PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
TOM AND JERRY


__ADS_3

Seminggu sudah aku dan Claudy menemani Hans disini, rencananya hari ini aku dan Claudy akan kembali kerumah kami di desa. Sebelum kembali ke desa, aku sudah menyiapakan kebutuhan untuk Hans dan teman-temannya selama sebulan. Aku membeli kulkas agar bahan makanan yang aku belikan bisa bertahan lama, cukup untuk mereka makan selama beberapa minggu kedepan. Aku juga memberikan uang saku pada Hans juga kedua temannya, meski tak banyak aku harap itu bisa menjadi pegangan mereka.


Meski awalnya Rivaldi dan Piter menolak, namun aku tetap memaksa mereka menerimanya. Aku harap dengan mereka tinggal disini anakku bisa memiliki teman yang bisa ia temani berbagi suka dan dukanya. Sore sekitar pukul dua, aku dan Claudy memutuskan untuk pulang ke Desa, Hans dan kedua temannya juga sudah pulang dari kampus.


Aku pulang dengan menyewa sebuah mobil pada salah satu penyedia jasa travel. Sebelum benar-benar meninggalkan putraku dan teman-temannya, aku berpesan pada mereka bertiga, bahwa mereka boleh berteman dengan siapa saja, namun harus bijak dalam menilai agar mereka tak ikut terjerumus dalam pergaulan bebas, apa lagi mereka hanya tinggal bertiga di rumah ini.


Jarak yang biasanya hanya ditempuh selama 2 atau 3 jam kini kami tempuh selama 5 jam karena jalanan yang padat, banyak orang yang bepergian untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Claudy sudah tertidur saat kami tiba dirumah, bu Dita menyambut kepulangan kami. Karena sudah terlalu malam untuk pak sopir kembali ke kota, aku menawarkan agar ia bermalam lebih dahulu. Awalnya ia menolak karena takut akan merepotkan kami, namun aku mengatakan jika kami sangat senang jika ia mau bermalam. Akhirnya ia menghubungi keluarganya dan mengatakan bahwa ia tak bisa pulang karena sudah malam dan ia sedang berada jauh dari kota. Aku juga menghubungi pemilik jasa penyewaan mobil tadi dan memberitahukan bahwa sopirnya akan tinggal dulu di sini karena sudah malam dan jalanan macet, jika ia kembali mungkin tengah malam baru ia tiba di kota.


.


.


Setahun sudah putraku tinggal di kota, tak terasa waktu cepat berlalu. Setiap bulan aku rutin mengirimkan segala keperluannya disana, sesekali aku juga ikut kesana dan bermalam satu atau dua hari. Kini adalah waktunya dia untuk pulang kampung, karena ia sedang libur. Aku sangat menunggu kedatangannya, karena sudah 5 bulan ini aku tak pernah bertemu dengannya. Kami hanya berkomunikasi lewat ponsel.


''Bu, aku sudah di terminal. Aku akan naik bus saja bu, biar bisa menikmati pemandangan di jalan'' Katanya saat menelponku tadi pagi.


Aku juga memintanya mengajak serta teman-temannya untuk datang, namun Rivaldi dan Piter ternyata kembali ke kampungnya 5 hari yang lalu. Kata putraku teman-temannya itu pulang kampung agar bisa membantu orang tua mereka di pabrik. Sungguh beruntung orang tua mereka memiliki anak yang sangat berbakti pada orang tuanya.


Aku berencana akan pergi melihat pabrik dan rumahku yang ada di bgian utara pulau. Sudah cukup lama aku tak pernah berkunjung kesana, namun dari laporan para pekerja disana semua berjalan dengan baik.


Siang menjelang sore, Hans tiba dirumah ini. Aku menyuruhnya untuk makan dan istirahat terlebih dahulu, mumpung adiknya masih tidur, karena jika Claudy sudah bangun nanti aku yakin jika ia pasti akan bermanja-manja pada kakaknya. Pukul tiga sore Claudy keluar dari kamarnya, sepertinya ia habis mandi karena rambutnya masih terlihat basah.

__ADS_1


''Ma, katanya kakak mau datang. Koq belum sampai-sampai sih? Liat nih, ma, aku sudah mandi, jadi nanti kalau kakak datang aku sudah wangi, langsung minta gendong deh, hehehe...''


Claudy memang sangat akrab dengan kakaknya, apapun yang Claudy minta akan di penuhi oleh kakaknya.


''Kayakanya kakak ngak jadi datang deh. Tadi dia telpon mama katanya tiba-tiba ada tugas dadakan dari kampus'' Ujarku, sengaja ingin melihat reaksinya bagaimana jika kakak tersayangnya tak jadi pulang.


''Ya..., koq gitu ma. Kakak kan udah janji sama aku, kalau mau kesini'' Claudy memanyunkan bibirnya.


Kulihat Hans sudah bangun dan berjalan mengendap-endap dari kamarnya.


''Namanya juga ada tugas sayang, mungkin lain kali baru kakak datang. Doakan saja biar tugasnya cepat selesai dan bisa datang untuk berlibur''


''Ya udah kalau gitu, aku mau masuk kamar lagi. Malas juga di luar tidak ada kakak''


Saat hendak berbalik masuk kedalam kamarnya, tiba-tiba Hans mengagetkannya, terjadilah perang dunia ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Begitulah jika mereka bertemu seperti tom and jerry saja.


''Waaaaaa.........'' Hans melompat dari balik sofa dan mengagetkan adiknya. Spontan saja Claudy berteriak karena kaget, namun bukannya kasian aku dan Hans justru tertawa dibuatnya. Bagaimana tidak jika ia kaget maka ia akan mengatakan apa saja.


''Eh... kodok, kucing garong, ayam geprek, bebek naik sepeda...'' Ucap Claudy memasang posisi kuda-kuda seperti bersiap untuk menyerang hehehe...


Hans tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehan adiknya, sementara Claudy berlari mengambil bantal sofa yang dipakainya untuk memukul-mukul kakaknya yang masih terus tertawa karena kelucuan adiknya.

__ADS_1


''Kakak sama ibu jahat banget, udah puas ya ngerjain aku'' Bibirnya kembali manyun.


Sontak saja hal itu semakin membuat kakaknya tertawa terpingkal-pingkal, sebelum akhirnya berhenti saat Claudy hendak masuk kedalam kamarnya. Hans segera berdiri dan memeluk adiknya serta meminta maaf karena sudah mengerjai adiknya.


''Adikku sayang, jangan merajuk dong. Nanti cantiknya ilang loh, kakak minta maaf ya?''


Hans memasang wajah memelas saat meminta maaf. Hal itu membuat adiknya yang gantian tertawa melihat kakaknya.


''Hahaha, muka kakak kayak wajah pengemis yang sering muncul di film di tv, yang sudah tiga hari tidak makan hahahaha....''


''Iishh! Ngak boleh ngomong gitu, masak wajah tampah begini disamakan sama pemeran pengemis di sinetron sih!'' Ucap Hans membela diri.


Begitulah jika mereka berdua sudah bertemu, persis seperti tom and jerry kadang bertengkar, kadang berteman. Kebahagiaanku terasa lengkap jika aku bersama dengan mereka berdua.


Hari ini kami akan mengunjungi makam kak Robin, aku ingin mengenalkan anakku Hans padanya. Hans pun ingin mengenal laki-laki yang sangat mencintai ibunya, melebihi cinta ayahnya. Pukul 4 Sore kami tiba di makam kak Robin, kami membeli beberapa bunga dan air yang akan kami taburkan di atas makam kak Robin.


''Selamat sore kakak, bagaimana kabar kakak disana? Lihat siapa yang datang dan ingin bertemu dengan kakak?'' Kujeda kalimatku sambil menyiramkan air dan menaburkan bunga di atas makamnya.


''Sapa om Robin nak''


''Hallo om, namaku Hans. Terimakasih sudah menjaga mama dan adikku'' Ucap putraku sambil mengusap foto kak Robin yang ada di atas makamnya.

__ADS_1


__ADS_2