PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
ANAK YANG MANIS


__ADS_3

Dengan gontai aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit, meninggalkan putraku seorang diri di dalam ruangan yang dingin itu. Meski pikiranku sudah bisa menerima sedikit banyak hal tentang kepergian putraku, namun tak dapat aku pungkiri jika di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tak menerima semua ini. Bahkan jika bisa, aku akan mengeluh pada Tuhan agar ia tak memberiku masalah seperti ini.


Tak sanggup rasanya aku harus menanggung beban ini sendirian, jika saja kedua orang tuaku masih hidup, mungkin saja aku akan berbagi kesedihanku pada mereka. Lorong rumah sakit yang begitu sepi menambah pilu hati ini, air mata tak berhenti keluar, menandakan sang empunya sedang tak baik-baik saja.


''Cepat kak, kamar mayatnya ada di sebelah sana. Aku harus memastikan bahwa orang-orang itu hanya berbohong. Putraku pasti masih hidup dan dia baik-baik saja'' Ucap seseorang dengan suara yang sangat aku kenali.


Aku bersembunyi di belakang salah satu pot tanaman yang ada di lorong, sementara kak Nisa sedang duduk tertunduk di kursi dan pura-pura sedang menelpon seseorang. Suara derap langkah beberapa orang semakin mendekat dan tak lama ada 7 orang yang berjalan dengan tergesa-gesa lewat di hadapan kami dan semuanya orang yang aku kenali.


Ya, mas Hans dan keluarga besarnya, rupanya mereka juga baru mendengar kabar ini. Syukurlah aku cepat pergi dari sana, jika tidak maka akupun bisa kehilangan nyawaku. Apa lagi putriku sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Ketika suara derap langkah itu tak terdengar lagi aku dan kak Nisa bergegas lari dan kembali keruangan Claudy.


Dengan nafas tersengal-sengal kami tiba di tempat perawatan Claudy, kak Roni memandang kami berdua dengan kening berkerut. Ia menyodorkan 2 botol air mineral, aku meraihnya kemudian memberikan satu botol kepada kak Nisa. Kak Roni masih terus memperhatikan kami, kuminum air hingga tandas begitupun dengan kak Nisa, setelahnya kami duduk.


''Ada apa, sepertinya kalian habis di kejar hantu?'' Tanya kak Roni.


''Ini bukan sekedar hantu, tapi mayat hidup'' Ucap kak Nisa.


''Hahh?????'' Ucap kak Roni sambil mengerutkan dahinya.


''Maksud kakak kami hampir saja ketahuan jika sedang berada di rumah dakit ini dek. Sewaktu kami pulang dari kamar mayat tadi, di depan sana kami hampir saja berpapasan dengan papanya Claudy dan kekuarganya. Bayangkan saja jika kami ketahuan tadi, entah bagaimana nasib Pelangi dan Claudy'' Ucap kak Nisa dengan nafas masih terengah-engah.


Kak Roni melirik ke arahku dan aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan kak Nisa. Memang benar begitu adanya.


''Dek, ada kabar baik untukmu'' ucap kak Roni.


''Kabar baik apa kak?'' Tanyaku.


''Kondisi Claudy sudah membaik, tinggal menunggu siuman saja dan besok pagi sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Tadi aku sudah meminta pada dokter untuk menyiapakan kamar VVIP untuk Claudy, apakah kamu tak kebertan?'' Ucapan kak Roni membuat hatiku bahagia, sejenak aku bisa melupakan tentang putraku, namun itu tak berlangsung lama. Saat kak Roni bertanya tentang putraku, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam dada.

__ADS_1


''Selamat malam pak, bu, pasien atas Nama Claudy sudah sadar dan ia ingin bertemu dengan ibunya'' Ucap salah satu perawat yang menjaga di ruang perawatan Claudy.


''Saya ibunya sus, apa saya bisa masuk sekarang?'' Tanyaku dengan wajah sumringah.


''Boleh bu, silahkan'' Ucap perawat itu.


Tanpa pikir panjang segera aku memakai baju khusus yang digunakan saat masuk keruangan ICU. Setelahnya aku langsung masuk ke sana menemui putriku, aku berusaha tersenyum di hadapannya, aku tak ingin ia drop lagi jika ia tahu tentang hal buruk yang menimpa saudaranya. Sempat aku berpikir, apakah ini ikatan batin yang tercipta anatara kedua anakku sehingga mereka merasakan sakit di saat yang bersamaan.


''Ma...mammmaaa'' Ucapnya lirih.


Kuperlihatakan senyumku yang paling manis dihadapannya. Dia tersenyum melihat kedatanganku, kuraih sebuah kursi dan duduk di samping ranjang putriku.


''Bagaimana keadaan kamu nak? Apa sudah lebih baik?'' Tanyaku sambil mengusap-usap kepalanya.


''Aku baik-baik saja bu. Kenapa ibu menangis apa ada masalah? Apa aku membuat ibu khawatir?'' Tanyanya.


Aku tak tahu harus berkata apa kepada putriku, tak mungkin aku memberitahu tentang kabar kepergian kakaknya. Bisa-bisa ia drop lembali jika aku memberitahunya dan aku tak ingin jika hal itu sampai terjadi.


''Aku sudah baik-baik saja bu. Aku tahu ibu ingin mengatakan sesuatu padaku, ibu tak bisa membohongiku bu. Katakan saja aku siap untuk mendengarnya meskipun itu sangat menyakitkan'' Aku terkesiap mendengar perkataan putriku. Apakah ia sudah mengetahui peristiwa yang menimpa kakaknya?


''Apa maksudnya nak?'' Ucapku berpura-pura.


''Tak ada apa-apa bu. Bisakah kita pindah ke kamar inap saja bu, aku sudah pengap berada di ruang ini, rasanya aku ingin muntah mencium bau obat-obatan''


''Nanti ibu tanya dokter dulu ya nak?''


''Baik bu''

__ADS_1


Aku kemudian keluar dari ruang ICU dan menuju keruangan dimana perawat yang bertugas menjaga pasien ICU berada. Perlahan ku ketuk pintu ruangan perawat.


''Selamata malam sus, apa dokter jaga masih ada?'' Ucapku pada mereka.


''Selamat malam juga bu, maaf apa ada yang bisa kami bantu dokter jaga sedang dalam perjalanan ke sini bu'' Ucap perawat bernama Desi.


''Saya ingin bertanya apakah bisa anak saya di pindahkan keruang rawat sekarang. Katanya ia ingin muntah karena ruangan itu terlalu berbau obat'' Ucapku.


''Kami akan menghubungi dokter lebih dahulu bu'' Ucap Desi kemudian menghubungi seseorang melalui sambungan telpon.


Tak lama seorang laki-laki muda datang dari ujung lorong, kemudian berbelok dan masuk ke ruangan perawat. Rasanya aku tak asing dengan wajahnya, tapi dimana aku bertemu dengannya.


''Malam dok'' Ucap para perawat hampir bersamaan.


''Malam, selamat malam juga bu Pelangi'' Ucapnya yang sukses membuatku melongo. Dalam hati aku bertanya-tanya siapakah dokter ini? Rasanya akupun tak asing dengan wajahnya.


''Ada apa ibu Pelangi ada disini?'' Tanyanya.


Mungkin karena aku tak kunjung menjawab, salah satu perawat yang menjawab pertanyaannya.


''Ini ibu pasien yang di ICU dok''


''Jadi yang di ICU itu Claudy? Anaknya Robin?'' Tanyanya yang sukses membuat para perawat membeliakkan matanya dan menatap ke arahku.


Aku hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.


''Ayo kita kesana sekarang, sudah lama aku tak berjumpa dengan anak yang manis itu'' Ucapnya kemudian berjalan mendahuluiku bersama beberapa perawat lain. Aku menyusul di belakangnya dengan berbagai pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepalaku.

__ADS_1


'Bagaimana jika ia juga ada di pihak kak Lia? Bagaiaman jika ia juga akan mencelaki Claudy? Bukankah kak Roni bilang rumah sakit ini aman?' Batinku terus bertanya-tanya.


Kami tiba di ruang ICU, dokter dan perawat masuk keruangan Claudy dan aku hanya bisa menunggu di luar ruangan. Aku semakin takut karena aku tak di ijinkan masuk, jangan sampai mereka melukai putriku.


__ADS_2