
Pak Andre dan istrinya menatap iba kepada putriku, mata bu Dita bahkan berkaca-kaca mendengar penuturan polos dari putriku.
Pak Andre dan istrinya pamit saat hari sudah mulai malam, bu Dita mengantarkan adiknya itu sampai di teras depan.
.
Seminggu sudah kami berada di rumah produksi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena aku dan bu Dita juga masih punya bisnis yang harus kami urus.
''Bu, hari ini kita pulang ya ke rumah?''
''Iya nak, ibu juga sudah rindu ingin ke pabrik''
Selepas sarapan pagi, kami bersiap untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan sampai turun dari pesawat, tidak ada yang berbicara, sepertinya semua orang lelah karena hampir setiap hari kami berjalan-jalan.
''Bu Dita, bu Pelangi dan non Claudy terimakasih sudah mengajak bapak sekeluarga jalan-jalan''
Pak Beni menghampiriku dan bu Dita yang sedang duduk di teras.
''Iya pak Beni, kami justru bahagia pak Beni sekeluarga menikmati perjalanan kita''
Pak Beni manggut-manggut, tak lama ia meminta ijin untuk kembali melaksanakan pekerjaannya membersihkan mobil. Baru satu minggu kami tinggal mobil sudah seperti habis kena hujan debu, hampir semua badan mobil dipenuhi debu.
.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuh sedikit lemas rasanya badanku sedikit demam. Kulihat Claudy sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tumben sekali dia tak membangunkan aku, segera aku mencoba untuk bangun tapi kepalaku tiba-tiba pusing, hampir saja aku terjatuh ke lantai, jika saja bu Dita tak datang tepat waktu.
''Kamu kenapa nak?''
''Aku sedikit pusing bu dan rasanya aku juga agak demam''
Bu Dita memegang keningku, kemudian langsung keluar dari kamar, tak lama iya kembali dan membawa mangkuk yang berisi air panas serta sebuah handuk kecil. Bu Dita dengan telaten mengompres dahiku, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik bu Dita apa lagi bu Dita adalah mertuaku yang asli. Rasanya aku seperti memiliki ibu kembali, bu Dita memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.
Dua hari aku sakit, dua hari juga bu Dita merawat dan mengurusku seperti anaknya sendiri. Dia juga mengurus segala keperluan Claudy, mulai dari keperluannya di rumah, sampai keperluannya di sekolah.
__ADS_1
.
Berbulan-bulan setelahnya.
''Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur,sehat selalu dan jadi anak yang takut akan Tuhan''
''Terimakasih mama sayang''
Hari ini putriku sudah berusia 8 tahun, ternyata sudah banyak waktu yang aku lalui tanpa mas Hans disampingku. Bahkan sampai sekarang dia tak pernah menemuiku atau anaknya, tapi tak apalah aku juga sudah tak berharap padanya lagi. Hanya satu keinginanku aku ingin bertemu putraku Hans, aku sudah sangat rindu padanya hanya doa yang slalu kupanjatkan agar dimanapun iya berada selalu dalam lindungan Tuhan.
Acara ulang tahun Claudy dipersiapkan sebaik mungkin. Meski sekarang aku sudah hidup berkecukupan, akan tetapi tetap saja bu Dita yang membiayai semua acara ulang tahun Claudy, aku sudah menolak tapi bu Dita tetap kekeh jika ia yang akan membiayai acaranya.
'Claudy itu cucu ibu nak, jadi ibu ingin membahagiakan cucu ibu' Kata bu Dita waktu itu.
Rumah sudah dihias dengan berbagai hiasan, ada balon-balon dan hiasan-hiasan has acara ulang tahun.
Acara ulang tahun Claudy akan kami laksanakan sore hari jam 4 tepatnya. Sedari pagi kami sudah sibuk dirumah membuat kue-kue dan makanan untuk kami nikmati bersama-sama. Meskipun kami sudah memesan makanan untuk acara nanti tapi kami juga menyiapkan masakan rumahan.
''Bu, ada tamu'' Kata pak Beni menghampiriku kedalam rumah.
''Baik pak, suru tamunya duduk dulu di ruang tamu, saya mau bersihkan tangan dulu'' Kataku pada pak Beni.
''Baik bu''
Pak Beni berlalu ke arah ruang tamu, aku masuk kedalam kamar mandi kemudian mencuci tanganku dengan sabun. Aku pamit pada beberapa tetangga yang sedang membantuku memasak.
''Siapa ya kira-kira tamu yang dimaksud oleh pak Beni? Kenapa aku jadi semangat seperti ini? Ada-ada saja aku ini'' Gumamku lirih.
''Ada apa nak, kenapa kamu kayak orang lagi baca mantra komat-kamit sambil jalan, hehehe'' Kata bu Dita. Ternyata dari tadi bu Dita memperhatikan aku, saking seriusnya ingin bertemu tamu aku sampai tak menyadari kehadiran bu Dita.
''Ngak apa-apa bu, aku cuma penasaran siapa tamu yang ingin bertemu denganku''
Bu Dita hanya tersenyum kemudian berlalu ke arah dapur, mungkin ingin membantu orang-orang uang sedang masak disana. Aku terus berjalan ke arah ruang tamu, sesampainya disana, aku terkejut dan hampir saja terjatuh jika tak langsung berpegangan pada sofa.
__ADS_1
''Iii...ibu..., ayah...'' lirihku.
Betapa terkejutnya aku melihat dua orang yang sangat aku kenali, duduk di sofa ruang tamuku, berkali-kali kucoba mengucek-ngucek mataku, barangkali aku salah liat. Aku menutup mata agak lama kemudian kubuka kembali mataku, kedua orang itu masih ada disana, duduk dihadapanku dengan senyum yang sangat aku rindukan.
Aku terduduk lemas dilantai sambil menangis, aku tak ingin hidup dalam halusinasi ini, 'Tuhan, kenapa engkau membiarkan aku melihat kedua orang tuaku, jangan buat aku berharap yang tak mungkin Tuhan' Batinku.
''Nak''
Suara itu, suara itu suara ibu yang sering aku dengar di rekaman yang diberikan oleh mbok Serly.
''Bangunlah nak, kami sedih jika melihatmu menangis'' Kurasakan tubuhku sedang diangkat oleh tubuh kekar seseorang kemudian di baringkan di sofa.
''Nak, bangun nak, kamu ngak apa-apa?''
Terdengar suara bu Dita, aku mengerjapkan mataku perlahan-lahan. Kurasa tadi aku sedang bermimpi, bagaimana mungkin ibu dan ayahku yang sudah tiada datang mengunjungiku. Aku pasti sedang bermimpi tadi. Kataku pada diri sendiri.
''Bu, tadi aku bermimpi. Aku bertemu ibu dan ayahku bu, hiks.. hiks.. hiks.''
Aku memangis dan memeluk bu Dita. Rasa rinduku pada mendiang orang tuaku tiba-tiba datang.
''Kamu tidak bermimpi nak, ini ibu dan ayah''
Terdengar seperti suara ayah, kutolehkan kepala ke sumber suara ternyata kedua orang itu masih ada disana, masih dengan senyuman yang kulihat tadi.
''Bu, apa ibu melihat dua orang yang duduk di sofa?'' Tanyaku pada bu Dita. Jangan sampai karena terlalu rindu, aku jadi berhalusinasi jika kedua orang tuaku ada disini.
''Iya nak, ibu lihat. Duduklah dulu nak, minum air ini'' Kata bu Dita sambil menyodorkan segelas air putih padaku.
Kuraih gelas itu, kuminum airnya hingga tandas tak bersisa. Kupandangi lagi kedua orang yang ada didepanku.
''Apa kau tak ingin memeluk ayah dan ibumu nak?'' Kata orang yang mirip ayah.
Kutolehkan pandanganku pada bu Dita. Ia mengangguk seolah tahu kalau mereka orang tuaku atau mungkin bu Dita memang tahu, tapi bagaimana mungkin orang yang sudah di kubur hidup kembali.
__ADS_1
''Kemarilah nak'' Kata orang yang mirip ayah.
Rasanya aku belum percaya jika mereka orang tuaku, karena yang ku tahu mereka sudah tiada.