Pendekar Surgawi

Pendekar Surgawi
Bab 74 : Terhubung oleh batu komunikasi


__ADS_3

Qing Shan sedang tertidur di gubuk reotnya yang kecil, lalu seketika sebuah pusaran angin kuat membangunkannya dan pusaran itu menyedot tubuhnya.


Kini dia terbang tinggi di langit seperti sebelumnya.


"Ah ... ternyata aku hanya mimpi selama ini, pukulan telapak guntur pemusnah... hiyaaaaa .....!"


"Du....du..duarrrrrrr.."


Petir agung merah mengkilat dan menyala menyambar ke segala arah.


Pukulan telapak guntur menimbulkan suara menggelegar, percikan kembang bunga api yang mempesona namun memusnahkan, bertebaran menghias langit.


Qing Shan melesat le langit yang lebih tinggi lalu berteriak


"Topan ruang kehancuran."


"Wussss... syak..suiikkkhhh...ssstzz"


Badai topan menggulung menarik awan di langit dan meledak dengan kuat saat Qing Shan mengakhirinya.


Armor daun akar spritual surgawi membalut tubuhnya, pedang petir merah menyembul keluar, lalu naga petir surgawi kehampaan melesat ke atas, bagai pohon yang menjulang tinggi kelangit.


Palu semesta pemukul batu yang biasa dipakai mencari ikan, dia keluarkan dan pukulkan, hantaman keras melesat dan menimbulkan ledakan.


Semua senjata Qing Shan pakai dan semua teknik dia keluarkan.


Semuanya tidak ada masalah.


Merasa semuanya memang berfungsi seperti yang seharusnya, Qing Shan masuk ke alam jiwanya, memeriksa lautan dantiannya yang kini semakin luas.


Buah pohon akar spritual surgawi semakin besar dan hampir matang.


Semua tidak ada masalah, lalu apa yang terjadi?


Qing Shan berpikir keras dalam benaknya.


Merasa tidak menemukan keanehan apa apa, dia melesat secepat kilat dari timur sampai kebarat dan dari utara sampai ke selatan alam kecil.


Dia seperti pendekar yang baru mulai bisa terbang.


Setelah sekian lama terbang, Qing Shan berhenti pada sebuah pohon paling tinggi di alam kecil, yang ternyata miliknya itu


Prinsip alam kecil ini dahulu dia ambil dari leluhur sekte hitam, saat akan menghancurkan dan meratakan sekte itu dengan tanah.


Qing Shan berada di atas pohon tinggi persis seperti saat dirinya berada di atas sebuah pohon di desanya Lin'er dahulu.


Perlahan dia tutup matanya, lalu sebuah cahaya biru yang terang melesat kedalam tubuhnya dan menerobos masuk ke alam jiwanya.


Qing Shan terkesiap dan sangat khawatir kalau itu adalah seseorang yang akan mengambil alih tubuhnya, karenanya dia masuk ke alam jiwanya untuk memeriksa.


Sesampainya di alam jiwanya dia melihat makhluk biru kecil yang sangat cantik dan manis seperti jia'er anak kecil yang berada di alam jiwa dewa.


Anak kecil itu sedang memegang daun akar pohon spritual surgawi.


Melihat kehadiran Qing Shan anak itu lalu membungkuk dan memberi hormat, maaf tuan saya datang dengan tidak sopan.


Perkenalkan saya adalah jiwa alam kecil milik tuan ini.


Saya terluka karena tuan melakukan banyak serangan di atas langit alam kecil ini, dengan kekuatan tuan yang berada di level pendekar dewa Bumi tahap awal saat ini


Sebenarnya saya bisa menahan serangan pendekar bumi tahap puncak sekalipun, bila itu datang dari orang lain.


Namun hal itu akan berbeda, bila serangan itu datang dari tuan pemilik alam kecil ini


Saya terluka tuan, bolehkah saya petik satu buah pohon ini sebagai obat?"


"Eh... itu boleh saja.


Kau adalah jiwa dari alam ini, artinya aku tidak mimpi berada di alam salju?"


"Benar tuan. Anda masih berada di alam salju, bila anda keluar dari alam ini, maka prinsip alam salju akan kembali menekan kekuatan tuan, sampai ke level manusia biasa seperti warga lainnya di tempat itu."


"Apa kekuatan alam itu sehingga bahkan bisa menekan banyak para dewa?"


"Tuan para dewa itu masihlah makhluk ciptaan seperti kita, hanya saja mereka di karuniai dengan kekuatan yang besar.


Begitupun mereka masih tunduk pada hukum surga yang merupakan alat bagi pencipta untuk mengatur segalanya."


"Kau mau bilang bahwa kekuatan tekanan yang ada di alam itu adalah prinsip hukum dari surga?"


"Benar tuan dan sama seperti saya alam itu juga punya jiwa, sebagai inti dari prinsip itu sendiri."


"Lalu bagaimana aku bisa keluar dari alam itu?"


"Sama seperti bagaimana tuan bisa keluar masuk alam kecil ini, sejak anda memegang prinsip dunia ini."


"Berarti aku harus memegang dan memikiki prinsip itu, begitukah?"


"Memegang dan memiliki adalah dua hal berbeda tuan.


Bila anda memegang prinsip itu anda akan bisa keluar tapi bila anda memilikinya anda akan bisa jadi penguasa di alam itu bisa berbuat apapun disana seperti di bahagian alam jiwa dewa lainnya.


"Kenapa kau tahu?"


"Anda lupa kalau saya sudah dalam diri anda sejak lama.?"


"Lalu kenapa kau lama sekali baru keluar?"


"Saya tidak punya kekuatan itu kecuali anda yang menghendakinya tuan."


"Lalu bagaimana dengan saat ini?"


'Ini adalah saat terlemah diri tuan sejak saat saya mulai ikut bersama, dimana saat ini di alam salju tuan cuma manusia biasa.


Begitupun saya masih harus memaksakan diri saya tidak akan memaksakan diri kalau tuan tidak begitu putus asa seperti sebelumnya, sehingga saya tidak perlu terluka parah begini.

__ADS_1


Luka saya sudah parah, ditambah tuan pula melakukan banyak serangan


"Oh jadi begitu, maaf sudah melukaimu.


Jadi kalau aku keluar sekarang, dan pergi kesana, maka aku hanya akan kembali menjadi manusia biasakah?"


"Tuan coba saja."


"Apakah kau tidak akan terganggu karena berada di alam jiwaku selagi aku pergi kesana?"


"Tidak tuan. Sebab jiwa tuan sudah punya akar spritual surgawi, yang juga punya kekuatan hukum surga tersendiri, untuk bisa menolak daya tekan dan daya rusak alam salju pada kultivasi anda


Tuan hanya terputus dan tidak bisa masuk ke alam jiwa anda saat berada disana, bukan kehilangan kekuatan alam jiwa anda sendiri.


Justru yang memblokir itu adakah, pinsip jiwa surgawi anda bukan prinsip alam salju."


"Baiklah kalau begitu aku pergi sekarang, pulihkanlah dirimu aku akan banyak bertanya nantinya, kalau kau butuh lebih dari satu mak ambil saja."


"Ha..haha apa tuan ingin aku mati?


satu buah ini saja harus aku serap selama dua bulan baru habis seluruhnya."


"Eh... sampai seperti itu?


Baiklah aku pergi sekarang."


Qing Shan melesat keluar dari alam jiwanya dan dari alam kecil menuju alam salju.


Benar saja, Qing Shan kembali menjadi manusia biasa lagi saat berada di alam salju, beberapa kali dia melakukan hal itu untuk memastikannya.


"Hah.. ternyata memang benar."


"Kak Shan'er .....!"


"Ya... masuklah Zui'er"


"Kak Shan'er aku telah berulang kali memanggilmu dan kau tidak menyahut, apakah kau sedang mengerjaiku."


"Tidak Zui'er, aku tadi pergi ke suatu tempat."


"Aku sama sekali tidak melihatmu keluar dari rumah ini kak Shan'er?"


"Baiklah ayo aku tunjukkan sesuatu."


Qing Shan membawa Zui meili ke alam kecil miliknya dan lalu mengeluarkan artefak kapal yang membawa mereka terbang rendah mengelilingi langit alam kecil.


"Kak Shan'er ini ?"


"Ini namanya alam kecil Zui'er.


Beginilah suasana sebenarnya semua alam di luar keadaan yang ada di alam salju yang menekan semua orang menjadi manusia biasa."


"Ini menyenangkan sekali kak."


"Ya. bahagian meyenangkannya akan menyenangkan, tapi bahagian sedihnya akan menyedihkan."


"Di alam luar manusia suka berperang tidak seperti di alam salju, kekuatan yang manusia miliki seringkali di adu disana untuk mencari siapa yang terhebat.


Maka untuk bisa melindungi orang yang kau cintai engkau mesti kuat dan hebat."


"Apakah kak Shan'er kuat?


"Ya begitulah."


"Bisakah kau perlihatkan?"


"Bisa. Tapi aku tidak akan melakukan serangan, agar alam ini tidak rusak."


"Baiklah tak usah lakukan serangan."


Qing Shan kemudian keluar dari kapal dan berdiri dengan kokoh di langit, lalu dia mengeluarkan armor dan membalut tubuhnya, petir memancar keluar dari tubuhnya dan pedang merah petir kehampaan surgawi dengan megah tersandang di punggungnya.


Qing Shan membawa Zui'er terbang kesana kemari di atas langit alam kecil, lalu membawanya kembali ke artefak kapal.


"Kak Shan'er ajarkan aku...!'


"Zui'er seiring bertambahnya kekuatanmu, maka kemampuan terbang itu akan datang sendiri.


"Dua saudarimu yang merupakan wanitaku saat ini keduanya bisa terbang."


"Kalau begitu hanya aku yang terlemah?"


"Hei mereka juga tadinya sepertimu sebelum bertemu denganku, tapi aku meningkatkan kekuatan mereka.


Maka nanti setelah keluar dari alam salju aku akan mencari cara meningkatkan kekuatanmu."


"Baiklah kau harus berjanji untukku shan'er sayang."


"Apa...?"


"Sayang.... haha."


"Darimana kau tahu ucapan itu?"


"Dari ayah ketika memanggil ibu...!"


Batu komunikasi Qing Shan bergetar.


Qing Shan terkejut lalu mengeluarkan batu itu, dari cincin ruangnya.


Terdengar seorang wanita di ujung sana berbicara.


"Kak Shan'er.....!"


"Lan'er sayang...!"

__ADS_1


"Dimana kau kak Shan'er?


Ibuuuuu........! Ayaaaaahh...!


Kak Shan'er bisa dihubungi......"


"Apa..? Shan'er bisa di hubungi..?"


"Shan'er....!'


"Anakku Shan'er...! ini ibu nak, dimana kau nak?"


Terdengar suara gaduh dan kehebohan dari alam jiwa.


"Ibu......! Maaf Shan'er membuatmu khawatir."


"Apa yang terjadi nak?"


"Baiklah melalui hubungan batu komunikasi ini, aku sepertinya bisa merasakan langit alam jiwa, aku akan mencoba membuka tabir langit alam jiwa sehingga suaraku bisa kalian dengar jelas."


"Ibu....!"


Suara Qing Shan yang bergema di langit alam jiwa, menarik semua perhatian.


Semua warga alam jiwa diam menyimak suara yang menyebut ibu lalu terdiam cukup lama itu.


"Shan'er kami mendengarmu nak."


"Pertama aku meminta maaf telah membuat kalian semua menjadi khawatir.


Aku saat ini berada di sebuah bahagian alam jiwa, yang mana di alam ini ada satu prinsip surga yang berbeda dari bahagian alam lainnya.


Semua orang yang masuk ke wilayah ini, akan kehilangan semua kemampuan kutivasi dan kekuatan tempurnya serta akan menjadi manusia biasa.


Di tempat ini banyak para dewa dan dewi yang telah jatuh menjadi manusia biasa.


Tapi kalian semua jangan khawatir, karena khusus aku sendiri, masih tetap memiliki semua kekuatanku, yang berguna untuk melindungi keluarga besar kita nantinya.


Aku hanya tidak bisa memakai kekutanku disini.


Aku bisa terhubung begini dengan kalian semua, adalah karena aku sedang berada di alam kecil lain milikku.


Dan keberadaan alam kecil ini sendiri baru aku fahami dan ketahui setelah beberapa bulan ini disini dan itupun karena dia yang menarikku ke alam ini.


Aku hanya perlu berjuang mencari jalan keluar dari sini.


"Shan'er anakku ibu tidak lagi akan begitu khawatir kalau sudah mendengar suaramu begini.


Nak bicaralah pada lin'er dan Lan'er juga ibu dan ayah mertuamu."


"Baiklah ibu.


Lin'er dan Lan'er, Bagaimana kabar kalian berdua disana?"


"Shan'er.....!"


"Kak Shan'er....!"


"Ayo bicaralah, aku ingin mendengar suara kalian berdua."


"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu bagaimana keadaanmu kak Shan'er?"


"Lan'er dan juga Lin'er maaf kalau aku akan mengecewakan kalian bila kembali nanti.


Saat pertama kali datang aku kehilangan kemampuan terbangku dan jatuh ke tanah, aku lemah dan tubuhku berat, aku menjadi manusia biasa, merasakan kelaparan kedinginan yang menusuk tulang dan aku sangat putus asa untuk bisa kembali pada kalian, bahkan untuk berbicara lewat batu komunikasi inipun aku tidak pernah menyangkanya akan terjadi.


Aku menumpang di rumah orang lain sebelum membangun rumahku sendiri yang keadaannya tidaklah lebih baik dari rumah jia'er dan yuan'er di desa Suciehn dahulu saat pertama kali kita datang ke tempat itu.


Aku bertani dan mencari kegiatan lain agar pikiranku tidak rusak dan semangatku tidak runtuh, namun begitupun rasa putus asa tetap menderaku.


Aku sangat khawatir tidak lagi bisa bertenu kalian, sebab para dewa dan dewi saja sudah tidak biasa keluar.


di masa masa itu aku bertenu seseorang yang kemudian kembali membuatku merasa berarti dan juga semangat bangkit kembali, maka maafkanlah aku yang mengecewakan kalian Lin'er, Lan'er dan ayah ibu mertua."


"Qing Shan aku Qin Xiang mendengarmu nak, jangan khawatir nak kami tidak menyalahkanmu, maaf kalau karena ingin membela kami kau terpaksa merasakan masa masa sulit itu."


"Nak Qing Shan ibu sebagai ibunya Lin'er juga tidak menyalahkanmu nak, berjuanglah dan kembalilah kepada kami segera.


Bawa juga putri ibu itu saat kembali nanti."


"Terima kasih ayah ibu tapi aku tidak mendengar Lin'er dan Lan'er, pastinya mereka berdua snagat kecewa.


Ratu Ni Huan memegang tangan kedua putri menantunya, memimta mereka bicara agar menjadi semangat bagi Qing Shan untuk berjuang agar mereka kembali.


Semua orang menatap Lin'er dan Lan'er, tampak besarnya harapan di mata semua orang.


"Shan'er apakah kau pikir aku diam karena masalah itu?


Aku justru membayangkan betapa beratnya hari harimu sementara aku tidak bisa berbuat apa apa membantumu disana.


Bahkan karena kamilah engkau harus sampai merasakan semua itu, aku sakit membayangkaya Shan'er.


Terima kasih buat saudariku yang telah merawatmu disana sampaikan salamku padanya.


"Benar kak Shan'er sampaikan rasa terimakasih kami."


"Dia ada di dekatku dan mendengar kalian kenapa tidak mengucapkannya sendiri."


"Saudari....!"


Lin'er dan Lan'er berucap bersama sama.


"Saudari perkenalan aku Lin'er "


"Saudari perkenalan aku Lan'er "

__ADS_1


Terima kasih kau sudah merawat suami masa depan kita


__ADS_2