
.
''Selamat malam tuan dan nyonya, ada yang bisa kami bantu?'' sapa seorang petugas kepolisian saat kami baru saja tiba di kantor polisi
''selamat malam juga pak, kami ingin mencabut laporan'' kata mas hans
''silahkan lewat sini pak'' kata pak polisi menuntun kami ke sebuah ruangan
Tok...tok...tok...
''silahkan masuk'' kata seseorang dari dalam sana
didalam ruangan itu ada dua orang petugas kepolisian
''selamat malam tuan dan nyonya ada yang bisa kami bantu?'' tanyanya dengan wajah sedikit bingung mungkin karena melihat kami datang malam-malam dan masih memakai pakaian di pesta tadi
''selamat malam pak, kami kesini ingin mencabut laporan saya atas nama nyonya ratna dan nona sandra'' jawab mas hans memandangku
''baiklah pak saya periksa dulu laporannya, man tolong panggil tahanan atas nama nyonya ratna dan nona sandra'' kata petugas polisi itu pada seorang temannnya
''siap laksanakan'' jawab petugas polisi itu kemudian berlalu
.
Tak lama bi ratna dan sandra datang keruangan yang sama dengan kami, bi ratna dan sandra mendekat namun mas hans melarang
''tidak apa-apa mas mungkin ada yang mereka ingin sampaikan'' jawabku pada mas hans
sandra dan bi ratna menghampiriku kemudian mereka berdua memelukku. Mereka menangis tersedu-sedu
''maafkan bibi pelangi hiks..hiksss'' kata bi ratna
__ADS_1
''maafkan aku juga pelangi'' kata sandra
''tidak apa-apa aku sudah memaafkan kalian'' jawabku sambil memeluk keduanya
''ingat pelangi urusan kita belum selesai, aku akan terus mengganggumu sampai kau pergi dari kehidupan tuan hans, ibuku yaitu bibimu akan membantuku, akan kurebut tuan hans darimu'' kata sandra yang membuatku terkejut
Kupikir mereka benar-benar menyesal tetapi aku salah mereka cuma berpura-pura. Apa tadi ia katakan bi ratna ibunya? Setahuku bi ratna hanya memiliki dua putri dan mereka semua tinggal di kampung aku mengenal mereka. Setelah mengatakan itu mereka berdua melepas pelukan dan berlalu keluar kantor polisi tanpa berterimakasih pada mas hans. Aku jadi merasa bersalah pada mas hans
''maaf mas kalau ini membuat mas hans sakit hati, terimaksih sudah mencabut laporannya mas'' kataku pada mas hans
''jangan minta maaf sayang, apapun yang membuatmu bahagia mas akan menurutinya'' kata mas hans
Setelah berterimakasih pada pak polisi kami juga ijin untuk pamit pulang karena sudah larut malam. Setiap naik turun mobil mas hans akan memggendongku hal itu membuat pipiku merona karena malu. Kami tiba dirumah saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, rumah sudah sepi saat kami tiba semua lampu sudah padam hanya lampu-lampu meja saja yang menyala. Mas hans mendorong kursi rodaku kedepan sebuah pintu yang kuperkirakan ini adalah pintu kamar kami
''kejutan''
suara teriakan ibu mertua,mas hans menggendongku saat memasuki kamar, aku jadi malu karena didalam kamar itu banyak sekali orang, ibu kos sekeluarga juga ada bahkan semua teman kerjaku ada disana kecuali sandra yang mungkin sudah kembali kerumahnya sepulang dari kantor polisi tadi.
''apa ini bu?'' tanyaku
''betah banget gendong-gendongan'' kata seorang pria yang wajahnya mirip dengan mas hans. Aku langsung menoleh pada pria yang sedang menggendongku jangan sampai bukan mas hans yang menggendongku. Tapi saat kuperhatikan mas hans sedang menggendongku lalu akau menoleh lagi pada pria tadi dan dia masih disana, aku jadi menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap keduanya bergantian. Aku pikir mungkin ini ilusi saja karena obat bius atau kepalaku masih pusing karena terbentur tadi.
''biar saja, dasar jomblo iri mulu'' jawab mas hans
''huu.....s, bisakah kalian berdua ini bisa berhenti berdebat, lihat putri ibu jadi bingung gara-gara kalian berdua, hans bisa kamu dudukan putri ibu'' kata ibu mertua
''iya bu'' jawabnya sambil mendudukkan aku disebuah sofa tunggal, aku jadi terkekeh sendiri melihat mas hans yang selalu dimarahi ibunya, bukan marah yang bagaimana tapi marah yang hanya sekedar bercanda, yang anaknya ibu mertua sebernarnya aku apa mas hans hehehe
''ini apa bu, dan siapa itu?'' tanyaku pada ibu mertua sambil memperhatikan pria yang sangat mirip dengan mas hans, dia sedang terkekeh melihatku yang sedang bingung
''hehehe ini kejutan ulang tahun untukmu nak, dan pria gagah disana itu yang syangnya ngak laku-laku itu anak ibu kakak kembar suamimu namanya frans'' kata ibu mertua yang membuatku melongo dengan bibir yang sedikit terbuka yang membuat orang-orang diruangan itu tertawa melihatku. Akhir-akhir ini hidupku dipenuhi dengan orang yang memiliki wajah kembar mulai dari aku yang wajahnya mirip mendiang kekasih mas hans, ibu mertua yang mirip ibu kos karena mereka memang saudara kembar, sekarang mas hans juga memiliki saudara kembar.
__ADS_1
''hallo adik ipar salam kenal, jangan sampai kamu salah memeluk atau bermanja-manja, tapi kalau kamu sampai salah tidak apa-apa juga aku tidak keberatan aku siap menggantikan adikku ini'' katanya sambil melirik mas hans, kulihat mas hans melotot ke arahnya dan membuatnya kembali tertawa
''baiklah sayang sekarang kamu tiup lilinnya trus potong kuenya'' kata ibu mertua
setelah mengucapakan doa aku meniup lilin, kupotong kue dan kubagi-bagikan pada semua yang ada di ruangan itu. Rita mendekat kearahku dan memelukku
''selamat ya, semoga panjang umur sehat selalu, dimudahkan rejekinya, semoga rumah tangganya selalu di berkati dan cepat memberiku keponakan'' katanya dan aku mengangguk seraya tersenyum padanya. Meski kami belum lama mengenal tapi dia sudah seperti saudari bagiku.
.
Semua telah keluar dari kamar tinggallah aku dan mas hans di ruangan ini, kuberanikan diri berbicara terlebih dahulu karena dari tadi kami hanya saling diam
''mas, aku mau buang air kecil, apa mas bisa membantuku ke kamar mandi?'' tanyaku dengan nada pelan meski agak malu dan takut merepotkan
''tentu sayang, apa kamu juga ingin bersih-bersih? sekalian mas ambilkan baju ganti'' katanya
Aku hanya mengangguk karena kurasa aku sudah cukup gerah memakai gaun ini. Aku digendong mas hans sampai di kamar mandi, dia mendudukkan aku di atas kloset duduk agar aku bisa buang air. Aku segera membersihkan diri setelah buang air kemudain mengganti bajuku dengan piyama yang diberikan mas hans tadi. sebenarnya dia ingin membantuku tadi tapi aku masih merasa malu kalau mas hans melihat seluruh tubuhku tanpa pakaian.
''mas, aku sudah selesai'' kataku dari dalam kamar mandi, tak lama mas hans datang dan menggendongku dia membaringkan aku diatas ranjang kemudian dia berlalu kembali ke dalam kamar mandi. Cukup lama mas hans di kamar mandi, ternyata mas hans juga mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian pinggang kebawah. Segera ku alihkan pandanganku kearah lain sebelum mas hans menyadari aku sedang memandangnya.
.
Cukup lama kami saling diam kembali sampai akhirnya mas hans mendekat kearahku dan ikut berbaring di sebelahku
''sayang, apa kamu lelah?'' tanyanya sambil berbaring menghadapku dengan tatapan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya
''iya mas aku sedikit lelah'' kataku polos tak mengerti arti dari tatapannya
''kalau begitu istirahatlah sayang, aku tidak ingin kamu sakit, kita masih bisa melakukannya besok'' katanya sambil menarikku kedalam dekapannya, kepalaku bersandar di dadanya bisa kudengar degup jantungnya yang berdetak kencang dan tak beraturan
''maaf mas, kalau aku...'' jawabku menggantung karena mas hans langsung menutup mulutku dengan tangannya. Aku tahu apa yang mas hans maksud tapi jujur aku memang lelah, lelah fisik dan lelah batin.
__ADS_1
''sudahlah sayang tidak ada yang salah jadi tidak perlu di maafkan, aku juga lelah ayo kita tidur'' katanya semakin mempererat pelukannya.
Tak terasa kami sudah sama-sama mengarungi lautan mimpi, dengan posisi saling berpelukan satu dengan yang lain.