Pendekar Surgawi

Pendekar Surgawi
Bab 66 : Formasi batu altar hitam


__ADS_3

Perlahan debu menghilang pilar batu kepung yang merupakan Artefak tingkat dewa langit dan merupakan harta surgawi itu juga ikut menghilang.


Pria itu panik dan berulang kali mengutuk dengan kata kata sumpah serapah.


"Apakah artefak itu hancur?


Mustahil, bahkan kekuatan dewa bumi puncak belum bisa menghancurkan artefak itu.


"Apakah badj!ngan sialan itu mencurinya?


Keparat itu, seharusnya dia sudah mati, arrgghhhtt.... lalu kemana senjataku?"


Pasukan yang menjauh di seberang menatap dengan was was, perkembangan keadaan yang ada, mereka melihat tempat Qing Shan tadinya berdiri yang sudah tidak terlihat siapapun disana.


Sementara itu Qing Shan saat ini baru saja keluar dari dasar danau telaga kahyangan dan dia sedang menatap takjub, pada batu kepung yang sedang berdengung keras di depan Istana, yang baru hanya dia saja yang tahu keberadaannya serta hanya dia yang bisa memasukinya.


Qing Shan sengaja berlindung dari ledakan serangan, yang di arahkan padanya oleh pendekar dewa lawannya, dengan masuk ke dalam alam jiwa.


Hal itu dikarenakan Qing Shan sama sekali tidak memperoleh celah, untuk dia bisa keluar dari kepungan batu altar hitam dan juga tidak bisa menyerang maupun mengerahkan energinya keluar, sekedar untuk berlindung dari seragan lawan maupun tekanan kekuatan batu kepung altar hitam.


Sungguh harta yang memiliki cara kerja yang sangat luar biasa Qing Shan akan jadi bulan bulanan dan tidak tertutup kemungkinan akan mati jika dia tidak punya harta berupa alam jiwa dewa, begitulah peran besar harta dan kekuatan pada seorang pendekar dewa sekalipun.


Yang kemudian membuat pihak lawannya berang adalah, Qing Shan membawa serta senjata lawan menjadi miliknya.


Pendekar dewa lainnya yang menyerang Qing Shan diam diam, saat sedang bertarung dengan temannya si pendekar dewa yang telah mati mengering itu, kini menatap tajam pada kumpulan musuhnya karena mengira Qing Shan telah mati.


'He...he..heehhhh apakah kini kalian punya pahlawan penyelamat lain?"


"Hei kami sama sekali tidak takut padamu, kalau kau kira akan mudah mengalahkan kami, hanya karena kau merasa kuat maka kau sangat salah."


Baru saja pendekar dewa akan bertindak, tiba tiba cuaca segera berubah, awan gelap tiba tiba menutupi areal itu, petir mendominasi dimana mana dan sosok Qing Shan muncul kembali di tempat semula dia menghilang.


Pasukan yang baru saja akan menjadi landasan kemarahan pendekar dewa, menjadi sangat bahagia.


"Dia kembali tuan pendekar itu kembali."


"Benar...! Dia lolos dari serangan besar itu, ba.. bagaimana caranya dia lolos?"


"Hah.... ini akan menjadi semakin seru."


Pendekar dewa yang tadi akan menargetkan mereka begitu kaget dengan kehadiran sosok Qing Shan dan mulai khawatir tentang posisi mereka.


Dia mulai berpikir untuk memilih kemungkinan lari, persis saat pria itu akan melesat lari meninggalkan temannya, dia merasakan tubuhnya tidak dapat lagi digerakkan, kakinya seolah di ikat dengan kuat ke permukaan tanah yang kerasnya melebihi besi.


"A..apa..? Ka..kakiku tidak dapat digerakkan?


Apakah temanku mengikatku?


Seharusnya dia tidak berbuat itu bukan? harusnya lebih memilih melepasku untuk bisa membantunya.


A..apakah pemuda itu yang melakukannya?"


Dia tertegun heran dan melihat Qing Shan bahkan tidak meliriknya.


"Kenapa? Apakah kau heran aku masih hidup?


Bukankah sudah kukatakan, kalau harus ada yang mati, maka itu adalah kau yang akan mati?"


"Hei anak sombong, kau mungkin tidak tahu siapa dan darimana kami berasal, dunia kecil kalian ini hanyalah mainan di tempat kami."


"Benarkah?


Lalu kenapa ada pendekar dewa dari golonganmu yang menganggap dunia ini hanya mainan, tapi bisa mati mengering di tempat ini?


Dan kau sebagai pemimpin mereka yang merasa paling kuat dari siapapun di dunia ini, bahkan tidak bisa menjaga nyawanya bukan?"

__ADS_1


"Bedebah mulutmu memang penuh bisa..."


"Hiyaattttt....."


Ucapan Qing Shan pada pria itu benar benar menohok namun begitulah kenyataannya.


Hal itu membuatnya mengamuk dengan hebat. Pria itu menerjang Qing Shan dengan tendangan keras yang memancarkan api namun Qing Shan memblokir tendangannya dengan pukulan peremuk jiwa yang dia kombinasikan dengan pukulan telapak guntur pemusnah, pria itu mundur ke belakang sejauh seratus langkah sedangkan Qing Shan terdorong sepuluh langkah.


"Bedebah.... badj!ngan, akan kucabik cabik kau."


"Kau terlalu banyak omong kosong tanpa batu altar hitam itu, apa kau berpikir bisa menghalangiku?"


Tanpa menjawab pria itu datang dengan serangan ganas, bersenjatakan garpu yang tajam dan panas membara.


"Bukhhhh...... arrggghhhttt"


Pria itu terlempar kembali setelah dihantam oleh serangan Qing Shan, dengan pukulan topan ruang kehancuran.


"Ayo mana kekuatan yang kau sombongkan sehingga menganggap dunia dan penghuninya kecil ini...?"


"Arrrrgggghhhhhhhttttt...... "


"Tubuh pendekar dewa itu membesar dan membengkak seperti raksasa sehingga Qing Shan tampak sangat kecil dihadapannya."


"Duuaaarrrrrrrr..... braaakkhhhh"


"He... he kau hendak mengalahkanku dengan tubuh besarmu? Terimalah gelombang energi kematian ini....!"


"Badj!Ngan.... akkhhhhh...."


Terpaan gelombang aura energi transisi membuat raksasa itu menyusut dan akan mengering, dia melepaskan jurus tubuh dewanya dan tiba tiba berubah menjadi butiran cahaya hijau yang menyala terang dengan aura kehidupan yang begitu kental.


"Ha.... ha..hahaah luar biasa kau punya begitu banyak cara dan harta berharga."


Butiran cahaya berubah menjadi benang benang hijau yang sangat tajam dan mengeluarkan api ganas, yang dengan mudah menjadikan semua benda yang disentuhnya menjadi debu.


Sebahagian benang benang itu berkumpul dan menumpuk lalu perlahan membentuk tubuh pria pendekar dewa lawan Qing Shan.


"Ha....ha...ha..hahahahh bagaimana bocah? kali ini aku akan mencabik cabikmu, bersyukurlah kau akan mati di tangan tuan ini."


Benang benang yang tak terhitung jumlahnya keluar dari tubuh pria itu lalu menerjang Qing Shan dan mengepungnya dari segala arah.


"zztztzttt....zzziizzittt....zzzzzz."


"Gawat, bahaya datang."


"Semua pancaran petir yang tadinya mendominasi tempat itu berhenti bahkan petir yang menyambar yang berasal dari tubuh Qing Shan akan terputus dan bila terkena benang benang hijau yang begitu tajam dan memancarkan cahaya terang itu."


Qing Shan kembali berada lada situasi teekepung, kali ini dalam balutan gulungan benang benang hijau, perlahan gulungan mengecil mengikuti ukuran badan Qing Shan.


"Ha...ha..ha..hahahah, apakah masih ada seseorang lagi di alam ini, yang cukup merepotkan selain pemuda ini?"


"Apakah kau akan mengatakan kalau aku ini hanya sekedar merepotkan?


"Ka...ka..kau.. ba...bagaimana kau masih bisa keluar."


"Kau sendiri kenapa masih begitu bodoh memakai metode yang sama dengan mencoba mengurungku setelah aku mampu keluar dari batu kepung milikmu?"


"Bangs@@ttttt..... hiya.....!"


Pria itu mengarahkan gelombang benang hijaunya menerjang ke arah Qing Shan


"Kali ini kau harus mati badj!ngan..!"


Qing Shan melemparkan batu kepung ke arah pria itu, lalu pilar pilar batu altar hitam yang kokoh mendindingi seluruh tubuh pria itu dan benang benang hijau miliknya terhenti, sehelaipun tak terlihat lagi.

__ADS_1


Qing Shan mengedarkan kekuatan jiwanya dan masuk kedalam formasi batu kepung altar hitam.


"Bagaimana?


Bagaimana rasanya berada dalam kegelapan yang pekat ini?


Inilah kegelapan yang selama ini kau timpakan pada musuh musuhmu yang malang, yakni ketakutan yang begitu mencekam sebelum kematian.


"Hei.... keluarkan aku... keluarkan aku.."


"Apa aku meminta hal yang sama saat kau kurung.."


"Keluarkan aku bangs@ttt....!!!"


"Yaaaa...... aku akan mengeluarkanmu dari dunia ini."


"Tidak...tidakk.... jangan bunuh aku, cukup keluarkan aku dari kepungan ini?"


"Heiiii aku sedang memegang pedang yang sangat tajam dan aku ada disebelah kirimu...'


"Tidakkk.... jangan... jangan membunuhku."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak melecehkan istrimu tuan.."


"Tapi kau berulangkali menyebutku bangsat dan mengutukku."


"Tuan maafkan aku, itu sudah jadi bahasa yang biasa di tempat asalku."


"Lalu apa alasan aku harus mengampunimu?"


"Itu.... itu karena kami hanya dipaksa datang ke tempat ini untuk mengambil alih tempat ini."


"Oleh siapa?"


"Oleh pemimpin kami di alam benua tengah..tu..tuan."


"Jadi apa hubungannya denganku?"


"Anda adalah orang yang baik tuan, anda bisa saja langsung membunuh saya, tapi tidak melakukannya karena ingin memastikan kebenarannya, maka anda adalah orang yang baik, tolong ampuni saya tu..tuan.


Saya siap jadi budak anda, pasangkan tanda jiwa anda, kedalam diri saya kalau tuan ragu."


"Baiklah.... aku akan menguji kesetiaanmu terhadap temanmu yang tadi melecehkan istriku."


"Aku akan membunuhnya tuan, terima kasih kepercayaan anda."


Qing Shan menarik batu kepung dan pria itu melesat ke arah temannya,lalu melepaskan semua benang hijau yang kemudian menembus dan mencabik tubuh temannya yang malang dalam waktu sekejap.


Seluruh tubuhnya kecuali wajah telah hancur menjadi bubur, namun sebagai pendekar dewa orang itu masih bisa bertahan sesaat sebelum kemudian nantinya akan mati.


"Ke....kenapa...?"


"Karena kau ikut berpihak pada orang yang melecehkan istri dari tuanku."


"Buk....!"


Kepala itu jatuh dengan mata melotot penuh dengan rasa penasaran.


pria itu segera melesat ke arah Qing Shan dan berlutut


"Pelayan ini sudah mengerjakan apa yang tuan inginkan."


"Baik aku percaya denganmu."

__ADS_1


Tanda jiwa lalu melesat membalut jiwa pria itu. Untuk sesaat dia terlihat menahan rasa sakit lalu kembali bersikap normal setelahnya.


__ADS_2