
"Hai Dewa perang."
"Pfffhhhht... ha ha hi hi wkwkkwk
ekekekekekkk wakakakaak awok wok."
Semua orang di kedai itu menyemburkan minuman yang ada di mulutnya masing masing.
Beragam jenis tawa terdengar setelah sebutan 'dewa' dari salah seseorang yang minum disana, meluncur keluar yang di tujukan pada pemilik kedai.
Mereka masih saja belum terbiasa dengan kata itu dan menganggap itu sebagai sebuah lelucon bahkan pada keadaan tertentu, itu bisa dianggap sebagai penghinaan berat bagi mereka yang tidak terbiasa bergurau, seperti yang saat ini dirasakan oleh pemilik kedai.
"Apakah kau ingin mengejekku langit?"
"Maaf... maaf kata itu begitu akrab terdengar setelah kehadiran pria muda itu hahahahh."
"Baiklah tidak ada eliksir, bagimu hari ini datanglah besok lagi."
"Hei perang, jangan begitulah sobatku, kau memang sangat pemarah sesuai namamu.
Ayolah... aku hanya menggodamu teman..! Aku juga diperlakukan demikian oleh teman kita yang lain
Ayo sini mana eliksirku?"
"Apakah kau sunguh ingin minum eliksir.?"
"Tentu. Eliksir buatanmu adalah yang terbaik."
"Kalau begitu kau perlu berjanji untuk tidak pernah mengatakan kata itu di kedaiku ini."
"Baiklah aku berjanji.
Ayo cepat bawa kemari."
" Perang....! Bukankah itu adalah pemuda yang malam ini menginap di kedaimu?"
"Ya itu adalah dia."
"Apa dia susah gila? berteriak teriak seperti itu."
Pengunjung kedai yang lain ikut berbicara.
"Aku rasa tidak, di luar keadan umurnya yang masih muda, dia lebih bijaksana dari kita semua."
"Kenapa kau mengatakan itu perang?"
"Hei Bumi berapa hari kau tidak bisa tersenyum setelah masuk ke alam salju ini?
Berapa hari kau baru bisa menerima hidupmu?
Bahkan si salju yang domainnya sebelumnya juga adalah salju, tidak bisa tersenyum sampai hari ini, karena terjebak di alam salju yang merupakan Nerakanya orang orang kuat ini.
__ADS_1
Coba kau lihat pemuda itu..!
Lihat senyumannya.
Apakah kau melihat adanya keputus asaan diwajahnya?"
"Benar juga, aku tidak terlalu memikirkannya tadinya."
"Hei kalian berdua jangan terlalu yakin, orang yang akan gila juga biasanya akan tersenyum senyum sendiri seperti itu huahahahahahhh."
"Kau salah....!
Kalau dia akan gila, dia tentu akan mandi tanpa sehelai kainpun yang menutup beberapa bahagian badannya, sehingga bisa dilihat jelas oleh orang lain dari kedai eliksir ini, maupun beberapa rumah terdekat dari sungai ini.
Apalagi rumah yang tidak terhalang pohon apapun ke sungai itu."
"Hei kau menyindirku?"
"Apakah kau mandi seperti itu?
Mana kutahu kau begitu."
"Kau hanya menyindirku bukan?"
"Siapa bilang? Aku bahkan tidak tahu kalau kau begitu."
"Hei lihat, anak itu akan mencoba menangkap ikan, persis seperti apa yang pernah kita lakukan dahulu, saat pertama kalinya melihat ikan ikan yang memang cantik itu."
Semua orang di kedai itu yang hanya berjarak 30 meter dari sungai tempat Qing Shan mandi memperhatikan dia yang akan menangkap ikan.
Qing Shan sibuk dalam pemahaman dan kegiatannya sendiri, dia begitu takjub melihat ikan ikan berwarna warni, yang ada di kedalaman beningnya sungai itu.
Ikan ikan itu secara bergantian sesekali akan naik ke permukaan air .
Qing Shan segera mengeluarkan sebilah pedang dari cincin ruangnya.
Dia berusaha menyabet ikan itu dengan pedangnya tapi ikan itu cukup liar.
Seseorang yang akan berangkat ke kebunnya dan mendatangi sungai itu berkata..
"Hei anak muda daripada kau menghabiskan waktumu sia sia disini lebih baik kau bertani saja.
Ikan ikan itu sangat liar, bahkan tiga hari ini kau habiskan waktumu, belum tentu kau bisa menangkapnya seekorpun ."
"Benarkah pak tua?"
"Itu benar kau hanya akan mengulangi apa yang kami semua gagal melakukannya, saat pertama kalinya datang ke tempat ini.
Hahhh ... sekarang memang kau belum faham, tapi setelah beberapa hari disini hatimu akan terbuka untuk bertani."
"Baiklah. Terima kasih sarannya , tapi aku akan tetap berusaha."
__ADS_1
Qing Shan menolak untuk menyerah, dia mengayunkan pedangnya kesana kemari namun satupun tidak ada yang kena.
"Hmmm kemana mereka semua saat aku menyabetkan pedangku?
Batu....? ya batu pasti mereka sembunyi kebawahnya.
Ha..ha..hahah dasar kalian ikan ikan nakal, kalian pikir bisa sembunyi dariku saat aku ingin merasakan manisnya daging kalian?
Hmmm.... membayangkannya saja perutku sudah berbunyi, aku belum makan apapun sejak tadi dan berendam di sungai ini membuatku sangat lapar.
Oh .. di seberang sungai itu banyak sekali dahan kering, ha hahah pasti menanti untuk membakar daging ikan segar.
Ayolah ikan manis datanglah satu saja, tidak bukan satu tapi dua.
Oh tidak ... tidak maksudku tiga ya tiga, tapi empat juga boleh.....he he kemana kalian.?"
Qing Shan terus bergumam sambil terus berusaha, setelah tidak melihat satupun ikan yang bisa dia sabet dengan pedangnqya, Qing Shan beralih menusuk nusukkkan pedangnya ke dalam bebatuan.
Cukup lama dia menusuk nusukkan pedangnya, satupun tidak ada yang kena, sementara itu walau dia membelakangi kedai minuman, Qing Shan kini mulai sadar kalau dia sudah diperhatikan oleh pengunjung kedai arak dan eliksir di belakangnya.
Karena begitu kesal dengan ikan ikan yang membuat dia jadi bahan tertawaan itu, Qing Shan mengeluarkan palu yang merupakan artefak senjata tingkat semesta, lalu memukul batu tempat persembunyian ikan itu dengan sekuat tenaganya.
Beberapa ikan yang besar besarpun menggelepar keluar dari bawah batu, karena gelembung pernafasan yang ada di tubuh mereka pecah, dengan kekuatan suara pukulan Qing Shan.
"Ha... ha... ha...hahahahh berhasil berhasil."
Qing Shan berteriak kegirangan dan mendaratkan beberapa ikan sungai itu, lalu mulai menyalakan api dan memanggang ikan ikan itu di atas bara api yang dia sediakan.
Maka aroma ikan bakarnyapun menyebar ke udara dan semua mantan dewa yang ada di kedai eliksir melompat keluar mendatangi Qing Shan.
"Hei ... wah apakah kau akan memakan semua ikan ikan yang banyak itu?"
"Wah adik kecil kau harus berbagi pada kita."
"Ya... itu terlalu banyak untukmu."
"Aku sudah lama membesarkan ikan ikan ini dengan memberinya makan setiap hari, dan membiarkannya disini, kau harus membaginya padaku."
"Tenanglah senior semua, aku sudah mempersiapkan ini untuk kita sejak awal, ayo ayo mari makan."
Qing Shan sangat senang dengan hal yang terjadi, selain hasil yang memang dia dapatkan dari kerja kerasnya, yang paling membuatnya senang adalah bahwa apa yang petani sebutkan sebelumnya, bahwa tiga haripun disana tidak akan mendapat hasil sama sekali, ternyata bisa dia buktikan bahwa anggapan itu salah sama sekali.
"Wah.....aku tidak menyangka kalau ikan ini begitu lezat sekali.
Adik kecil kau harus pinjamkan palumu itu padaku."
"Huh tidak hanya minta ikannya kini kau pula minta alatnya, apa kau tidak malu?"
"Hei apa yang kau katakan? Aku hanya meminjamnya bukan memintanya."
"Ha... ha... hah kalian tahu apa yang paling istimewa dari kejadian ini? Adik ini baru saja membuktikan dengan kerja keras, apa yang banyak orang rasa tidak mungkin akan bisa diraih."
__ADS_1
"Ayo semuanya....! Ini masih ada lagi yang belum dimakan."
Mereka semua bersenang senang dan sangat bahagia dengan hasil tangkapan Qing Shan.