PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
AKU TAK AKAN KALAH


__ADS_3

Segera aku kembali kedalam rumah lewat lorong yang aku lewati tadi. Hanya aku yang tahu lorong rahasia ini, bu Dita atau anak-anakku tak ada yang tahu tentang ini.


Setibanya di dalam rumah aku membenahi dandananku kembali seperti semula dan bergabung dengan orang-orang yang ada di dalam ruang persembunyian.


''Ibu dari mana? Kenapa lama sekali perginya? Kami semua hawatir bu?''


Putraku Hans langsung mencercaku dengan banyak pertanyaan begitu aku memasuki ruangan. Bu Dita terlihat sedang tertidur lelap, dan Claudy juga tertidur di samping bu Dita.


''Ibu tidak apa-apa?'' Tanya istri pak Beni.


''Tidak bu, saya baik-baik saja. Kalian istirahatlah kita aman disini''


Kulihat istri pak Beni sangat lelah juga raut hawatir tergambar jelas di wajahnya yang sudah cukup tua. Aku dan Hans memutuskan untuk memantau keadaan di luar melalui layar monitor yang tersambung dengan cctv di setiap sudut rumah ini.


Rupanya para orang bayaran bu Rena belum menyerah juga, meski mereka sudah terkepung namun mereka masih terus melawan. Sementara beberapa warga setempat sudah mulai berdatangan, aku jadi hawatir jangan sampai ada warga yang terluka karena peluru nyasar.


''Ma, apa Hans bisa keluar membantu orang-orang disana?''


Perkataan putraku membuatku langsung menolehkan kepala ke arahnya, entah apa yang dipikirkan anakku sehingga ia berniat untuk keluar kesana, sementara aku tahu jika ia adalah target para penjahat itu.


''Tidak nak, kamu tidak boleh kesana. Tidak boleh ada yang keluar dari ruangan ini'' Kataku tegas.


Hans menganggukkan kepalanya meski ku tahu ia tetap ingin kesana. Aku kembali fokus menatap layar monitor, ternyata para penjahat itu sudah mulai mundur dan satu persatu masuk kedalam mobil. Rupanya mereka akan melarikan diri. Ah, tapi sayang, kalian tidak akan bisa kemana-mana.


''Ma, mereka mau kabur, apa yang harus kita lakukan?'' Tanya Hans.


''Tenang saja nak, mereka tidak akan kemana-mana. Lihat saja sebentar lagi mereka akan tertangkap'' Ucapku sambil memamerkan senyum kepada putraku.

__ADS_1


Mungkin karena bingung dengan ucapanku putraku malah menggaruk-garuk kepalanya. Tak lama kemudian ponselku berdering, ternyata dari pak Soni.


''Selamat malam bu, mereka sudah kembali ke mobil. Apa langkah selanjutnya sebelum mereka kabur?''


''Tunggu saja 2 menit lagi pak, setelah itu bapak dan pak polisi ke mobil dan menangkap mereka semua. Mereka tak akan bisa kemana-mana. Oh iya pak, jangan lupa bawa gunting yang tajam mungkin bapak perlu nanti''


Hening sejenak mungkin pak Soni sedang heran dengan apa yang aku ucapkan.


''Baik bu''


Setelah memutus panggilan dengan pak Soni aku kembali menatap layar monitor, kuperhatikan dari cctv di pagar dekat mobil para penjahat, ternyata mereka semua sedang sibuk karena mereka semua sudah terjebak lem pada jok mobil. Sebagian juga sudah kaku tak bisa bergerak, mungkin sudah minum ramuanku hahaha.


Ku coba menghubungi pak Muklis salah satu petugas kepolisian yang bertugas untuk mengawal kami selama disini. Bukan tanpa sebab mereka mau ikut, karena ternyata 5 dari 9 orang penjahat yang dibayar bu Rena adalah buronan kepolisian.


''Selamat malam pak, bapak dan anggota bapak sudah bisa menuju ke mobil tersebut. Semuanya sudah aman silahkan bapak-bapak tangkap mereka. Saya bisa memastikan keamanan bapak dan anggota karena saya bisa melihat mereka sudah lemas di mobil. Saya memantau mereka dari cctv di rumah saya''


Oh, tentu aku tak akan mengatakan jika aku yang membuatnya. Bisa-bisa aku ditangkap karena tak memiliki ijin membuat obat-obatan.


''Baik bu, terimakasih informasinya''


Kututup panggilan tersebut dan kembali ku amati kamera cctv. Para petugas kepolisian sudah mulai bergerak ke arah mobil para penjahat, dengan langkah hati-hati dan membawa senjata mereka mendekati mobil.


'Aduh pak ngapain sih. Udah sana cepat tangkap pak, orang sudah kayak ayam sakit koq para penjahatnya' Batinku gemas.


Perlahan tapi pasti, mereka mendekati mobil dan ketika sampai di mobil mereka semua terdiam, mungkin tercengang dengan pemandangan yang ada di dalam mobil tersebut. Bagaiamana tidak pasti para penjahat sudah tak bisa bergerak karena lengket dan ramuanku tentunya.


Akhirnya semua penjahat telah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi terdekat. Mereka akan ditahan sementara disana, sambil menyelidiki apa motif dari semua ini. Aku berharap mereka mau buka suara hingga bu Rena dan Sandra bisa ditangkap juga dan mendapatkan hukuman. Kali ini aku tak akan membiarkan mereka bebas lagi.

__ADS_1


Aku tak akan kalah karena tak akan aku biarkan orang-orang menyakiti orang-orang disekitarku terutama keluargaku. Dan akhirnya aku menang.


Karena kantor polisi lumayan jauh dan sudah malam aku memutuskan untuk ke kantor polisi besok pagi saja. Kulihat semua orang yang ada di ruangan ini, rupanya semua sudah tertidur lelap kecuali aku dan pak Beni yang masih terjaga.


Aku menghampiri pak Beni dan menyuruhnya istirahat juga.


''Semuanya sudah aman pak, semua penjahatnya sudah dibawa polisi. Silahkan bapak istirahat, saya juga mau istirahat''


Pak Beni hanya mengangguk dan berjalan menuju ke tempat istri dan anaknya berbaring dan ikut berbaring sambil memeluk anak dan istrinya. Terkadang aku iri melihat kebahagiaan keluarga pak Beni, meski mereka hidup tak bergelimang harta, namun kehidupan mereka dipenuhi kebahagiaan.


Namun setelah kedatangan Hans, aku tak lagi iri karena merasa keluargaku sudah utuh. Meski tanpa sosok seorang suami, aku tetap bahagia dengan keadaanku yang sekarang dan aku tak lagi berharap untuk memikirkan pasangan hidup yang aku pikirkan hanya masa depan anak-anakku sekarang.


Karena badan juga terasa lelah, akupun memutuskan untuk ikut tidur juga. Aku berbaring disamping Claudy, kulihat wajahnya yang tertidur pulas meski ada raut ketakutan terlihat di wajahnya.


.


Keesokan harinya pagi-pgi sekali kami sudah pergi ke salah satu kantor polisi tempat dimana para penjahat semalam di bawa. Setibanya disana kami disambut oleh seorang petugas polisi yang ikut dalam rombongan kami dari kota.


''Selamat pagi bu, silahkan lewat sini. Mungkin ada beberapa pertanyaan yang membutuhkan konfirmasi dari ibu dan keluarga. Ibu juga bisa bertemu dengan para penjahat nanti''


Kami memasuki salah satu ruangan yang cukup besar di kantor polisi, berjumpa dengan salah satu anggota kepolisian yang bertugas mengumpulkan informasi tentang penangkapan tadi malam.


Banyak pertanyaan yang di ajukan kepadaku, dan kujawab sesuai dengan yang aku ketahui. Surat ancaman dan bukti cctv semua juga aku serahkan kepada polisi. Setelah selesai aku di persilahkan untuk menemuii para tersangka.


''Sepertinya masalah ini akan cepat selesai bu, mengingat dalang dari kasus ini juga ikut tertangkap semalam''


Mataku membulat mendengar perkataan petugas polisi tersebut. Apa katanya tadi? Dalangnya juga ikut tertangkap semalam? Berarti bu Rena dan Sandra ada juga di antara orang-orang yang berada di rumahku tadi malam. Aku sempat berhenti melangkah, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan para tersangka terutama bu Rena dan Sandra.

__ADS_1


Entah bagaimana ekspresi Hans jika mengetahui dalang dari semua ini ikut tertangkap. Biar bagaimanapun mereka yang sudah membesarkan Hans.


__ADS_2