
Setelah keluar dari penginapan dan melanjutkan perjalanannya, Qing Shan memilih menaiki kuda yang dia beli dengan batu roh, yang merupakan milik pimpinan rampok, pada cincin ruang yang pernah dia ambil.
Qing Shan yang sebelumnya telah mengeluarkan Gong Lam Hui pelayan utamanya dari alam jiwa, juga memberi kuda bagi Gong Lam, sehingga Qing Shan punya teman dalam perjalanan dan telah bicara banyak hal tentang tujuan dan prinsip yang akan dia perjuangnkan.
"Gong Lam, apakah kau suka melakukan perjalanan dengan menaiki kuda seperti ini..?"
"Suka sekali tuan...!
Dengan mengendarai kuda ini, banyak hal yang bisa kita lihat dengan jelas."
"Ya tepat sekali Gong lam.
Perjalanan dengan mengendarai kuda sengaja aku jadikan sebagai pilihan, sebab dengan ini kita akan menelusuri semuanya dengan lebih teliti.
Berbeda bila perjalanan dilakukan dengan terbang, akan menjadi lebih cepat namun tentunya banyak hal dan peristiwa yang akan kita lewatkan dalam perjalanan itu sendiri."
"Anda benar tuan, untuk urusan yang perlu kecepatan, tentu terbang menjadi pilihan terbaik.
Tetapi untuk mengamati suatu keadaan di sebuah tempat, maka dengan mengendarai kuda itu pilihan yang lebih baik."
Tempat pertama yang keduanya temukan pertama adalah desa kecil bernama desa Suciehn.
Di tempat ini Qing Shan dan Gong Lam menemukan kehidupan masyarakat desa, yang sangat miskin dan jauh dari kelayakan.
"Sepertinya kita akan singgah untuk melihat apakah segala sesuatunya memang berjalan normal disini.
Apakah kemiskinan orang orang ini murni karena memang keadan yang normal, atau ada sebab lain yang memaksa mereka sampai jatuh pada keadaan seperti ini.
Bila itu hal yang normal, maka kita hanya perlu memberi bantuan harta dan sumber daya.
Tetapi bila ada hal jahat yang memang memicu keadaan sehingga terjadi seperti sekarang, maka apapun itu harus kita cabut dan selesaikan."
"Benar tuan..!"
Qing Shan memilih salah satu rumah warga sebagai tempat persinggahannya.
__ADS_1
Setelah dia turun dari kuda, Qing Shan memasukkan dua kudanya ke alam jiwa untuk dirawat oleh para pelayannya disana, dia berjalan bersama Gong Lam Hui si pelayan utamanya menuju sebuah rumah.
"Tuan! Apa tuan melihat dua anak yang tadinya sangat riang bermain di depan rumah itu, kini keduanya berlari begitu cepat kedalam rumah mereka, yang anehnya mereka menjerit dan tampak begitu sangat ketakutan."
"Benar Gong lam, firasatku mengatakan ada hal aneh yang telah terjadi di desa ini, sehingga anak itu begitu takut. "
Tak lama berselang setelah kedua anak itu lari, seorang wanita keluar dan berlutut ke tanah di hadapan Qing Shan dan Gong lam seraya meminta belas kasih agar kedua anaknya jangan dibawa.
"Tuan tolong jangan bawa anak saya mereka adalah harapan saya.
Saya tidak punya apa apa dan siapa siapa lagi di dunia ini selain mereka tuan , tolonglah tuan."
Wanita itu mengucapkan hal itu berulang kali, memohon dan memelas,
bahkan sebelum tahu apa maksud tujuan Qing Shan dan pelayannya.
Gong Lam Hui maju dan berkata
"Nyonya...! Tuan tidak bermaksud untuk membawa anak anakmu, tenanglah!"
Qing Shan menyuruh pelayanannya melalui kesadaran pikirannya, agar menotok jalan darah wanita tersebut sehingga pingsan.
Gong Lam Hui kemudian mengangkat dan membawa wanita itu ke dalam rumah, yang lebih layak disebut gubuk reot.
"Tuan..! Itu disudut gubuk reot itu, ada dua anak sedang meringkuk dengan bibir bergetar berwarna biru menandakan betapa hebat ketakutan yang mengguncang jiwa mereka.
Bukankah itu adalah dua anak yang di luar tadi tuan...?"
"Benar Gong lam, mereka tampak begitu takut."
Qing Shan mengeluarkan seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan sosok ibu kedua anak itu.
Dengan membawa makanan, wanita itu membelai kedua anak tersebut dan mengajak mereka makan.
Pendekatan yang tidak bisa dia dan pelayannya yang bernama Gong Lam Hui lakukan, tuntas berhasil dan efektif dikerjakan oleh wanita biasa paruh baya, yang sengaja dia keluarkan dari alam jiwa.
__ADS_1
Gong Lam Hui tersenyum puas dengan kebijaksanaan tuan muda yang jadi raja baginya ini.
"Ada apa engkau tersenyum wahai Gong Lam Hui?"
"Maafkan pelayan ini tuan, hamba hanya takjub dengan kebijaksanaan tuan.
Selama hamba hidup yang saya fahami dan kehidupan ini ajarkan bagi hamba, hanyalah bahwa kekuatan adalah segalanya dan kekerasan adalah hal ladzim yang saya lihat dan alami dalam kehidupan."
"Hhmmmm .... Gong Lam Hui kedepannya kau harus terbiasa dengan pemikiran dan pemahaman tuanmu ini.
Aku hanya mencoba melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan pada manusia lainnya.
Aku pernah mengalami posisi seperti yang kedua anak ini alami, sehingga aku sangat benci kalau hal yang sama menimpa anak manapun di dunia ini.
Bukankah kamu sendiri telah menjalani kehidupan menjadi seorang budak sebelumnya, apa harapanmu saat itu Gong Lam..?
Bohong kalau kau sebut kau tidak ingin dikasihi dan diperlakukan, sebagaimana harusnya manusia diperlakukan.
Maka keinginanmu yang tidak terpenuhi oleh orang orang jahat saat itu, penuhilah bagi orang yang kedepannya engkau dapati dalam posisi sama seperti yang kau alami dahulu, maka surga akan memberkahimu."
Mendengar kalimat itu Gong Lam Hui dan wanita dari alam jiwa bernama Nam Kui Nu berlutut dan memberi hormat, dengan air mata yang mengalir menganak sungai, dipipi keduanya.
Mereka teringat bagaimana dahulu hidup mereka, yang diperlakukan seperti hewan.
"Benar tuan, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa mengenaskannya akhir perjalanan hidup kami, bila tidak ditolong oleh sosok tuan yang sudah seperti dewa bagi hati dan pandangan kami."
"Ya jadi kita harus menolong setiap orang yang memang perlu di tolong."
"Anda benar tuan, seperti tujuan anda yang sangat mulia, kita akan mulai dari desa ini."
Perlahan kedua anak itu bisa bersikap biasa tanpa ketakutan mendalam seperti semula.
Insting mereka mulai menyadari bahwa orang orang baru ini bukan orang jahat, seperti manusia kebanyakan yang biasa mengintimidasi mereka selama ini.
.
__ADS_1