
Selama perjalanan menuju ke rumah kak Robin, tak henti-hentinya aku berdoa semoga ini hanya mimpi. Hatiku masih menolak kenyataan yang ada, masih tak rela jika harus berpisah dengan kak Robin.
''Pak Beni, ini semua tak nyata kan? Ini semua cuma mimpi kan?'' Ucapku pada pak Beni setelah lama terdiam.
Pak Beni hanya melirikku dari kaca spion, kulihat raut wajahnya begitu sendu. Tak ada jawaban dari pak Beni, dia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku.
''Kita sudah sampai bu''
Pak Beni turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Ku hapus jejak air mata di pipiku, ku langkahkan kaki memasuki halaman rumah kak Robin yang sudah penuh dengan karangan bunga dan juga orang-orang.
Bu Dita sudah menungguku di depan pintu rumah kak Robin. Bu Dita menghampiriku, menuntunku masuk kedalam rumah kak Robin. Saat memasuki ruang tamu kak Robin, lututku kembali terasa lemas, rasanya tak sanggup lagi untuk berdiri, hampir saja aku terjatuh jika saja kak Nisa tak datang menahan tubuhku.
Aku berjalan perlahan menuju ke arah peti kak Robin, kunikmati langkah demi langkah. Hati semakin tersayat saat sudah berada di depan peti kak Robin. Kupandangi lagi wajah teduh yang sedang terbaring di dalam sana.
''Kak, aku sudah kembali. Hari ini kita akan menikah bukan? Lihatlah aku juga sudah memakai baju pernikahan kita. Bangunlah kak, bagaimana kakak akan memasangkan cincin di jariku jika kakak tidur?''
Ku usap pelan tangan kak Robin yang sudah tak hangat lagi. Air mataku tak bisa kubendung saat aku sudah menggenggam tangannya.
''Nak, tolong jangan begini. Ibu sedih melihatmu jika seperti ini''
Tante Dewi mengusap lembut kepalaku, namun aku tak merasakan ketenangan, justru aku semakin terisak.
''Tolong bawakan cincinnya nak, adikmu harus pergi dengan tenang'' Ucap om Jordi pada kak Roni.
'' Baik pa''
Kak Roni datang membawa kotak yang berisi cincin pernikahanku dan kak Robin. Dengan disaksikan semua orang yang ada di ruangan ini, aku meraih satu cincin bertulis namaku dari kotak itu dan kupasangkan di jari manis kak Robin, ku raih satu lagi yang bertuliskan nama kak Robin dan sematkan di jari manisku sendiri. Aku berjanji pada kak Robin aku akan menjaga cincin ini baik-baik, karena ini adalah kenangan terakhir dari kak Robin. Aku juga berjanji padanya jika aku akan menjadi wanita yang kuat dan hidup bahagia seperti kemauan kak Robin.
__ADS_1
Banyak yang mengabadikan momen itu, baik foto maupun video. Ini bukanlah yang aku inginkan, aku tak ingin kami melakukan ini, namun inilah yang harus terjadi dan aku tak bisa menolaknya. Takdir Tuhan tak berpihak pada kami, untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.
Setelah memasangkan cincin di jari kak Robin dan jariku, aku memeluk kak Robin untuk terakhir kalinya, karena peti kak Robin akan segera di tutup. Hari ini juga kak Robin akan segera di makamkan. Saat peti kak Robin sudah di tutup kak Nisa menuntunku ke kamarnya untuk mengganti bajuku, tak mungkin aku memakai gaun pengantinku ke makam kak Robin.
''Dek, iklaskan Robin ya. Kamu harus kuat jangan seperti ini, jika Robin melihatmu begini dia pasti akan sangat sedih''
Kak Nisa memberiku pakaian miliknya, akupun segera mengganti bajuku.
''Mama, kenapa papa Robin juga ningglin Claudy? Apa papa Robin juga tidak sayang pada Claudy seperti papa Hans?'' Tanyanya polos.
''Tidak sayang papa Robin sangat sayang sama Claudy, tapi Tuhan lebih sayang pada papa Robin, jadi ia memanggil papa Robin ke rumahnya''
Ku jawab pertanyaan Claudy dengan mata yang berkaca-kaca, meski sangat sedih mendengar perkataannya, namum aku harus kuat aku sudah berjanji pada kak Robin.
Kami keluar dari kamar kak Nisa saat ibadah pelepasan jenasah kak Robin dimulai. Aku duduk bersama orang tua kak Robin di samping peti mati kak Robin.
Ibadah berlangsung kurang lebih dua jam dan berjalan dengan baik tak ada kendala. Tibalah saatnya kami benar-benar harus melepas kepergian kak Robin. Aku ikut mengantarkan kak Robin ke tempat peristirahatan terakhirnya. Setelah kak Robin sudah selesai dimakamkan,beberapa orang sudah mulai meninggalkan makam kak Robin. Aku dan orang tua kak Robin, masih disana untuk beberapa waktu sebelum kami memustukan untuk pulang juga karena langit sudah berubah warna menghitam.
.
.
Beberapa tahun setelah kepergian kak Robin, aku masih sering menangis jika mengingat dirinya bahkan saat mwmbaca diarynya. Namun kembali aku berusaha menguasai diriku agar tak terlalu lama bersedih. Claudy juga terkadang masih berkata jika ia merindukan kak Robin.
Hari-hari terus berlalu, sampai suatu hari kak Frans datang berkunjung kerumah kami. Aku dan bu Dita terkejut akan kedatangannya, namun kami bahagia setelah tahu maksud dan tujuannya datang kemari. Ternyata dia datang meminta maaf pada bu Dita, ia sudah tahu jika bu Dita adalah ibu kandungnya dan bu Dita bukanlah orang seperti yang orang-orang katakan.
Selama ini ternyata kak Frans sering datang, namun ia tak masuk kerumah ini, ia hanya melihat dari luar rumah.
__ADS_1
Setelah kedatangan kak Frans hari itu, dua hari berikutnya dia dtang lagi dengan seorang anak laki-laki yang sudah remaja umurnya sekitar 16 tahun. Awalnya aku berpikir jika itu mungkin Farhan, anak kak Frans, namun ternyata aku salah.
''Ibu, maafkan Hans. Maaf Hans baru bisa menemui mama sekarang mmm....''
Betapa bahagianya hatiku, ternyata putraku yang datang mengunjungiku. Air mata berlomba-lomba turun membasahi pipiku. Hans mengusap air mata yang mengalir di pipiku.
''Maafkan mama nak, mama tak bisa terus bersamamu. Maafkan mama tak menjagamu selama ini''
''Tidak ma, jangan menangis. Ibu sudah terlalu lama menangis. Mama tak boleh menangis lagi, ada aku yang akan menjaga mama dan adikku. Ngomong-ngomong adikku ada dimana ma?''
''Dia....''
Ucapanku terputus saat Claudy muncul dari pintu dengan senyum khasnya saat pulang sekolah. Putriku sekarang sudah besar, dia sudah menjadi seorang gadis remaja yang pintar.
''Selamat siang mama, Audy sudah pul...'' Caludy tak melanjutkan ucapannya, justru ia memandang kearah kak Frans. Mungkin dia mengira kalau kak Frans adalah ayahnya karena wajah mereka memang sama, hanya berbeda ketika sedang tersenyum saja.
''Selamat siang nak, kemari, duduk sama mama. Ada yang ingin mama kenalkan padamu''
Claudy melangkahkan kakinya dengan malas menuju ke kursiku. Aku tahu jika ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya, entah mengapa putriku seperti menyimpan benci pada ayahnya, maupun keluarga ayahnya.
''Mama kenapa menangis? Siapa yang membuat mama menangis?''
Claudy memandang kak Frans dan Hans bergantian kemudian memandangku. Aku menggelengkan kepala saat ia hendak berbicara lagi, kurasakan jika ia sedang kesal terlihat saat ia menghembuskan nafasnya kasar.
''Claudy, kenalkan ini pamanmu, namanya om Frans dan ini kakakmu namanya kak Hans''
Mata Claudy membulat sempurna saat aku mengtakan nama Hans, awalnya ku berpikir jika ia akan marah namun hal mengejutkan terjadi. Dia lalu bangkit dan memeluk kakaknya sambil menangis menumpahkan segala isi hatinya.
__ADS_1
''Kakak.. mmmmm..... Kenapa kakak baru datang sekarang? Apa kakak tahu mama sangat menderita? Aku sangat sayang sama kakak, tolong jangan tinggalkan aku dan mama. Aku tahu kakak juga pasti sayang padaku dan mama mmmm......''
''Maafkan kakak dek, kakak baru datang sekarang. Kakak tidak akan meninggalkanmu lagi, kakak akan terus menjagamu dengan mama. Mulai sekarang kakak akan tinggal bersama Audy dan mama. Kakak tidak akan membiarkan kalian memderita lagi, kakak akan membuat adik kakak ini bahagia. Sekarang jangan menangis lagi, ayo tersenyum. Audy jelek kalau nangis''