PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 64


__ADS_3

Pagi nya, setelah melaksanakan kewajiban, Mora langsung saja masuk ke dapur.


Ia akan membuat sarapan sederhana untuk nya dan Suami.


Bahkan Mora juga menyuruh Bibi Kay untuk mengerjakan yang lain saja.


*


Sedangkan Wildan, ia baru saja selesai bersiap dan langsung saja keluar menuju ke dapur.


"Sayang" panggil Wildan saat sudah di dapur tetapi tidak melihat adanya Mora.


"Nyonya sedang memetik sayuran di belakang, Tuan" ucap Bibi Kayo yang kebetulan lewat ke arah dapur.


Wildan menganggukan kepala nya, lalu ia pun melangkah ke arah halaman belakang.


Ia tersenyum saat melihat Mora yang sedang memetik sayuran , bahkan terlihat binar kebahagian di wajah Istri nya.


"Sayang" panggil Wildan lembut.


"Iya Mas, sebentar ya ini sedikit lagi" jawab Mora tersenyum.


"Apa kamu akan memasak tumis kangkung?" tanya Wildan.


Mora mengangguk dengan menunjukan satu wadah kangkung yang sudah ia petik.


"Sama sambal dan ayam goreng ya" ucap Wildan antusias.


"Oke, kamu tunggu saja dulu di dalam" balas Mora.


Wildan menggelengkan kepala, ia malah mendekat ke arah Mora dan mengambil wadah yang ada di tangan Mora.


Ehhh.


Kaget Mora, tetapi saat tahu siapa yang mengambil nya ia tersenyum ke arah sang Suami.


"Ayo Mas, ini sudah cukup" ajak Mora.


Lalu mereka berdua masuk ke dalam dengan beriringan, bahkan di kedua tangan mereka banyak sekali sayuran.

__ADS_1


Setelah itu, Mora menyuruh Wildan untuk mengambil daging dan mencuci nya.


Mereka berdua terus saja saling membantu dalam memasak sarapan hari ini.


Wildan sengaja akan datang agak siang ke Rumah sakit karena tidak ada jadwal operasi.


Hingga 1 jam berlalu semua masakannya beres, bahkan Wildan sendiri yang menata makanannya di atas meja makan.


"Ayo sarapan dulu" ajak Mora.


Wildan menganggukan kepala dengan antusias, lalu ia duduk di kursi makan.


"Terimakasih, sayang" ucap Wildan saat menerima piring berisi makanan dari sang Istri.


Lalu mereka berdua makan dengan hening tanpa berbicara. Apalagi Wildan, ia sangat menikmati sarapannya.


Setelah selesai, Wildan dan Mora duduk santai di depan mansion.


Hingga manik mata mereka melihat sebuah mobil yang baru saja masuk ke halaman mansion.


"Bukankah itu, Aron" ucap Wildan menatap Mora.


Dan saat mobil berhenti, keluarlah Aron bersama dengan Dava dan Santi.


"Selamat pagi, Mora , Wildan" sapa Aron dengan tersenyum kecil.


"Pagi, ayo masuklah" ajak Mora pada mereka.


Mereka serempak mennganggukan kepala nya dan pergi mengikuti Mora dan Wildan.


Mora menyuruh mereka duduk di ruang tamu , setelah itu ia menyuruh Bibi Kay untuk menyiapkan makanan serta minuman untuk mereka semua.


"Maaf menganggu kalian, aku kesini hanya ingin meminta maaf pada mu, Mora" ucap Aron dengan tulus.


"Aku sudah memaafkan mu, Aron. Aku hanya berharap kau hidup lebih baik lagi dan jangan ulangi kesalahan mu kembali" balas Mora dengan tersenyum.


"Aku sudah bahagia bersama Mas Wildan, dan aku berharap kau juga akan bahagia bersama pasanganmu" ucap nya lagi dengan menatap Aron dan Santi bergantian.


Sontak saja Santi langsung menundukan kepala nya karena malu.

__ADS_1


Ia juga mengulum senyum saat melihat Aron tersenyum padanya.


"Terimakasih, dan sekali lagi maaf. Setelah menemui Winda, aku akan langsung pergi dari Negara ini" jelas Aron.


"Semoga dimana pun kamu berada kamu akan selalu baik-baik saja" ucap Wildan tulus.


"Terimakasih" balas Aron.


"Kalau begitu, aku permisi dulu" pamit Aron.


Mora dan Wildan menganggukan kepala, mereka lalu mengantarkan tamu nya keluar dari Rumah.


Aron, Santi dan Dava membungkukan sedikit tubuh nya pada Mora serta Wildan, setelah itu mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu nya.


"*Semoga kamu bahagia, Aron" batin Mora tulus.


"Semoga kebahagian selalu ada untukmu, Mora. Sekarang aku sudah ikhlas atas kehilangan dirimu" batin Aron sambil melihat bayangan Mora dari spion*.


Perlahan tapi pasti, mobil yang membawa Aron sudah hilang dari pandangan Mora dan Wildan.


"Ayo masuk sayang" ajak Wildan lembut.


"Iyaa Mas, oh iya kamu gak ke Rs?" tanya Mora memeluk lengan Wildan manja.


"Nanti setelah makan siang sayang, Mas hanya akan meneima konsul doang" jawab Wildan lembut.


"Ohhh heemmm" ucap Mora dengan mengangguk-anggukan kepala nya.


Mereka berdua duduk di sofa yang di samping kaca besar dan menampilkan ke indahan alam luar.


Wildan dan Mora terus saja bercerita dengan pengalaman nya masing-masing.


Terkadang mereka juga terlihat saling goda dan meledak hingga terdengarlah suara tawa yang cukup renyah dari kedua nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2