PELANGI UNTUK BADAI HANS

PELANGI UNTUK BADAI HANS
MAAF


__ADS_3

Acara ulang tahun Hans berjalan dengan lancar, semua tetangga turut hadir. Raut bahagia tergambar jelas di wajah putraku, mas Hans mendampingi putranya saat acara tiup lilin dan pemotongan kue.


Aku bersyukur semua bisa berjalan dengan lancar, hanya saja aku merasa risih dengan kehadiran mas Hans.


''Papa, malam ini papa temani Hans sama ibu bobo ya'' kata putraku.


''Iya sayang papa akan temani Hans dan mama'' kata mas Hans tersenyum padaku.


Aku hanya mengelus kepala putraku tanpa membalas senyum mas Hans. Entah kenapa aku sama sekali tak tertarik melihat senyumnya tidak seperti dulu aku akan merasa sangat bahagia saat melihatnya tersenyum.


''Nak, papa harus pulang ketempat kerjanya, lain kali papa datang lagi. Kalau papa tidak pulang ke tempat kerjanya nanti papa di pecat sama bosnya'' kataku pada putraku.


Mas Hans menatapku dengan tatapan tak suka. Biar saja emang aku peduli dia suka atau tidak padaku.


''Tapi bu, aku ingin papa disini sama Hans, malam ini saja boleh ya pa?'' kata Hans menatap papanya.


''Iya sayang, papa akan temani Hans, papa minta ijin dulu ya sama bosnya papa'' kata mas Hans.


Dia berjalan ke arah teras rumah, ternyata Indra masih ada disana.


''Ndra, aku mau nginap disini. Kamu kembali saja ke hotel dan istirahat besok siang kamu jemput saya disini'' kata mas Hans pada Indra.


''Baik tuan'' jawab Indra.


Indra segera masuk kedalam mobil, dia melajukan mobil perlahan hingga menghilang dari pandangan. Aku menatap mas Hans dari belakang, entah apa yang ia pikirkan sehingga ingin bermalam di rumahku. Aku berbalik masuk kedalam rumah, menemui putraku yang sepertinya sudah mengantuk. Saat aku hendak menggendongnya, mas Hans datang menghampiri.


''Biar aku saja yang bawa dia ke kamar'' kata mas Hans meraih tubuh putranya dan digendong ke kamar.


Aku mengikuti dari belakang karena biasanya Hans tidak akan tidur kalau tak ku usap-usap kepalanya.


''Bu, ayo kesini tidur disamping aku juga, aku ingin tidur di tengah-tengah papa dan ibu'' kata Hans.


''Ibu tutup pintu rumah dulu ya sayang'' kataku.


Aku berlalu keluar dari kamar bergegas ku kunci pintu depan dan belakang. Setelah itu aku membersihkan diri dan ikut masuk ke kamar.


Kulihat kedua orang di kamar sudah tertidur, Hans tidur dengan nyenyak dalam pelukan ayahnya. Aku menggelar tikar saja disamping kasur, aku tak ingin tidur di kasur karena tempat yang kosong bukan disamping putraku tapi disamping mas Hans.


Kuraih selimut dari dalam lemari dan bantal, aku merebahkan tubuhku menatap langit-langit kamar. Tak kumatikan lampu kali ini, aku tidak mau tetangga berpikir yang aneh-aneh, meski wajar kalau mereka berpikir begitu karena aku masih tetaplah istri mas Hans. Tapi aku tak ingin hal yang tidak di inginkan terjadi.


''Kamu belum tidur?'' tanya mas Hans yang sudah berbaring disampingku.


Entah kapan ia turun dari kasur dan berbaring di sampingku.


''Be..belum mas'' kataku tapi tak berani memandangnya.


''Sebaiknya kamu tidur di kasur temani anak kita, biar aku yang tidur disini'' kata mas Hans sambil menutup matanya.

__ADS_1


''Tidak apa-apa mas, mas tidurlah bersamanya sudah lama ia ingin tidur dengan mas'' kataku sambil duduk memandang putraku.


Mas Hans membuka matanya ia ikut duduk,menatapku cukup lama kemudian tersenyum. Dia menggeser tubuhnya hingga sudah tak ada jarak di antara kami. Mas Hans menggenggam tanganku, kulihat matanya berkaca-kaca menatapku, ada raut penyesalan kutemukan disana.


''Mas mau minta maaf sayang, mas tahu mas sudah melakukan kesalahan besar padamu, mas sudah membuatmu dan anak kita hidup menderita. Jika boleh mas ingin menebus semua kesalahan mas pada kalian berdua'' kata mas Hans sesekali terdengar suara isaknya.


Kutatap dalam-dalam mata mas Hans, kulihat ada kejujuran didalamnya. Tapi hatiku masih merasa tak bisa bersamanya lagi, kurasa itu karena aku masih merasa sakit hati atas perlakuannya di masa lalu meski aku mencoba melupakan semua itu.


Segera kutarik tanganku dari genggamannya, mas Hans menatapku, dia kemudian memelukku dan menangis, aku berusaha melepas pelukannya tapi tak bisa, akhirnya aku hanya diam membiarkannya.


''Mas tahu kamu kecewa sama mas, mas minta maaf atas semuanya, ijinkan mas untuk menjagamu dan anak kita. Aku tahu kamu pasti membenciku, tapi akau juga tahu kalau kamu masih cinta sama mas. Kalau tidak tak mungkin kamu memberi nama anak kita seperti namaku'' kata mas Hans.


Aku hanya diam mendengar kata-katanya. Apa benar aku masih mencintainya tapi aku sudah tak merasakan apa-apa lagi saat bersamanya kecuali rasa risih.


Mas Hans melepas sendiri pelukannya, dia hampir saja menciumku jika aku tak segera berbaring kembali.


''Mas, tidurlah bersama anakmu, dia sudah lama menunggumu'' kataku sambil berbaring kembali di atas karpet.


''Baiklah selamat tidur sayang'' kata mas Hans.


Aku menutup mataku mencoba tidur, kurasa mas Hans sudah tak ada disampingku. Kubuka mataku betapa terkejutnya aku saat mas Hans sedang mencium keningku.


''Mas'' kataku.


''Selamat tidur sayang'' katanya kemudian naik ke kasur menemani anaknya tidur.


.


Saat bangun pagi kurasakan badanku terasa berat, aku mencoba membuka mataku.


''Pantas saja terasa berat ternyata putraku tidur diatasku'' gumamku.


Aku mencoba menurunkan dia dari atas tubuhku.


''Biar mas bantu'' kata mas Hans sambil membantu menurunkan dan membaringkan Hans di kasur.


Saat mas Hans selesai menurunkan putranya di atas kasur, ia kemudian berbaring di sebelahnya melanjutkan tidur. Sesungguhnya ini belum benar-benar pagi baru jam 5.


Aku bangun dari karpet hendak mencuci muka, saat aku berdiri tak sengaja aku menginjak ujung tikar.


Bug


Aku terjatuh tapi aku tak merasa sakit, pelan-pelan kubuka mataku, aku kaget karena aku terjatuh diatas tubuh mas Hans bahkan bibirku menyentuh bibirnya. Sontak aku segera ingin bangun tapi mas Hans langsung melingkarkan tangannya dibadanku dan otomatis aku tak bisa bergerak.


Hanya satu kali gerakan mas Hans sudah membalik posisi kami, kini posisiku sudah berada dibawah tubuh mas Hans. Jantungku berdetak kencang tak berirama karena mas Hans terus saja menatapku.


''Mm..mas bisa tolong bangun, aku ingin kedapur membuat sarapan'' kataku pada mas Hans.

__ADS_1


''Mas akan melepaskanmu sayang, tapi kamu harus mau memaafkan mas, apa kamu mau?''


''Mas, aku... aku''


''Jika kamu memaafkan mas baru mas lepaskan, jika tidak kita akan terus seperti ini''


''Tapi mas, aku harus bangun''


''Kita akan bangun, tapi kamu janji dulu kalau kamu sudah memaafkan mas dan kita akan merawat anak kita bersama-sama'' kata mas Hans dengan tatapan yang sulit ku artikan. Bahkan air matanya menetes membasahi pipiku.


Aku hanya mengangguk saja. Itulah aku sebenci apapun aku pada orang, aku tak bisa jika melihat orang itu menangis.


Mas Hans langsung menjatuhkan tubuhnya di atasku, dia mencium seluruh bagian wajahku.


''Terimakasih sayang'' kata mas Hans.


''Mm...mas, apa mas bisa bangun aku merasa sesak'' kataku.


Mas Hans bangun dari atas tubuhku kemudian dia berbaring kembali di samping anaknya. Aku keluar dari kamar menuju ke kamar mandi aku mencuci muka kemudian menuju kedapur untuk memasak sarapan.


Aku masih menggunakan tungku kayu untuk memasak, sebenarnya aku punya kompor gas tapi itu hanya kugunakan saat ada pesanan kue.


Aku memotong-motong kecil ranting kering untuk membuat api. Setelah api menyala aku memasak air untuk membuat kopi, aku masih ingat jika mas Hans akan minum kopi jika bangun.


Kuseduh segelas kopi kemudian kuletakkan di atas meja kecil di depan kamar. Meja itu satu-satunya meja yang ada di rumahku. Aku kemudian kembali ke dapur memasak nasi dan menggoreng ikan kering untuk sarapan.


Aku dan Hans memang sangat suka sarapan dengan nasi hangat dan ikan kering yang di goreng.


Uhuk.. uhuk..


Aku terbatuk-batuk karena tak sengaja aku menghirup asap saat mengaduk nasi yang ada di atas tungku.


''Kamu tidak apa-apa sayang''


Kudengar suara mas Hans dari arah belakang.


''Tidak apa-apa mas'' jawabku.


Mas Hans melihat sekeliling dapurku, kurasa mungkin dia merasa aneh melihat dapurku yang masih beralaskan tanah, alat-alat masak yang berwarna hitam tergantung di dinding bambu dan banyak ranting-ranting kayu, karena dirumahnya tak ada yang seperti dapurku. Aku terus melanjutkan membuat sarapan, mas Hans terus memperhatikanku selama memasak.


''Maafkan mas, mas tidak bisa membuatmu bahagia seperti janji mas saat kita menikah. Maaf karena mas harus membuatmu menderita seperti ini'' kata mas Hans memelukku dari belakang.


''Mas, aku harus kebelakang memetik sayur'' kataku melepas pelukannya dan berlalu ke arah kebunku di belakang dapur.


Aku masih tak ingin berlama-lama jika berdua dengan mas Hans, hatiku belum bisa menerimanya kembali.


Aku memiliki kebun kecil di belakang rumah, disana aku menanam sayur sawi, bayam, kangkung, tomat dan juga cabe.

__ADS_1


Biasanya sehabis membuat sarapan, aku akan memetik sayur dan aku jajakan di depan rumah.


__ADS_2