seorang dokter wanita.


Dokter itu meneriksaku kemudian tersenyum.


''Apa selama ini ibu haid teratur?'' tanya dokter.


Setelah kupikir-pikir ternyata aku sudah tidak pernah haid selama dipanti, apa jangan-jangan aku hamil.


''Selamat ya bu, ibu sedang mengandung'' kata dokter itu.


''Saya hamil dok?'' tanyaku.


''Iya, kalau mau nanti sore datang ke klinik saya di depan panti ini, kita bisa cek sudah berapa bulan kandungan ibu'' kata dokter itu.


Rasa bahagia dan sedih menyeruak di dalam kalbuku. Aku bahagia karena sudah di titipkan seorang bayi didalam rahimku, tapi aku sedih karena dia akan lahir tanpa ayah. Aku tak akan memberi tahu mas Hans tentang kehamilanku, mungkin dia juga sudah lupa denganku, tak sekalipun ia mencariku.


.


Sore hari aku bersama bu Asni datang ke klinik dokter tadi, disana banyak orang yang mengantri untuk periksa kandungan juga. Aku menunggu namaku dipanggil.


''Ibu Pelangi, silahkan masuk'' kata seorang perawat.


Aku masuk kedalam ruangan dokter, dokter menyuruhku berbaring di atas ranjang. Dia memeriksa tekanan darahku, kemudian melakukan USG.


''Usia kandungan ibu sekarang sudah memasuki usia 11 minggu itu berarti 2 bulan 3 minggu, jaga pola makannya bu dan perbanyak istirahat jangan terlalu lelah'' kata dokter.


''Baik dokter, terimakasih'' jawabku.


Aku segera turun dari ranjang, dokter membuatkan resep obat dan vitamin untuk aku minum. Sebelum pulang kami singgah membeli beberapa keperluan anak-anak panti diwarung samping klinik.

__ADS_1


__ADS_2