PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
KAKAK (PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN)


__ADS_3

Rasa haru menyelimuti hatiku saat aku melihat banyak warga yang terbantu karena usaha keripik milikku.


Hari pertama di desa kami lalui dengan bengcengkrama bersama semua karyawanku. Bu Ratna tetanggaku yang selalu membantuku dulu saat masih tinggal di kampung ini, sekarang sudah tak lagi menjadi petani. Sekarang bu Ratna aku percayakan untuk mengurus rumah produksi ini. Aku tak pernah meminta bagian dari hasil rumah produksi ini, yang penting rumah ini terurus juga ada gaji untuk karyawan.


.


Hari kedua kami ada di desa ini, kami memutuskan untuk jalan-jalan di objek wisata seputar desa ini. Pertama-tama kami mengunjungi objek wisata air terjun, kami bermain air dan mandi-mandi disana. Setelah cukup lama bermain air kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu objek wisata lain, hutan pohon pinus yang membentang sepanjang bukit. Kami menikmati pemandangan sekalian makan siang juga dusana. Cukup lama kami disana, akhirnya kami menuju tujuan terakhir kami yaitu objek wisata yang menyuguhkan pemandangan bukit-bukit kecil yang penuh dengan bunga-bunga, dengan sungai-sungai kecil mengalir di sisi bukit-bukit itu.


Perasaan terasa cukup tenang saat berada disini, serasa beban berat yang selalau aku pikul tak terasa lagi bahakan terkesan lupa memiliki beban yang begitu berat. Setelah lelah seharian berjalan-jalan kami memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan Claudy dan anak pak Beni tak henti-hentinya bercerita riang tentang keseruan mereka bermain tadi.


Aku bahagia,bisa berbagi kebahagian dengan keluarga pak Beni meski hanya membawa mereka jalan-jalan di desa seperti ini. Sebenarnya aku juga meminta para karyawan untuk ikut akan tetapi mereka mengatakan bahwa sedang mengejar target karena banyak pesanan yang masuk. Saat kami tiba di rumah Claudy sudah tertidur, aku membawanya masuk kedalam kamar dan kubaringkan di atas tempat tidur.


''Mama Hans, ada pak Andre mencari ibu''


Bu Ratna menghampiriku ke kamar. Aku keluar dari kamar mencari pak Andre.


''Selamat sore pak, bu. Ada yang bisa saya bantu?'


Kataku pada pak Andre dan istrinya yang sudah duduk di ruang tamu rumah ini. Kulihat mata keduanya tampak sembab, aku tak tahu apa yang sudah membuat mereka seperti itu. Entah mereka habis menangis atau apa, aku tak tahu, tapi biasanya hanya orang yang habis menangis yang matanya sembab.


''Sore nak, ibu dan bapak kesini mau ketemu mertuamu nak'' Kata istri pak Andre.


''Tapi bu, bu Rena tidak ikut bersama kami'' Kataku pada mereka berdua.


''Nak, kamu dimana?'' Suara bu Dita memanggil.


''Aku di ruang tamu bu, sedang ada tamu?'' Jawabku.

__ADS_1


Bu Dita menghampiriku ke ruang tamu.


''Oh, ada tamu nak, sia......''


Bu Dita tak melanjutkan kata-katanya saat melihat tamu yang datang. Bu Dita langsung berlari memeluk keduanya, mereka bertiga menangis bersamaan. Aku sendiri menjadi bingung tentang apa yang terjadi sekarang, aku lupa bahwa bu Dita sepupu bu Rena berarti dia juga sepupu pak Andre.


''Kakak...hiks...hiks...'' Kata pak Andre.


''Kenapa kakian ada disini dek? Dimana Bayu?''


Siapa bayu kenapa bu Dita menanyakan Bayu?


Cukup lama mereka bertiga larut dalam suasana haru mungkin mereka sudah lama tak bertemu. Aku hanya duduk diam memandang ketiganya yang saling menangis memeluk menumpahkan rasa rindu.


''Selama ini kakak kemana? Apa kakak tidak memikirkan aku? Apa kakak tahu susahnya aku mencari kakak karena aku tak yakin kalau kakak sudah meninggal. Apa kakak tahu kalau anak-anak kakak masih hidup? Siapa yang mencelakai kakak apa kakak tahu orangnya?'' Kata pak Andre.


''Aku sudah tahu semuanya dek, bahkan mereka sudah membayar semuanya. Hanya saja anak-anakku, mereka tak mau mengakui aku ibunya. Mereka bahkan membenciku karena aku sudah membuat ibu mereka masuk penjara'' Kata bu Dita dengan wajah sendu.


''Tapi kakak kenapa tak kembali kerumah itu?''


''Aku pernah kesana dek, tapi kata orang-orang anak-anakku sudah meninggal dan aku sudah dianggap mati oleh sebagian orang, ada juga yang mengatakan bahwa aku kabur dengan laki-laki lain dek''


''Kenapa kakak tak masuk saja kedalam rumah?''


''Aku.....'' Bu Dita kemudian menceritakan bagaimana kisah hidupnya kepada sang adik. Ternyata pak Andre adalah adik kandung dari bu Dita dan hanya saudra sepupu dari bu Rena. Bu Dita mencertikan bagaimana iya bisa lolos dari maut saat itu, juga bagaimana iya bertahan hidup. Bahkan kisah percobaan pembunuhan yang dilakukan bu Rena padaku dan Claudy, pertemuan dan perjuangan kami berdua tak luput dari ceritanya.


Brak

__ADS_1


''Jadi Rena dan ibunya adalah dalang dari semua ini? Rena juga mencoba membunuh menantu dan cucumu?''


Wajah pak Andre sudah memerah padam, sepertinya dia sedang sangat marah saat ini. Terlihat dari rahangnya yang mengeras dan kepalan tangannya yang terlihat begitu kuat sampai urat-urat ditangannya terlihat.


Istri pak Andre dan bu Dita terlihat mengelus-elus lengan dan bahu pak Andre untuk menenangkan adiknya itu.


''Aku tak akan membiarkan Rena hidup tenang. Aku akan membuat dia merasakan apa yang kakak rasakan selama ini. Aku tak bisa menerima semua perlakuannya sama kakak. Saat ia datang kerumah kakak dia bersikap seolah-olah dia orang yang sangat baik, dia ingin merawat anak-anak kakak. Dia bahkan mempengaruhi semua orang bahwa mbak sudah kabur bersama laki-laki lain. Dia pandai mengambil hati semua orang yang ada disana bahkan kami semua bisa tertipu dengan sikap manisnya. Aku tak percaya Rena bisa melakukan hal itu, daripada kami tinggal disana dan bisa menjadi masalah, jika aku berdebat dengannya, kami lebih memilih pergi merantau ke kampung orang. Bahkan aku tak mengenal menantumu ini saat pertama kali dia tinggal dikampung ini, padahal aku dan istriku sering memesan kue padanya jika ada acara. Aku tahu dia menantumu saat salah satu warga mengadakan syukuran dan aku membuat video kemudian kubagikan di sosial media, Rena dan putramu melihatnya hingga mereka menyusul kesini''


Pak Andre menjelaskan panjang lebar pada bu Dita.


''Kau juga tak tahu bukan jika aku tinggal di desa tebuhan, tempat kita, ayah dan ibu sering berlibur dulu. Apa kau tak ingat bahwa orang tua kita memiliki rumah dan kebun teh disana kenapa tak mencariku kesana?'' Tanya bu Dita lagi.


''Aku tidak sampai memikirkan itu kak, aku bahkan sempat sakit selama tiga tahun setelah beredar kabar mengatakan kakak meninggal karena kecelakaan bersama selingkuhan kakak. Entah mayat siapa yang dibawah Rena pulang saat itu''


Dari pembicaraan pak Andre aku jadi lebih mengenal bu Rena orang yang selama ini aku anggap sebagai orang baik, ternyata orang jahat yang bersembunyi dibalik topeng. Bu Dita dan pak Andre beserta istrinya kembali melanjutkan bercerita kisah hidup mereka. Taka ada lagi air mata diantara mereka, hanya pak Andre yang masih sesekali terlihat emosi mendengar cerita bu Dita. Jika aku juga yang menjadi pak Andre mungkin aku bersikap sama sepertinya juga.


''Mama......''


Ternyata Claudy sudah bangun, ia berjalan mendekat kearah kami semua. Bu Dita kemudian menggendongnya dan memperkenalkannya pada pak Andre dan istrinya.


''Claudy sayang, ini oma dan opa Claudy juga'' Kata bu Dita.


''Hallo oma, hallo opa. Namaku Claudy aku cucunya oma Dita anaknya mama Pelangi, tapi Claudy tidak punya papa. Papa Claudy tak sayang sama Claudy''


Claudy kemudian menundukkan kepalnya saat selesai mengatakan kalau ia tak punya papa. Mataku menghangat melihat putriku, sungguh malang nasibmu nak, maafkan mama.


Cepat-cepat ku usap air mataku agar Claudy tak melihatnya, aku tak ingin terlihat lemah dan sedih di hadapan putriku.

__ADS_1


__ADS_2