PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 73


__ADS_3

"Selamat malam, Aron" sapa Wildan dengan tersenyum.


"Malam, Wil" balas Aron.


Wildan lalu menyuruh Mora untuk duduk di sofa yang ada disana.


Dan perlakuan itu semua tak lepas dari penglihatan Aron dan Santi.


"Jadi Mora sedang mengandung" batin Aron lirih.


Setelah memastikan bahwa Mora sudah nyaman, Wildan langsung menghampiri Aron dan Dokter Bimo.


"Bagaimana kabarmu, Dok?" tanya Dokter Bimo memeluk Wildan sekilas.


"Aku baik-baik saja" jawab Wildan tersenyum.


"Mana hasil pemeriksaan terakhir nya?" ucap Wildan


Dokter Bimo memberikan berkas pada Wildan dan ia juga menjelaskan semua nya.


Wildan mendengarkan semua nya dengan seksama.


"Aron, bukankah saat terakhir kali aku periksa semua nya baik-baik saja? Apa kau terjatuh?" tanya Wildan


Hah.


Aron menganggukan kepala dengan lemah dan sontak hal itu membuat Santi kaget.


"Aku sudah menduga nya, karena kau tidak akan separah ini saat tidak ada yang memicu nya" jelas Wildan.


Dokter Bimo lalu permisi dari sana karena ada pasien, semua pengobatan Aron kini beralih pada Wildan.


"Ini sudah sangat parah, bahkan sudah menjalar ke tulang bawah" jelas Wildan.


"Sebentar, Tuan" ucap Santi.


Wildan menganggukan kepala nya, lalu ia duduk di samping ranjang Aron.

__ADS_1


"Mas, kapan kamu terjatuh?" tanya Santi penasaran.


"Waktu kita dari makam Putra ku, aku terjatuh di kamar mandi dan saat itu juga aku sudah mulai merasa sakit di kaki, tetapi aku hanya diam dan terus menahannya" jawab Aron pelan.


"Ya ampun, Mas" lirih Santi menggelengkan kepala nya.


"Sekarang kita akan melakukan terapi saja, dan besok pagi kita akan mulai nya" ucap Wildan.


"Kita akan berusaha dan berdoa agar semua nya baik-baik saja, dan tidak akan terjadi hal yang buruk" ucap Wildan kembali.


Aron dan Santi menganggukan kepala, sedangkan Mora ia hanya diam mendengarkan semua nya.


Hingga setelah semua nya selesai, Wildan dan Mora langsung saja berpamitan pada Aron serta Santi.


Setelah kepergian Wildan, Santi membantu Aron agar merebahkan diri nya di atas ranjang.


**


-NTT


Winda di paksa bekerja dengan sangat giat, bahkan ia juga sempat ingin melarikan diri dari sana tetapi berujung hampir di makan harimau.


"Ahh kenapa semua nya jadi begini, hiks" ucap Winda dengan terisak.


"Aku hanya ingin bahagia, tetapi kenapa semua nya malah seperti ini" gumam Winda dengan menghentakan tubuh nya di atas kayu yang selalu ia pakai untuk tidur.


Memang sudah beberapa hari ini Winda dan Orangtua nya di pisahkan oleh anak buah Wildan. Karena mereka selalu saja berencana untuk melarikan diri.


"Bagaimana keadaan Bunda dan Ayah ya?" gumam nya lagi.


"Orangtua mu sedang mengumpulkan kayu bakar" balas anak buah Wildan yang kebetulan sedang menjaga Winda.


"Dan kamu jangan tidur dulu, sana buat makanan" ucap penjaga tersebut dengan datar.


Huh.


Winda menghembuskan nafas lelah, ia baru saja selesai mencuci semua pakaian orang yang ada disana.

__ADS_1


Dan sekarang di paksa untuk memasak lagi.


Dengan langkah gontai, Winda langsung saja menuju ke dapur yang sangat kuno, bahkan disana tidak ada kompor sama sekali.


Terlihat dari arah belakang datang Jana dan Yuli yang membawa kayu bakar.


"Ayah, Bunda" panggil Winda.


"Ayo masak jangan banyak bicara" bentak anak buah Wildan.


"Ayo Nak" ajak Yuli dengan pasrah.


Winda dan Yuli langsung saja menyiapkan bahan masakannya.


Sedangkan Jana , ia tanpa bicara langsung saja mengambil air untuk masak, minum dan yang lainnya.


Hingga hampir 2 jam berkutik, mereka selesai dan langsung saja menyiapkan untuk yang lainnya.


"Ayah, bagaimana apa menemukan jalan keluar?" tanya Winda pelan saat mereka sibuk dengan makanannya.


"Tidak ada sama sekali" balas Jana lirih.


Brak.


"Makan, jangan ada yang bicara" bentak anak buah Wildan.


Jana dan Winda langsung saja fokus kembali makan. Mereka cukup takut karena anak buah Wildan sangat menyeramkan.


"Ini dimana sebenarnya, kenapa tidak ada jalan keluar sama sekali. Tetapi mereka selalu bisa keluar masuk hutan ini" batin Jana frustasi.


Setelah selesai makan, Jana dan Yuli langsung pindah dari pondok sana dan hanya menyisakan Winda dengan 2 orang anak buah Wildan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2