
Aku berusaha menata hati, rasanya belum bisa ku percaya jika orang yang duduk dihadapanku saat ini adalah orang yang sangat aku rindukan.
Hati dan pikiranku berjalan tak seirama, dalam pikiranku tak percaya apa yang ada dihadapanku saat ini akan tetapi, dalam hatiku berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang selama ini aku rindukan.
''A... ay..ayah.., i...iii.ibu....''
Tanpa terasa bulir bening telah menetes dari sudut netraku, pandanganku mulai mengabur karena mataku sudah dipenuhi oleh cairan bening yang berlomba-lomba membasahi pipiku.
Segera aku bangkit dari sofa, sedikit berlari ke sofa di depanku memeluk dua orang yang sangat aku rindukan dalam hidupku. Kutumpahkan segala rasa rindu dalam dada, rasa yang tak bisa kusampaikan selama ini. Kupeluk keduanya dengan erat, tak peduli jika semua orang dirumah melihatku menangis seperti anak-anak. Aku sangat rindu kepada mereka. Tuhan terimakasih atas semuanya, engkau begitu baik padaku.
''Apa aku tak salah liat? Apa benar ini ayah dan ibu? Tapi bagaimana mungkin?''
Aku bingung dengan semua ini, rasanya aku sedang bermimpi indah. Jika aku sedang bermimpi tolong jangan bangunkan aku Tuhan biarlah aku terus bermimpi.
''Tidak nak, ini memang kami. Kamu harus jadi anak yang kuat nak'' Kata ayah.
Kami berpelukan, menangis, saling menumpahkan rasa rindu di hati. Cukup lama kami larut dalam tangisan sampai suara Claudy terdengar memanggilku.
''Mama, mama mmmmmm'' Terdengar suara Claudy sedang menangis.
Kucoba kubuka mataku, ternyata aku ada disebuah ruangan dengan nuansa serba putih dan biru, banyak alat-alat medis di tubuhku. Apa yang terjadi denganku sehingga aku bisa ada disini?
''Mama, jangan tinggallin Claudy mama, mmmmmmm'' Claudy duduk di kursi samping ranjang menangis sesegukan sambil terus memegang tanganku.
Tubuhku terasa lemas dan dadaku terasa sakit, kucoba melihatnya tapi pintu tiba-tiba terbuka dan muncullah bu Dita dari sana. Bu Dita menghampiriku dengan mata sembab sepertinya dia habis menangis, dengan langkah-langkah panjang bu Dita mendekati ranjangku.
''Kamu sudah sadar nak?''
Bu Dita mengelus kepalaku sambil sesekali masih kulihat dia mengusap sudut matanya, berarti benar dugaanku bu Dita habis menangis.
''Iya bu, apa yang terjadi bu? Kenapa aku bisa berada di rumah sakit? Dan kenapa ibu menangis?''
''Maafkan ibu nak, ibu tak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan ibu yang sudah menyakitimu nak. Huhuhuhuhu''
__ADS_1
Bu Dita menangis sejadi-jadinya, apa maksud bu Dita kenapa ia meminta maaf. Tak ada kesalahan bu Dita yang harus aku maafkan.
''Kenapa ibu minta maaf?'' Tanyaku heran.
''Maafkan ibu nak, maafkan ibu yang sudah lalai menjagamu hingga Rena mencelakaimu. Ibu tak tahu jika Rena akan mencelakaimu nak, meteka datang dengan baik, jadi ibu menyambut mereka dengan baik tak tahunya..... hhhuhuhuhuhu....''
Apa maksud bu Dita jika bu Rena mencelakaiku, bukankah bu Rena ada di dalam penjara? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa aku hanya bermimpi jika ibu dan ayah masih hidup? Inikah arti kata-kata ayah 'Aku harus jadi anak yang kuat'. Aku harus memastikan semuanya pada bu Dita.
''Bu, sebenarnya apa yang terjadi?''
''Nak, Rena sudah menembakmu nak. Awalnya mereka sekeluarga datang kerumah kita, katanya ia ingin minta maaf, karena mereka datang sekeluarga ibu pikir memang mereka memiliki niat baik. Ibu mengajak semuanya masuk kedalam rumah, saat mereka semua masuk, bu Rena minta ijin untuk ke kamar mandi. Tapi ternyata ia tak ke kamar mandi nak, ia justru ke arah dapur, menembakmu dan kamu langsung tak sadarkan diri nak huhuhu... maafkan ibu nak. Semua ini kesalahan ibu nak, rasanya ibu sudah gagal jadi ibu. Untung saja masih banyak orang-orang yang membantu menghentikan Rena nak, jika tidak mungkin kamu tak akan ada disini lagi. Rena menembakmu tiga kali, di dada dan bahumu. Tadinya ibu berpikir jika ibu akan kehilangan kamu nak''
Deg
Jadi aku hampir mati? Kapan bu Rena datang, seingatku aku sedang membantu ibu-ibu masak-masak dirumah, kemudian pak Beni datang dan mengatakan ada tamu. Apa tamu itu bu Rena dan keluarganya? Apa karena disana ada mas Hans sehingga aku begitu bersemangat mendengar ada tamu.
''Saat itu kamu sedang di dapur nak membantu ibu-ibu masak, pak Beni kemudian ibu suruh memanggilmu karena ada Hans putramu. Ibu yakin kamu akan bahagia bertemu dengannya. Belum sempat pak Beni memanggilmu sudah terdengar suara tembakan dan teriakan ibu-ibu dari arah dapur. Kami semua langsung berlari menuju dapur dan mendapatimu, sudah terkapar dilantai bersimbah darah nak, sementara Rena sudah dipegangi oleh beberapa ibu-ibu''
''Mama.... mama... mmmm''
''Ini mama nak, kamu jangan nangis. Sini peluk mama'' Kataku sambil mengulurkan tangan.
Claudy naik ke tempatku tidur, ia ikut berbaring disampingku ku peluk putriku yang malang ini. Dia selalu saja hidup menderita denganku.
''Mama jangan tinggalin Claudy ya? Mama harus sehat, Claudy tak apa-apa tak punya papa yang penting Claudy punya mama dan oma Dita'' Kata putriku.
''Iya nak, apa kamu ngantuk?''
Kulihat mata putriku sayu, sepertinya ia sangat lelah.
''Jika Claudy ngantuk, Claudy bobo saja temani mama disini''
Claudy menganggukkan keplanya dan tak lama ia tertidur. Ternyata putriku benar-benar lelah.
__ADS_1
''Bu, tidurlah aku tak apa-apa. Jangan salahkan diri ibu atas yang sudah terjadi, semua ini sudah takdir yang harus aku laui bu. Aku yakin akan ada hal baik setelah ini''
''Baiklah nak''
Bu Dita kemudian berlalu ke sudut ruangan dan mulai tertidur juga di kasur lantai yang disediakan di ruangan ini. Aku tahu ia sangat lelah hanya saja ia tak mau membiarkanku sendiri.
Rasanya aku juga mengantuk tapi mataku tak bisa tertutup. Pikiranku masih dibayang-bayangi oleh bu Rena. Entah apa yang dipikirkan keluarganya sekarang? Begitu besar rasa bencinya padaku hingga ia ingin melenyapkan aku.
Toktoktok
Toktoktok
Toktoktok
Suara pintu diketuk, aku jadi parno sendiri, jangan sampai yang datang orang jahat?
Ceklek
Aku terus menatap ke arah pintu saat daun pintu sudah mulai terbuka, rasa was-was terus menghantui pikiranku. Aku bersyukur karena yang datang ternyata seorang dokter dan beberapa orang anggota kepolisian. Bahkan jika aku tak salah mengenal, aku seperti tak asing dengan salah satu di antara petugas kepolisian itu.
''Selamat sore bu Pelangi. Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu sudah merasa lebih baik dan bisa memberikan keterangan pada bapak petugas?'' Tanya sang dokter, yang ku ketahui namanya dokter Richard, tertulis di jaket putihnya.
''Sore dokter dan pak polisi, saya sudah baikan pak''
''Boleh kami minta keterangan tentang kasus penyerangan yang ibu alami?'' Tanya seorang petugas polisi.
''Tentu pak, terimakasih atas bantuannya''
Pak polisi kemudian mulai menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan kasus penyerangan yang aku alami, mulai dari kronologinya, siapa pelakunya dan saksi-saksinya, aku menjawab sesuai yang aku ketahui. Cukup banyak pertanyaan yang aku harus jawab tapi itu semua agar kasus ini bisa diselesaikan dengan cepat. Aku pikir dengan bu Rena ada didalam penjara kasusku sudah selesai ternyata belum dan masih berlanjut.
Setelah urusan pak polisi selesai, mereka kemudian mohon pamit untuk kembali ke kantor mengumpulkan semua bukti untuk kasus penyerangan yang aku alami. Saat hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba seorang petugas polisi kembali kedalam ruanganku, ia membawa sebuah buku. Aku seperti mengenal buku itu, tapi aku tak ingat persis. Aku merasa buku itu adalah milikku.
''Hai, masih ingat aku?'' Tanya petugas polisi itu.
__ADS_1
Aku menyipitkan mata, mencoba memperhatikan lebih jelas dan mengingat-ingat siapa orang ini. Sepertinya kami sangat dekat.