
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, Winda dan Agus sampai juga di kediaman para anak buah Wildan.
Agus langsung saja membawa sang Istri ke dalam kamar milik nya yang memang tersedia disana.
Mereka akan menemui Mora dan Wildan nanti saat pagi hari.
***
-Mansion Sy.
Pagi hari nya, Mora ikut serta sarapan bersama yang lain karena baby twins sudah ia titipkan pada Bibi Kay.
Keadaannya yang sudah membaik membuat Wildan lega kalau ia meninggalkan Mora untuk bekerja.
Wildan mengambil makanan untuk Mora yang memang sudah di siapkan oleh Mama Hesti.
Mora tidak boleh dulu makan sembarang makanan, apalagi dia sedang menyusui.
Setelah selesai sarapan, Mora beserta keluarga nya berkumpul di ruang keluarga.
Sedangkan twins , mereka sudah tidur di kamar kedua orangtua nya.
"Mas, gak kerja?" tanya Mora
"Nanti siang Mas akan berangkat ke perusahaan, sayang" jawab Wildan.
Mora mengangguk, lalu ia kembali membaca buku-buku seputaran menjadi Ibu dan menyusui agar asi nya lancar.
Hingga perhatian mereka teralihkan saat Bibi Kay menyebutkan bahwa ada tamu di luar.
Wildan langsung saja menyuruh nya masuk dan ia sudah tahu siapa yang datang.
__ADS_1
"Siapa yang datang pagi-pagi?" tanya Mora bingung.
Mama Hesti hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Ya, hanya Wildan dan Ayah Darma yang tahu bahwa hari ini Winda akan datang.
"Windaaaa" teriak Mama Hesti dengan kaget.
"Mau apa kau kemari Hah?" tanya Mama Hesti dengan penuh emosi saat tahu siapa tamu yang datang kesana.
"Pergi kau dari sini" teriak Mama Hesti kembali.
Sedangkan Winda, ia memegang tangan sang Suami dengan erat. Bahkan tubuh nya sudah bergetar karena ketakutan.
Mora? Ia juga sama kaget nya seperti Mama Hesti tetapi ia hanya diam dengan wajah datar nya.
"Duduklah dulu, Ma" ucap Ayah Darma tegas saat melihat sang Istri sudah berdiri dengan berkacak pinggang.
"Tapi Mas" protes Mama Hesti dengan kesal.
Akhirnya Mama Hesti pun diam dan duduk saat melihat tatapan tajam sang Suami.
Agus lalu mengusap lembut lengan Winda, ia menganggukan kepala nya saat netra mata nya bersitatap dengan Winda.
Winda lalu melepaskan pegangannya pada Agus, ia berjongkok di hadapan Mora.
"Mora, mungkin maaf saja bagimu akan sangat tidak pantas kau ucapkan saat setelah kesalahan ku dulu padamu dan Putera mu.
Aku salah dan mengaku sangat kejam, aku minta maaf atas semua itu.
Aku bersyukur karena bisa hadir disini dan meminta maaf langsung pada mu. Maafkan aku Mora, aku ingin memulai semua nya dengan atas maaf dari mu" ucap Winda dengan terbata karena sesak di dada nya.
Winda bahkan meneteskan air mata penyeselan di hadapan Mora.
__ADS_1
"Dan untuk Bibi Hesti , Paman Darma, aku juga minta maaf. Aku memang tidak tahu bahwa Bunda itu bukan Adik kandung Bibi, tetapi aku masih saja ikut serakah karena mengikuti Ayah untuk merebut semua nya.
Maafkan aku Bibi, aku menyesel atas semua nya" ucap Winda kembali dengan terisak.
"Izinkan aku egois dengan hanya ingin maaf dari kalian yang tulus, aku tidak apa jika harus tetap di asingkan disana asalkan aku mendapatkan maaf tulus kalian.
Mungkin aku terkesan sangat memaksa dengan semua ini selepas apa yang telah aku perbuat.
Tetapi, aku aku ingin hidup dengan kedamaian tanpa rasa bersalah karena tak kunjung mendapatkan maaf dari kalian" ucapnya lagi dengan semakin menunduk dan terisak pelan.
Mora ikut menyeka air mata nya yang akan tumpah, ia merasakan ketulusan di setiap ucapan yang keluar dari mulut Winda.
Mora membantu Winda untuk bangun, setelah itu ia memeluk nya dengan erat dan menangis bersama Winda disana.
"Aku memaafkan mu, Win. Aku bukan malaikat yang tidak mempunyai dosa juga. Aku bersyukur kau mau berubah, Win" balas Mora dengan terisak.
"Terimakasih, semoga kebahagian selalu ada untuk mu dan orang yang di sekekeling mu" ucap Winda dengan tulus.
Winda memeluk Mora tak kalah erat nya, ia merasakan kebahagian yang berlipat dengan semua ini.
Bahkan mereka yang ada disana ikut terharu dengan adegan tersebut, apalagi memang dasar nya Mora dan Winda itu sepupu dan juga berteman.
Begitupun dengan Mama Hesti, ia tersenyum bahagia melihat kedua nya yang sudah saling memaafkan dan akur.
Ia langsung saja ikut memeluk mereka dengan mengucapkan bahwa ia juga sudah memaafkan Winda.
Di ruangan itu suasana menjadi sangat haru, apalagi dengan tangisan ketiga wanita yang sedang saling memeluk.
"Semua ini terasa sangat lega, aku telah memaafkan mu, Win" batin Mora.
.
__ADS_1
.
.