
Benar saja apa yang pemilik kedai sebutkan, malam hari suhu di tempat Qing Shan saat ini berada sangat digin, saat matahari tidak bersinar seperti di siang hari, badai salju dari tempat asal dia masuk bisa mencapai tempat itu, dinginnya tak tertahankan, Qing Shan tidak lagi punya sesuatu dari keistimewaan yang dimiliki seorang kultivator untuk bisa menghangatkan ataupun menjaga tubuhnya agar tetap hangat.
Rasa dingin yang menusuk tulang memaksanya untuk bangun, perutnya untuk pertama kalinya setelah dewasa seperti sekarang merasakan lapar yang begitu bersangatan, mengisap dan berbunyi.
"Ah rasa lapar ini, apakah ini yang biasa dirasakan oleh manusia biasa? aku sudah lupa kapan terakhir kalinya merasakan perut yang lapar seperti ini.
Hmm.... ya terakhir kalinya aku merasa lapar adalah saat masuk alam jiwa dan meminum air telaga kahyangan, tapi apa ini, setelah masuk ke tempat ini aku malah merasakan perasaan lapar yang begitu berat ini?
*Sungguh memalukan memang persis seperti ucapan para senior itu, disaat berada di puncak lalu jatuh ke tempat ini dan kehilangan segalanya.
Apakah aku harus menyerah sampai disini seperti mereka*.?
Mereka yang adalah dewa dewi saja bisa jatuh begitu dalam, sehingga bahkan untuk sekedar mengingat jati diri mereka yang sebelumnya sebagai sosok dewa dewipun begitu membuat mereka merasa malu dan lucu, lalu aku yang bukan dewa ini, betapa akan berharap lebih untuk bisa keluar dari tempat ini lalu melanjutkan cita citaku?
Ayah ibu dua gadisku Lin'er dan Lan'er, para pengawal juga semua wargaku warga alam jiwa, andai kalian melihat betapa lemah dan rapuhnya aku yang sekarang?
Petir Naga surgawi, pedang petir merah kehampaan, jurus telapak guntur pemusnah, peremuk jiwa, topan ruang kehancuran dan kebanggaanku energi pelahap kehampaan berikut ruang kehampaan yang bisa memuat apapun.
Dimana kau akar jiwa surgawiku yang begitu berharga? Bukankah engkau telah berevolusi menjadi sebuah pohon dengan banyak buah kecilnya.?
Aku tidak boleh menyerah disini, jalanku masih panjang.
Aku tahu alam ini pasti punya prinsipnya sendiri, pasti punya rahasia yang membuatnya jadi begini.
Yang kuperlukan hanyalah memahaminya.
Yang kubutuhkan adalah pengetahuan tentangnya.
Persetan bila mereka dewa atau dewi sebelumnya jika mereka menyerah di tempat ini, apa arti kebijaksanaan yang mereka miliki sebelumnya?
Walau mereka adalah pemilik alam jiwa sebelumnya seperti aku, lalu kenapa dengan itu?
Kalau pada akhirnya mereka menyerah untuk berjuang, tentu mereka sangat tidak lagi pantas menyandang gelar dewa dan dewi.
Aku memang berasal dari manusia biasa, tetapi aku jauh lebih kuat dalam menerima rintangan dan cobaan hidup semacam ini.
Bukankah saat menjadi seorang kultivator kuat sekalipun, ancaman kematian tidak akan pernah hilang?
Aku harus bangkit...
Aku harus berjuang....
__ADS_1
Ini bukan akhir bagiku.....!"
Qing Shan terus berjuang mempertahankan semangat dan juga harapannya.
Malam itu dia meringkuk di bawah kain selimut yang melindunginya dari hawa dingin yang menusuk begitu tulang.
Dia tidur di dekat perapian yang memancarkan kehangatan dan harapan pada tubuhnya, yang kini lebih rapuh dan rentan dari sebelumnya.
Hatinya terus berkecamuk dan berperang, keputus asaan terus mencoba memaksa masuk menerobos kesadaran pikirannya, tapi dia terus menolaknya dengan tameng semangat dan harapannya.
Qing Shan terus berjuang diantara kedua badai yang saling berperang di hatinya itu, sampai dia terlelap dalam tidurnya.
"Bangunlah anak muda, kau masih muda jangan bermalas malasan.
Pergi sana cari kegiatan, kamu boleh datang lagi kemari untuk tidur di malam hari, tetapi kau juga harus bangun cepat di pagi hari, sebab aku akan memulai usahaku disini, maaf aku tidak bisa memberimu lebih dari itu."
"Ah... maafkan aku pak tua."
Qing Shan menangkupkan tinjunya sebagai bentuk penghormatan.
"Ini malam pertama bagiku di tempat ini.
"Ya aku memaklumimu kali ini, kita semua sudah mengalami hari yang sama untuk pertama kalinya, itu sebabnya aku tidak langsung menyirammu dengan air tadi."
"Baiklah pak tua, aku pergi sekarang."
Qing Shan berjalan menuju sungai hendak membersihkan diri
Air sungai itu begitu jernih dan segar, dia melihat ada begitu banyak ikan ikan yang berada di sungai itu.
Perlahan Qing Shan turun dari permukaan tanah yang sedikit lebih tinggi dari dasar sungai yang dalamnya hanya setengah lutut orang dewasa itu, lalu dia membasuh wajahnya disana, sensasi rasa segar menjalar di tubuh Qing Shan.
Sisa kehangatan selimut dan api unggun yang semalaman ini menerpa tubuhnya, tergantikan rasa segar yang turut menyegarkan pikirannya yang lelah dalam badai peperangan.
"Ah rasa segar ini sangat ajaib, tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Ternyata tubuh manusia itu lebih peka dalam beberapa hal, lebih mudah dalam merasakan dingin panas sakit lapar dan perih.
Hahhhh.... ternyata rasa nikmat yang berlebih itu beriringan dengan rasa sakit yang juga berlebih.
Selama ini tubuhku terasa terlapisi oleh sesuatu sehingga rasa segar dan nikmat seperti ini maupun rasa hangat yang kurasakan ketika berada di dekat api unggun tidak bisa kurasakan."
__ADS_1
Qing Shan kembali bermonologh di dalam pikirannya, menyadari pemahamannya yang baru saja dia rasakan.
Setelah membuka seluruh pakaiannya dan dengan memakai selembar kain yang menutupi beberapa bahagian tubuhnya, dia lalu mencelupkan tubuhnya dan menahan posisinya dalam keadan demikian untuk beberapa saat.
Aliran air yang sangat segar melewati tubuhnya, membelainya lembut dalam arus sungai yang terus setia setiap saat, mengalir menemani perjalanan kehidupan orang orang yang berada di alam itu.
"Ahhhhh rasa segar ini mengajarkan aku cara untuk menikmati hidup.
Apa itu tanggung jawab?
Apa itu tujuan hidup, bukankah kehidupan itu hanya sebuah perjalanan?
Untuk apa terburu buru menjemput takdir yang belumpun di ketahui ujung kesudahannya?
Inilah hidup, inilah kebahagiaan, saat engkau bisa menjalaninya dengan meresapi setiap serpihan serpihan kebahagiaan dalam prosesnya.
Banyak manusia lupa cara menikmati hidup dan bahkan lupa kapan terakhir mereka bahagia.
Ahhhhhh..... Aku tidak ingin menjadi salah satu bahagian dari mereka, aku tidak mau hidup dalam ketidak fahaman seperti itu."
Qing Shan mengangkat tubuhnya untuk mengambil nafas dan mencelupkannya berulang kali, sambil meresapi semua pemahaman barunya yang menjadikan hatinya damai, pikirannya terbuka dan semangatnya kembali memiliki kekuatan, untuk lebih siap dalam menghadapi segala tantangan perjalanan kehidupannya kali ini.
"Yah saat aku menjadi seorang kultivator aku tidak perlu, berulang kali mengambil nafas dengan beberapa kali keluar dari air seperti saat ini, aku bisa menahan nafas seharian tanpa mati karena adanya aliran energi alami langit dan bumi, yang senantiasa beredar dalam tubuhku, termasuk walau aku masuk kedalam lautan api sekalipun.
Tapi rasa nikmat seperti ini tidak akan kudapatkan dalam kondisi tubuhku yang seperti dulu.
Hmmmm.... ternyata kesedihan kesusahan dan penderitaan, tidak akan sia sia keberadaannya, sebab itulah yang akan menjadi pondasi kebahagiaan kesenangan dan keindahan dalam hidup ini.
Hidup yang senantiasa lapang, kenyang, kaya tanpa merasakan pembandingnya membuat hidup akan terasa biasa tidak indah sama sekali justru setelah dengan merasakan keduanya maka hidup akan terasa lebih indah dan bermakna .
Terima kasih surga, aku sedikit demi sedikit mulai memahamimu, kenapa mengizinkan adanya kesusahan dan penderitaan, ternyata agar manusia faham apa arti dan nilai dari suatu kebahagiaan
Maafkan aku surga, aku memang bodoh sebelumnya dan terima kasih atas pengalaman hidup yang begitu indah ini.
Walaupun aku merasakan sakit yang kau timpakan saat ini, tapi aku bersyukur dengan nikmat lain yang kau beri, dimana selama ini aku tidak memahaminya sama sekali.
Aku Qing Shan berjanji, tidak akan putus asa dan tidak akan berhenti disini tunggu aku disana surgaaaaaaaaaaaa.......!!!!!!!
'Duuuuuuaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.."
Ledakan petir surgawi menghantam langit alam salju.
__ADS_1