PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Extra Part


__ADS_3

Setelah selesai masak, Winda dan Agus langsung saja makan dengan tenang.


"Kita akan berangkat ke pusat Kota sebentar lagi, sayang" ucap Agus dengan cepat.


"Buat apa Mas?" tanya Winda penasaran.


"Kita akan tinggal disana beberapa hari untuk menunggu kamu yang akan lahiran sayang" jawab Agus lembut.


Winda menganggukan kepala nya dengan patuh, ia dan Agus memang sudah menyiapkan semua nya.


Setelah selesai, Agus dan Winda langsung saja berangkat ke pusat kota, mereka hanya pergi berdua saja karena orangtua Winda sudah lebih dulu kesana.


Selama perjalanan berlangsung, Winda terus saja menggenggam tangan Agus.


Entah kenapa perasaannya mulai cemas dan juga tak karuan.


"Kenapa aku jadi cemas begini? Ada apa ya" batin Winda dengan berusaha tenang.


Tak berselang lama mereka sampai juga di kontrakan yang tak jauh dari Rumah sakit.


Winda dan Agus masuk ke dalam, disana sudah ada Jana dan Yuli.


"Kenapa hemm?" tanya Agus saat mereka sudah duduk di atas ranjang di kamar nya.


"Mas , jika sesuatu terjadi pada ku nanti , aku mohon jagalah anak kita dengan tulus dan benar. Didik anak kita supaya kelak ia akan menjadi pelindung bagi Putri Mora" pinta Winda dengan menggenggam tangan Agus.


Agus membalas genggaman itu, ia juga merasakan dada nya sesak sejak tadi pagi. Tetapi ia tidak tahu sebab nya karena apa.


"Kita akan menjaga nya bersama-sama sayang, kita berdua juga akan mendidik nya supaya jadi pria atau wanita yang kuat kelak" balas Agus lembut.


Winda hanya diam saja, ia hanya ingin di peluk oleh Agus saat ini agar perasaannya jadi tenang.


*

__ADS_1


Tepat setelah makan malam, Winda di larikan ke Rumah sakit karena perut nya yang sudah mulas.


Bu Yuli dan Jana pun ikut serta kesana, terlihat raut khawatir dari mereka tentang sang Putri.


Sedangkan Agus, ia ikut serta masuk ke dalam ruang bersalin bersama dengan Winda.


Winda datang sudah bukaan sepuluh, jadi Dokter langsung bersiap bersama dengan tim nya.


"Sayang, kau pasti bisa dan aku yakin kau dan anak kita selamat" bisik Agus dengan lembut.


Winda hanya merespon dengan tersenyum dan genggaman tangan yang kuat saja.


Ia sesekali meringis dan juga memejamkan mata nya.


"Bu, ayo dorong, kepala bayi nya sudah terlihat" arahan Dokter dengan tersenyum.


Winda menggenggam tangan Agus dengan kuat , lalu setelah nya ia mengejan dengan kuat.


Oek Oek Oek.


Bayi mungil nan cantik pun lahir dengan sempurna, bahkan ia sangat mirip sekali dengan Winda.


Bahkan bisa di bilang duplikatan Winda.


Agus memeluk Winda dan juga mengecupi wajah nya dengan lembut.


"Mas, aku tak kuat. Tolong jaga anak kita dengan baik" lirih Winda dengan tersenyum.


"Dokter" teriak Agus dengan kuat.


Dokter yang sedang memberikan bayi itu pun langsung kaget dan yang lebih kaget nya melihat Winda yang sudah pendarahan parah.


"Mas, aku mohon berjanjilah padaku bahwa kau sendiri yang akan menjaga putri kita" pinta Winda dengan menatap Agus yang sudah menangis.

__ADS_1


"Kita sayang" ucap Agus dengan tegas.


Winda menggelengkan kepala nya, ia tetap menatap Agus dengan menahan sakit dan menunggu ucapan sang Suami.


"Baiklah, aku sendiri yang akan menjaga Putri kita dengan tangan dan juga pengetahuanku. Aku akan membuat Putri kita kuat dan mampu menjaga anak-anak Mora. Aku berjanji padamu sayang" ucap Agus dengan sesak dan air mata yang terus saja menetes.


"Terimakasih, sayang" balas Winda dengan lirih dan mata nya yang terpejam.


"Win Winda bangun" teriak Agus dengan takut.


Dokter langsung saja memeriksa keadaan Winda, ia memyuruh perawat membersihkan bekas pendarahan yang baru saja selesai dari Winda.


Dokter menggelengkan kepala nya dengan menunduk menyesal, ia menyesal karena tidak bisa menyelamatkan pasien nya.


"Tidakk, Windaaa" teriak Agus dengan histeris bahkan air mata yang sudah menetes sejak tadi.


Agus memeluk tubuh Winda dengan bergetar, ia tak taham dan tak kuat, ia rapuh saat melihat wanita yang di cintai nya sudah tiada.


Agus menangis dan meraung sambil memeluk tubuh tak bernyawa sang Istri.


"Ada apa ini, Gus?" tanya Jana yang memaksa masuk karena mendengar menantu nya berteriak.


Yuli pun ikut serta masuk, mereka sangat bingung melihat Winda yang berada di pelukan sang menantu.


Lalu Dokter menjelaskan semua nya, dan saat itu juga kedua nya menangis dengan tak percaya.


Yuli bahkan hampir saja pingsan disana, Jana melihat Agus yang terus saja menangis dengan memeluk sang Putri dengan erat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2