
Kehebohan yang tercipta dari proses penghancuran sekte hati iblis dan peningkatan kultivasi Qing Shan membuat kegemparan yang sangat besar.
Desa yang tadinya tergolong sunyi sepi kecuali bila sekte hati iblis bergerak membuat huru hara, belakangan ini menjadi riuh dengan berbagai dentuman ledakan, suara senjata yang beradu berikut suara jeritan dan lolongan keputus asaan para tetua sekte menghiasi pendengaran setiap makhluk yang ada disana.
Gelombang arus perpindahan penduduk desa yang tidak tahan dengan sumua suara suara jeritan yang begitu mengganggu, ditambah pula dentuman dan benturan yang mengguncang bumi, serta hawa panas yang diakibatkan oleh gesekan energi besar dalam pertempuran, membuat warga desa mengungsi jauh.
Kini kejadian itu sudah tersiar sampai kemana mana.
Meski kejadiannya telah selesai tetapi cerita tentang kejadian itu terus bergulir.
Hancurnya sekte hati iblis mengguncang sekte sekte aliran hitam lain, mereka merasakan dilema antara pilihan untuk bertahan atau membubarkan sektenya.
Segala prediksi dan pertimbangan mereka pikirkan, apakah penghancuran itu akan bersikap total bagi semua sekte aliran hitam, mengingat sudah dua sekte besar telah di bumi hanguskan atau sekedar penghancuran yang sifatnya, terbatas atas sekte yang telah dengan bodoh menyinggung kekuatan yang semestinya tidak boleh mereka ganggu.
Disaat banyak sekte mempertimbangkan pilihan antara bubar atau bertahan, sekte sekte kecil yang baru tumbuh dari kumpulan perampok dan berandalan mulai bubar barisan, sebahagian yang lain memilih bergabung dengan sekte sekte besar yang masih tersisa.
Banyak para kultivator aliran putih dari daerah lain yang sedang melakukan perjalanan ke kota baru Suciehn, penasaran dengan semua cerita cerita yang berkembang, sehingga tertarik untuk datang untuk sekedar melihat tempat kejadian, mereka sangat mengetahui, dari dampak luasnya arena pertarungan yang di bumi hanguskan, maka cerita yang berkembang tidaklah terlalu dilebih lebihkan.
__ADS_1
Di tempat lain seorang pria muda sedang duduk termenung, di atas sebuah batu sungai di bekas desa Qing Shunzhuan.
Pandangannya jauh menerawang mengingat kenangan masa lalu dimana mereka saat itu dengan tawa ceria yang lepas tanpa beban, akan melompat ke lubuk sungai dari batu yang saat ini dia duduki, tentu saja saat itu batu ini rasanya sangat tinggi sebelum dia bisa terbang seperti sekarang.
Merasa tidak ingin sendiri dalam kenangan duka mendalam itu, Qing Shan mengeluarkan Luo Pangzi dan Mei Yin beserta ayah ibunya dari dunia jiwa, sesaat emosi di hati mereka tumpah menyadari dimana keberadaan mereka sendiri.
Semua orang merasakan sesak di dadanya, kenapa manusia sejahat itu?
Kenapa kekuatan harus dipakai untuk menghancurkan dan menindas yang lemah?
Kenapa manusia begitu serakah dan sangat sulit berbagi?
Perlahan mereka mulao beranjak dari sana dengan perlahan dan seringkali berhenti.
Setelah membasuh wajah di sungai yang penuh kenangan, air mata jatuh berderai, rasa sakit dendam dan benci yang menyatu di dalam hati, yang mereka tujukan pada para badj!ngan perampok hati iblis begitu besar, manakala di saat yang sama rasa rindu sedih dan hati yang tersayat mereka alami, mengenang setiap peristiwa dan kejadian yang di habiskan di sungai itu, dahulunya bersama orang orang yang mereka sayangi.
Apakah itu ayah ibu kakak adik teman kerabat dan semua yang pernah berhubungan dengan mereka.
__ADS_1
Bahkan si Qing Shan yang gagah perkasa harus menumpahkan banyak air matanya di tempat itu.
tangannya terkepal erat seolah menahan beban yang begitu berat, kukunya menusuk daging mengeluarkan darah menetes terbawa air sungai yang mengalir.
Desa ini seolah mengadu akan kerinduan pada penghuninya, mereka tidak mau ditinggalkan tetapi tidak punya pilihan, angin yang berhembus lembut membelai menyambut penghuni asli, tuan di desa ini ysng telah lama tak ditemui, seolah angin tersebut merayu agar semua datang kembali.
Pepohonan disana yang buahnya biasa mereka makan sewaktu kecil seolah berbicara, agar mereka jangan lagi di tinggalkan.
Jalan setapak di desa telah tertutupi rumput yang lebat karena tidak pernah lagi di injak manusia, lapangan luas milik desa tempat biasa warga berkumpul dan bercengkrama berbagi cerita di sore hari, setelah selesai seharian bekerja di ladang usaha pertanian dan peternakannya masing masing, telah berubah menjadi hutan liar.
Tampak di ujung jalan rumah tua pemimpin desa telah ambruk setengahnya karena tidak kuat menopang rumput dan kayu yang merambat
Semua hancur karena keserakahan manusia, batu roh yang ada di desa mereka menjadi jalan yang mengundang kehancuran.
Semua jeritan dari orang orang yang tak bersalah terdengar pilu mengisi ruang kesunyian, moment dimana rumah dibakar penghuninya diseret keluar dan cambukan kerja paksa, membombardir ingatan dan mencakar jiwa.
Mereka berlima semua terdiam dan semua wajah tampak murung, mata mereka berembun dan rasa sesak seolah meledakkan dada mereka, semua orang membalikkan wajahnya tak ingin dilihat oelh yang lainnya.
__ADS_1
Saat semua keadan begitu hening dan hanya suara hewan kecil yang terdengar, batu komunikasi yang merupakan harta surgawi milik Qing Shan bergetar lalu terdengar suara lembut seorang wanita di seberang sana yang telah lama tidak dia dengar, suaranya dengan lembut berceloteh bertanya dan juga menceritakan keadaannya, membuat hati Qing Shan kini terasa hangat, rasa sakit yang sejak tadi begitu menyiksa tanpa bisa dilawan dengan apapun juga, kini hilang bak awan mendung yang tersapu oleh angin yang kencang.
°° " Oh begitu indahnya seorang wanita bahkan suaranya saja sudah bisa membawa kehangatan "°°