
Dari dalam mobil aku bisa melihat jika tenda dan kursi-kursi sudah terpasang di halaman rumah. Kak Frans berdiri di depan gerbang rumah dan mengarahkan mobil ambulans masuk ke halaman rumah. Beberapa tetangga juga terlihat membantu menyusun kursi dan karangan bunga yang datang di antar oleh beberapa ojek online.
Kak Frans dan dua orang petugas medis menurunkan jenasah om Bram dari atas mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Isak tangis pilu dari Sintia mengiringi jenasah om Bram, hatiku ikut pilu mendengar tangisannya.
''Dek, om akan kami mandikan. Lebih baik bawa Sintia untuk berganti baju dahulu'' ucap kak Frans.
''Baik kak. Ayo Sin, kamu ganti baju dulu pakai saja pakaianku''
''Tapi aku ingin disini sama papa''
''Om akan di mandikan dahulu sekarang kamu ganti baju dulu, nanti kita akan adakan ibadah''
''Tapi..''
''Pergilah dek, aku akan mengurus paman'' ujar kak Frans sambil menepuk bahu Sintia.
Aku membawa Sintia masuk ke kamar ku, ku berikan baju berwarna hitam dan celana hitam untuk ia pakai. Aku memintanya untuk mandi setidaknya dengan mandi pikirannya bisa sedikit tenang.
''Mah, orang-orang dari sekolah Audy datang mah'' ujar Claudy yang datang dari ambang pintu.
''Persilahkan mereka duduk nak, mama akan keluar nanti dengan aunty Sintia''
''Ia mah''
Aku teringat akan bu Desi saudara om Bram, segera ku hubungi nomornya namun tidak aktif. Ku coba beberapa kali namun tak bisa terhubung, ku putuskan untuk menghubungi bu Ratna saja.
Tut...
Tut....
Tut....
''Halo bu Pelangi, ada yang bisa saya bantu?''
''Halo bu Ratna, begini bu apa ibu ada nomor telponnya bu Desi?''
''Ada bu, tapi nomornya sedang tidak aktif bu''
''Kenapa bu?''
''Bu Desi sedang ke kota bu, mungkin sementara di pesawat, ini kami baru pulang dari bandara habis ngantar bu Desi''
''Ada keperluan apa bu Desi ke kota bu Ratna?''
''Saudaranya bu Desi meninggal bu. Katanya rumahnya kebakaran''
''Oh begitu bu, terimakasih bu informasinya''
''Apa ibu tidak tahu beritanya?''
''Tahu bu, karena itu saya menghubungi bu Desi namun tidak aktif. Baiklah bu Ratna trimakasih informasinya''
__ADS_1
''Sama-sama bu''
Ku akhiri sambungan telpon dengan bu Ratna dan tak lama pintu kamar mandi terbuka dan Sntia keluar dari dalam sana dengan baju yang sudah di ganti.
''Minum dulu Sin''
Aku memanggil Sintia duduk di kursi samping kasur kemudian memberinya teh hangat yang di antarkan kak Nilam tadi saat aku sedang berbicara dengan bu Ratna di telpon.
''Terimakasih Gi''
''Jangan ucapkan terimakasih kita ini saudara''
Air matanya menetes lagi kemudian memelukku, aku membalas pelukannya seraya mengusap pelan punggungnya mencoba untuk menenangkannya.
''Minumlah dulu, kita akan keluar menemui para pelayat yang datang. Orang-orang dari sekolah sudah datang juga orang-orang dari perusahaan ayahmu''
Sintia mengangguk kemudian meneguk perlahan-lahan teh hangat yang ku berikan hingga tak terasa tehnya habis tak tersisa.
''Ayo Gi''
''Ayo, cobalah untuk ikhlas Sin''
''Iya Gi, aku harus kuat seperti kata ayah''
''Ia aku akan tetap bersamamu Sin''
Aku berjalan bersisihan dengan Sintia keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu untuk menemui para pelayat yang terus berdatangan.
''Turut berduka cita nak Sintia'' ucap bu Helmi guru di sekolah tempat Claudy sekolah.
''Ia Gi, aku tak apa-apa. Aku merasa sudah lebih baik sekarang''
''saya permisi masuk dulu''
Aku mencari Claudy dan baby Queen, ternyata mereka ada di kamar Claudy. Syukurlah baby Queen tak rewel dan tak terganggu dengan banyaknya orang di rumah ini.
''Nak, jagain baby Queennya dulu ya, mamanya sedang sibuk''
''Ia mah, dedek Queennya juga anteng mah''
''Mama keluar dulu ya''
''Dek, ada yang mencarimu di luar'' ujar kak Nilam dari arah pintu.
''Ia kak, saya akan segera keluar''
Aku berjalan di belakang kak Nilam menuju ke pintu utama, disana aku melihat bu Desi, Rivaldi dan piter.
''Silahkan masuk bu, nak'' ujar ku membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Setelah mendudukkan mereka di ruang keluarga aku menuju ke ruang tamu menemui Sintia.
__ADS_1
''Sin, ada bu Desi di dalam''
''Ayo kita ke dalam, saya permisi sebentar bu, pak'' ujar Sintia kemudian mengikutiku menemui bu Desi.
Saat masuk ke ruang keluarga tangis bu Desi dan Sintia pecah, tangisan pilu terus terdengar dari keduanya.
''Kakak Rival dan kakak Piter'' ujar Claudy.
''Ia sayang, bagaimana kabarmu?''
''Aku baik kakak, kalian sedang apa disini?''
''Apa kamu lupa kalau opa Bram ini paman kakak?''
''Oh iya aku lupa hehehe''
''Sudahlah nak, jangan menangis lagi,kamu harus kuat ini semua sudah jalan takdir. Ingat kamu masih punya kami semua jadi kamu jangan merasa sendiri'' Ujar bu Desi.
''Ia kak, kakak juga masih punya aku dan Piter'' ujar Rivaldi.
''Terimakasih semuanya''
''Ayo kita temui para pelayat'' ujar ku.
Aku, bu Desi dan Sintia menuju ke ruang tamu untuk menemui para pelayat yang masih terus berdatangan. Rivaldi, Piter dan Claudy sibuk membantu orang-orang yang sedang menata kursi dan karangan bunga yang masih terus berdatangan.
Satu jam semenjak kedatangan bu Desi akhirnya om Bram sudah selesai di mandikan dan dipakaikan baju. Om Bram masih terlihat sangat gagah dengan balutan kemeja putih, celana hitam dan jas senada terlebih lagi dengan senyuman yang terlihat di wajah om Bram. Meski ia sudah terbaring kaku di atas ranjang, namun ia tak seperti telah pergi ia terlihat seperti sedang tertidur saja.
''Lihat nak, ayahmu pergi dengan bahagia. Lihatlah senyumnya itu, masih sama seperti dulu'' ujar bu Desi sambil terus mengusap-usap wajah sang kakak dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
Cukup lama ia meneliti setiap jengkal wajah sang kakak hingga akhirnya air mata yang susah payah ia tahan akhirnya jatuh juga di iringi isak tangis yang tertahan namun terdengar memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.
''Sudah bi, bibi bilang aku harus kuat tapi kenapa sekarang bibi yang terlihat rapuh. Bagaimana aku akan kuat jika bibi juga meratapi kepergian ayah seperti ini'' ujar Sintia dengan derai air mata.
''Maafkan bibi nak, ternyata bibi juga tak bisa kuat menerima semua ini''
''Dek, ada orang dari perusahaan datang'' bisik kak Nilam.
''Aku akan kesana kak''
Aku dan kak Nilam beranjak ke halaman rumah menemui beberapa orang yang datang dari perusahaan.
''Turut berduka cita nak Sintia dan bu Pelangi'' ujar pak Bimo, kepala salah satu cabang perusahaan.
''Terimakasih pak'' ujar Sintia.
''Silahkan duduk pak Bimo dan semuanya''
Pak Bimo dan beberapa orang yang bersamanya kami persilahkan duduk, Sintia masih tinggal dan berbicara dengan mereka, sedangkan aku menemui kak Nilam yang memanggilku dari arah pintu samping.
''Ada apa kak?''
__ADS_1
''Ibu dan Ayah Claudy sudah di temukan dek''
''Syukurlah'' hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir ku. Aku begitu bahagia hanya dengan mendengar kabar bahwa ibu mertua dan mas Hans sudah di temukan, meski belum tahu kabar mereka bagaimana setidaknya aku tahu jika mereka masih hidup.