PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 84


__ADS_3

Malam hari nya, Mora dan Wildan bersantai di ruang keluarga.


Hingga mereka teralihkan dengan kedatangan Bibi Kay yang membawa beberapa makanan.


"Bibi, apa itu kiriman dari Ibu panti?" tanya Mora


"Iya Nyonya, ini semua tadi di kirimkan dari Panti" jawab Bibi Kay.


Mora langsung saja menerima nampan makanan itu, ia lalu berbinar saat melihat nya.


"Siapa yang mengantar nya?" tanya Mora


"Salah satu anak Panti yang akan kerja Nyonya" jawab Bibi Kay.


Mora mengangguk saja, ia lalu memberikan beberapa pada Bibi Kay untuk para pelayan.


Setelah itu, Mora duduk kembali sebelah Wildan dan memberikan satu piring untuk nya.


"Apa ini nama nya?" tanya Wildan melihat makanan yang terasa asing di penglihatannya.


"Ini nama nya nasi kuning dan itu nasi T.O" jawab Mora dengan menunjukan makanannya.


Lalu Wildan mencoba mencicipi nya, ia juga mencoba yang lainnya yang menurut ia aneh.


"Emm enak" ucap Wildan dengan berbinar.


Mora tersenyum kecil melihat nya, lalu ia mengusap perut nya yang sejak tadi sedikit tidak enak.


Wildan menatap Mora yang seperti menahan sesuatu, lalu ia menghentikan makan nya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Wildan


"Agak mulas, Mas" jawab Mora sedikit meringis.

__ADS_1


"Bibi" teriak Wildan dengan menggema.


Bibi Kay langsung saja menghampiri Tuan nya yang berteriak.


"Ada apa, Tuan?" tanya Bibi Kay.


"Tolong ambil perlengkapan melahirkan untuk Nyonya, saya tunggu di depan" ucap Wildan dengan cepat.


Bibi Kay langsung saja mengangguk, ia mengambil koper yang memang sudah di siapkan oleh Mora dan Wildan.


Sedangkan Wildan, ia sudah menggendong tubuh Mora keluar dan disana sudah ada Roy yang siap dengan mobil nya.


"Silahkan Tuan" ucap Roy dengan wajah panik juga.


Lalu Roy membantu Bibi Kay memasukan koper ke dalam bagasi, setelah itu ia langsung saja melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi tetapi masih hati-hati.


"Masss" lirih Mora dengan meringis.


"Sabar sayang, kita sebentar lagi sampai" ucap Wildan dengan lembut.


"Sabar ya sayang" ucap nya lagi dengan terus saja mengusap lembut perut Mora dan tangannya yang lain memegang tangan Mora.


Hingga tak lama kemudian, mereka sampai di Rumah sakit Widiatma.


Disana Dokter Lia sudah menunggu dengan beberapa perawat lainnya, karena tadi Wildan sudah menghubungi nya.


"Ayo Tuan, dudukan di kursi roda" ucap Dokter Lia pada Wildan.


"Hati-hati" ucap nya lagi.


Setelah itu, mereka langsung saja ke ruang bersalin dengan cepat.


Roy mengikuti nya dari belakang, ia juga membawa koper milik Mora.

__ADS_1


"Roy, tolong hubungi Ayah dan suruh Hari yang menjemput nya mungkin mereka sudah sampai di Bandara" ucap Wildan sebelum masuk ke dalam ruangan.


"Baik Tuan" balas Roy patuh.


Lalu ia mengambil ponsel nya, setelah itu menghubungi Hari dan juga Ayah Darma.


Ayah Darma dan Mama Hesti memang sempat menunda ke pulangannya karena cuaca yang selalu saja buruk.


Dan baru kemarin mereka berangkat dari Amerika.


Roy duduk kembali di luar ruangan, ia mengabari sang Istri yang berada di Rumah.


Elisa awal nya ingin ikut, tetapi Roy larang karena ia juga sedang hamil besar.


**


Sedangkan di dalam ruangan, Mora terus saja memegang tangan Wildan dengan erat.


Ia meringis saat gelombang cinta dari sang Baby datang.


Wildan sendiri terus saja mengusap pinggang Mora dan perut nya bergantian.


Tak lupa juga ia selalu berdo'a, agar semua nya lancar dan juga selamat.


"Mas, sakit" ringis Mora dengan wajah yang kesakitan.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan ketemu Baby" balas Wildan lembut.


Pembukaan nya belum lengkap dan baru bukaan 5, jadi Mora harus menunggu lagi karena kemungkinan bisa melahirkan normal.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2