PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
NYONYA HANS


__ADS_3

Kring...


Kring....


Kring....


suara dering ponsel membangunkan aku di pagi hari, segera kuraih ponsel dan menerima panggilan tanpa membuka mata, entah siapa yang menghubungi pagi-pagi begini? Tak sadar bahwa aku bukan lagi dikamarku dikos.


''Halo selamat pagi, apa benar ini dengan nonya Hans?'' sapa seorang wanita di ujung telpon


''Selamat pagi juga bu, maaf saya pelangi bukan nyonya Hans'' jawabku


''Hahahaha, kau adalah nyonya Hans sayang, karena kau sudah menjadi istriku sekarang, hahhahaha'' kata mas Hans yang datang dari arah pintu membawa nampan.


''Apa nyonya istri dari tuan Hans?'' tanya wanita di ujung telpon


''Benar bu, saya istri mas Hans'' jawabku lagi


''Hehehehe, kalau begitu anda adalah nyonya Hans, nyonya'' kata wanita itu sambil tertawa


''Oh, begitu ya bu, maaf saya tidak tahu'' jawabku malu-malu,


''Tidak apa-apa nyonya, apa tuan Hans ada? Tolong sampaikan pada tuan Hans, bahwa hari ini ada rapat dengan para dokter di rumah sakit jam 8 pagi. Terimakasih sebelumnya dan maaf sudah merepotkan nyonya.''


''Baiklah bu akan saya sampaikan, terimakasih atas informasinya'' jawabku sebelum mengakhiri panggilan.


Kulihat mas hans sudah memakai pakaian rapi, sepertinya dia sudah mandi, tercium aroma wangi sabun dari tubuhnya, membuatku memejamkan mata saat menghirup wanginya.


''Sampai segitunya nyium aroma tubuh mas'' kata mas Hans yang ternyata wajahnya sudah ada di depan wajahku, pantas saja aroma wangi tubuhnya semakin kuat tercium.


''I...iya..iya mas, eh.. maaf mas maksud saya...'' kataku terbata-bata entah apa yang harus aku katakan aku bingung juga merasa malu sama mas Hans karena ketahuan sedang menghirup aroma yang keluar dari tubuhnya, apa lagi sekarang wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja.


''Tidak apa-apa sayang, sekarang mas sudah menjadi milikmu seutuhnya, jangankan aroma tubuh mas, kamu bahkan bisa mencium setiap bagian tubuh mas'' kata mas Hans sambil terus memandangku, menaik turunkan alisnya sambil mengedipkan mata. Kata-kata mas Hans semakin membuatku malu, aku langsung menundukkan kepala tidak ingin mukaku yang sudah merona dilihat oleh mas Hans.


Aku jadi salah tingakah sendiri karena mas Hans masih terus memandangku, dari posisi setengah membungkuk di depanku dia kemudian beralih duduk di atas ranjang disampingku. Dia menyodorkan susu yang iya bawa tadi di atas nampan,

__ADS_1


''Sayang minum susu dulu, habis itu kamu mandi dan kita sarapan sama-sama, ayah dan ibu sudah menunggu'' katanya


''Mas, maaf sebagai istri aku belum bisa mengurus mas, malah mas yang harus mengurusku'' kataku tak enak hati


''Tidak apa-apa sayang, kamu sedang kurang sehat kalau kamu sehat baru boleh ngurus mas''


Segera kuminum susu yang diberikan mas Hans hinggah tandas, kuberikan kembali gelas itu kepada mas Hans, aku segera membuka selimut berniat untuk mandi, tapi belum sempat aku buka, mas Hans sudah lebih dulu membuka selimutnya untukku, kemudian dia menggendongku masuk kedalam kamar mandi.


''Mandilah sayang, aku akan memgambil baju ganti untukmu, jika tidak bisa mandi sendiri aku akan membantumu'' kata mas hans mendudukkan aku diatas kursi plastik didalam kamar mandi kemudian berlalu keluar kamar mandi


''Aku bisa sendiri mas, terimakasih'' jawabku tanpa memandang wajahnya karena aku masih merasa malu.


Secepat mungkin aku mandi sebelum mas Hans masuk kembali ke kamar mandi, cukup 10 menit aku mandi kemudian memakai handuk. Tak lama mas Hans datang membawa baju untukku, dia berhenti di pintu saat melihat aku hanya memakai handuk saja. Aku jadi merasa tambah malu karenanya karena tak pernah ada laki-laki yang melihat tubuhku hanya memakai handuk.


Baju yang dibawah mas Hans terlihat jatuh dari tangannya, tanpa perduli bajunya yang sudah rapi akan basah lagi, dia segera menggendongku kembali ke atas ranjang, segera kuraih kembali selimut untuk menutupi tubuhku dan bersembunyi didalamnya


''Mas, bisa tolong ambilkan bajuku?'' tanyaku dari balik selimut tapi tak ada jawaban dari mas Hans


''Mas.... apa mas bisa tolong ambilkan bajuku, aku merasa kedinginan'' kataku mengulang perkataanku


Aku mengintip dari balik selimut mas Hans sedang mencari pakaian di lemari. Aku jadi berpikir bahwa apa mas Hans juga harus mencari pakaian dalamku, aku jadi tambah malu lagi. Seumur-umur tak pernah ada orang lain yang memegang pakaian dalamku selain aku sendiri dan sekarang mas Hans yang akan mengambilkannya. Tak lama mas Hans datang membawa sebuah dress dengan panjang sampai lutut beserta dengan pakaian dalam yang masih baru.


''Maaf sayang koper kamu belum mas bongkar, mas tidak tahu baju seperti apa yang kamu sukai? Ini baju dari oma, oma mengirimkan banyak baju untukmu, kalau kamu tidak suka nanti kita beli baju yang kamu suka'' katanya


''Terimakasih mas, apa mas bisa keluar dulu, aku mau ganti baju, aku malu jika ada mas'' kataku


''kenapa kamu malu sayang mas ini suamimu, tapi tak apa mas akan keluar panggil mas jika kamu sudah selesai, mas tunggu kamu di depan pintu'' katanya


Setelah mas Hans keluar dari kamar secepat kilat aku mengganti baju, kusapukan bedak bayi pada wajahku dan sedikit pelembab bibir beraroma coklat, setelah selesai aku melihat ada kursi roda disamping kasur, karena aku berpikir tak ingin merepotkan mas Hans, aku meraih kursi roda kemudian duduk di atasnya. Kujalankan kursi roda ke arah pintu.


Ceklek


Kubuka pintu kamar ternyata mas hans benar-benar masih ada di depan pintu,


''Sudah siap sayang, kenapa tak memberitahu mas, mas bisa menggendongmu keluar'' katanya dengan raut wajah khawatir

__ADS_1


''Maaf mas, aku tak ingin terus merepotkan mas'' kataku


''Kamu tidak merepotkan mas sayang'' jawabnya seraya mengangkatku dari kursi roda kedalam gendongannya


''Mas, aku tak apa duduk di kursi roda mas tak perlu terus menggendongku nanti akau akan jadi manja dan ketergantungan sama mas''


''Aku malah senang kalau nanti kamu tergantung sama mas, meski kakimu nanti sudah sembuh mas akan tetap selalu menggendongmu seperti ini''


Aku hanya menunduk tak berani menatap pria yang sedang menggendongku ini, meski dia suamiku tapi aku masih malu padanya.


Suiuuiiiiiiittttt......


Terdengar suara siulan, kurasa sekarang kami sudah sampai di ruang makan, mas Hans mendudukkan aku di sebuah kursi kemudian dia juga duduk di kursi di sebelahku.


''Pagi sayang, ada apa sayang? Apa anak nakal itu mengganggumu'' kata ibu mertua


''Pagi bu, saya tidak apa-apa, maaf sudah membuat semuanya menunggu''


''Tidak apa-apa sayang kami juga baru duduk disini, katakan pada ibu jika Hans mengganggumu''


''Aku tidak mengganggunya bu, aku hanya menggodanya, tadi dia keluar memakai kursi roda padahal akukan masih kuat menggendongnya'' kata mas Hans membela diri.


''Apapun alasan kamu, jangan ganggu putri ibu, dia masih kurang sehat jadi kamu harus bisa menahan diri dulu, kalau kamu sampai ketahuan menyakiti putri ibu, kamu akan ibu kasih pelajaran, paham!''


''Iya, iya bu, anak ibu itu siapa sih aku atau pelangi? Kayaknya ibu lebih sayang padanya'' kata mas Hans merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. Aku merasa lucu melihat wajahnya seperti itu tanpa sadar ternyata aku tersenyum memandangnya


''Tuh, bu, lihatkan aku tidak menyakitinya, justru aku bisa membuatnya tersenyum saat memandangku''


Hahahahaha, suara orang-orang tertawa di ruang makan, kurasa sekarang pipiku sudah sangat merona aku malu sekali.


Ya ampun pelangi, koq kamu bisa ceroboh terus sih kalu lagi melihatnya, jadi malu sendirikan, kamu selalu ketangkap basah jika memandangnya. Batinku berbicara


''Sudah.. sudah ayo kita makan. Mbak Weni tolong bawakan lauknya.'' kata bu mertua


Mbak weni dengan sigap dan telaten menyusun semua makanan di atas meja makan. Mbak Weni, pak Zul dan bi Asih juga ikut duduk makan bersama kami, aku semakin bangga dengan keluarga suamiku, mereka sangat menghargai orang lain dan semua yang ada dirumah mereka juga mereka anggap sebagi keluarga.

__ADS_1


__ADS_2