Pendekar Surgawi

Pendekar Surgawi
Bab 76 : Kebebasan.


__ADS_3

Haris dan Zui'er keluar dari alam kecil dan kembali ke gubuk reotnya di alam salju.


"Sejak hari ini jangan cari aku sebelum aku datang mencarimu ya Zui'er..!"


"Tapi benarkah kak Shan'er akan mencariku?"


"Tentu saja, begitu berhasil Zui'er adalah wanita pertama yang aku cari.


Saat itu aku akan bisa terbang lagi, dan mencarimu dengan cepat."


"Baiklah aku akan menunggu dengan cemas."


"Qing Shan mengelus rambut di kepalanya dan Zui'er menjadi tenang."


"Aku pulang kak Shan'er."


"Iya, aku akan mencarimu begitu berhasil.


Dengan begitu berat hati Zui Meili pergi dan segera Qing Shan menyiapkan beberapa hal dan pergi ke hutan seberang sungai.


Setelah menemukan sebuah dataran yang cukup luas.


Qing Shan memilih sebuah tempat, yang ada tumpukan batu kecil dan sebuah batu besar, seukuran gubuk reot milik Qing Shan disana.


Qing Shan mengambil buah pohon akar jiwa, lalu meletakkannya di atas sebuah batu paling tinggi, dari semua tumpukan batu kecil yang ada.


Qing Shan masuk ke alam jiwa sebentar, untuk memanggil jiwa alam kecil, agar membantunya mendeteksi keberadan jiwa alam salju.


Jiwa alam kecil masuk kedalam alam jiwa Qing Shan, karena mrmang tidak bisa keluar ke alam salju, sebelum jiwa itu ditundukkan.


"Baik tuan...! dari tempat ini aku


akan bisa merasakan kalau dia akan bergerak."


"Kalau begitu aku akan menanti diluar."


Beberapa saat berlalu dalam penantian yang tidak pasti, hingga jiwa alam kecil berteriak.


"Tuan...! Aku sudah bisa merasakan kalau dia sudah bergerak, bersiaplah tuan."


"Baik...! Lumayan kalau dia langsung datang, kalau tidak bukankah aku terpaksa harus bermalam di tempat ini?"


"Ayo datanglah... ayo datanglah jiwa kecil."


Saat Qing Shan masih berada dalam harapannya yang besar, tiba tiba terdengar teriakan jiwa alam kecil


"Sekarang tuan....! dia sudah di depan buah itu, buang batu kaisar dewa."


Qing Shan langsung membuang batu kepung altar hitam, walau dia sama sekali tidak melihat yang disebutkan oleh jiwa kecil.


Perlahan batu itu bergetar sekali, menunjukkan ada sesuatu yang terkurung di dalamnya.


Meski lambat namun pasti kekuatan Qing Shan mulai melonjak dan akhirnya sampai kepada kepada puncaknya.


Qing Shan merasa sangat puas atas kebebasan dirinya dari tekanan hukum surga dari alam salju.


Namun dia belum bisa merasakan dan merayakan kebebasan dirinya ini, sebab banyak hal yang masih menantinya


Dia lalu memasang array ilusi dan array perlindungan.


Dan segera mengedarkan kekuatan dan kesadaran jiwanya, ke dalam formasi batu kepung altar hitam yang sudah aktif.


Qing Shan lalu menyerang dengan kekuatan penuhnya, rasa kesal dan kebenciannya harus terpisah dari keluarga dan orang orang terkasihnya selama ini dia lampiaskan saat itu juga.

__ADS_1


"Duuaarrrrr..... buuummm"


Serangan yang lebih kuat dari serangan yang menghancurkan sekte racun kematian dia lepaskan berulang kali.


Lalu dia melesatkan pukulan energi topan ruang kehancuran, seolah tak ingin berhenti telapak guntur pemusnah juga dia lesatkan.


Ketika telah puas melampiaskan seluruh amarahnya, suara jeritan namun sudah sangat pelan dan menyayat hati terdengar sayup sayup dibawa angin.


Qing Shan masuk dan memeriksa situasi di dalam.


"Tuan ampun tuan...!"


"Apakah sekarang kau sudah mengaggapku seorang tuan."


"Kau kurung aku disini sedangkan aku adalah pemilik alam jiwa ini, apakah kau ingin kubakar habis dengan api,"


Api ganas dari lautan api yang menenggelamkan orang orang mati di area portal reinkarnasi Qing Shan keluarkan dan jiwa itu meringkuk ketakutan.


"Tuan jika tuan membakar saya maka semua sungai di alam jiwa ini akan mengering tuan."


Aku bisa memasukkan air sungai apapun yang kuinginkan, ke alam jiwa ini."


"Tapi itu akan berbeda tuan, semua ikan yang ada di sungai pada alam ini, tidak lagi akan bisa hidup dan berguna bagi peningkatan kultivasi."


"Aku punya harta yang jauh lebih berharga dari semua ikanmu."


"Tuan aku hanya berbuat sesuai hukum ketetapan surga tuan, mohon mengertilah tuan."


"Surga juga menetapkan yang lemah akan mati dan yang kuat akan menang.


Maka matilah kalau begitu....!"


"Tuan...."


"Tuan...! Aku memang telah membuat kesal tuan, tetapi satu hal yang tuan perlu fahami kalau aku sampai mati maka alam jiwa ini, akan sama seperti alam lainnya, tidak akan bisa menjadi tempat aman lagi bagi tuan dan keluarga tuan."


"Apakah kau mencoba mengancamku, karena begitu takut mati?"


"Bukan tuan, hati tuan sedang penuh dengan kebencian, saya tidak lagi punya kemampuan menjelaskan jika tuan menolak.


Maka silahkanlah tuan bunuh saya, untuk memastikan."


"Aku tidak akan segan segan membunuhmu.


Kau lihat bukan, aku tidak menahan diri dalam melakukan serangan?


Silahkan berikan penjelasan terakhir, kalau aku tidak puas maka kematianmu sudah dipastikan."


"Baik terima kasih tuan.


Tuan sudah melihat betapa banyaknya para dewa di alam ini.


Mereka semua terkurung dan sama sekali tidak bisa keluar karena tidak bisa melawan hukum surga yang ada.


Kenapa alam jiwa dewa ini menjadi begitu aman, bahkan tidak akan bisa dimasuki oleh dewa terkuat sekalipun, adalah karena keberadan alam salju ini yang di karunia hukum surga itu tuan.


Maka bila tuan tetap memutuskan membunuh saya, alam jiwa dewa tidak akan pernah sama lagi.


Alam ini hanya akan menjadi alam kecil biasa, yang akan bisa dimasuki siapapun yang akan punya kekuatan lebih.


Itulah penjelasan saya tuan, silahkan tuan memutuskan."


"Ha..ha..hahahahhh tetap saja terselip ancaman dalam penjelasanmu, namun itu hanya akan menguatkan semangatku untuk membunuhmu."

__ADS_1


"Tuann.. lihatlah posisi saya tuan, saya malah sudah berusaha mencari sehalus halusnya perkataan tuan, mana mungkin saya bisa berada di pihak yang mengancam kepada tuan dalam kondisi seperti ini.


Saya hanya mengatakan kebenaran tuan."


"Baiklah kau sedikit mulai masuk akal, sekarang jelaskan kenapa kau begitu sombong dan tidak mempertimbangkan kedudukanku sebagai pemilik alam jiwa ini?"


"Pertama saya minta maaf sudah sombong tuan, tetapi dengan begitu banyaknya pemilik alam jiwa sebelumnya yang terkurung disini membuat saya merasa besar diri tuan.


Kedua, karena memahami bahwa alam salju yang memiliki hukum surga inilah inti dari segala alam, membuat saya sombong sehingga tidak menganggap keberadaan pemilik alam jiwa, terlebih saya yang menjadi penguasanya di alam salju ini tuan.


Saya lupa di atas langit masih ada langit, diatas hukum surga juga ada hukum surga yang lain, yang lebih tinggi dan tuan sudah membukakan mata saya.


Maka saya memohon ampun dan bertekuk lutut, di bawah kuasa anda dan hukum surga yang anda miliki.


Saya tetap menyelipkan harapan agar tuan, bisa memaafkan saya, agar semua dewa dan dewi yang telah jatuh di alam ini tetap punya kehidupan mereka, agar sungai tetap mengalir agar pepohonan tetap hidup dan buah berbagai musim bisa tetap tumbuh.


Sungai ini adalah sungai yang sama, dimana dibahagian lain tuan, mandi dan memulai latihan kultivasi anda disana.


Maafkanlah saya dan beri saya kesempatan, sebagaimana saya telah memberi tuan kesempatan, untuk tumbuh dan berkembang di alam ini tuan."


Jiwa alam salju berlutut tiga kali kepada Qing Shan dan hal itu membuat badai amarah dan kebencian di hati Qing Shan sirna.


"Kalau begitu sejak hari ini kau akan jadi salah satu dari pelayanku.


Qing Shan melesatkan sebuah array pengikat jiwa yang kuat dan jiwa alam salju, membiarkan array itu masuk dan tidak menolaknya.


"Seraplah buah itu agar tenagamu pulih, aku akan pergi, orang orangku sudah tersudut oleh serangan dari makhluk lain."


"Baik terima kasih tuan, maaf sudah menimbulkan semua kekacauan ini tuan."


"Ya pulihlah segera agar alam salju ini kembali pulih."


Qing Shan menarik batu altar hitam dan langsung melesat terbang, dengan kecepatan pendekar dewa bumi.


Tak lupa dia memakai array, agar tidak dapat dilihat oleh orang lain.


Dalam waktu sekejap dia sudah sampai di rumah dewi bunga.


"Zui'er...."


"Kak Qing Shan, apakah sudah berhasil.?"


"Lihat saja."


Qing Shan mengeluarkan armor berlapisnya dan petir berderik menyeruak dari tubuhnya, namun ditekan sampai pada batas yang tidak merusakkan.


"Kau berhasil Shan'er?"


Dewi bunga yang telah mengetahui segala sesuatunya dari putrinya bertanya.


"Iya bu, tapi aku belum bisa menjelaskan seperti apa.


Saat ini para pelayankau sedang terdesak oleh serangan musuh, saya ingin meminta izin membawa Zui'er dan ibu kepada keluargaku, disana nanntinya ibu akan lebih kenal siapa Shan'er anakmu ini."


"Ibuuuuuuu!"


Zui'ee merengek pada ibunya agar di bolehkah.


"Baiklah kita berangkat sekarang...!"


Qing Shan membalut keduanya, lalu melesat menuju pedesaan warga alam jiwa.


Sesampainya disana Qing Shan memperkenalkan mereka pada keluarganya, lalu meminta izin kemudian terbang melesat ke portal pembatas alam benua tengah.

__ADS_1


__ADS_2