
Mora dan Wildan tidak langsung pulang, mereka akan singgah terlebih dulu ke penjara untuk melihat Winda dan Orangtua nya.
"Sayang? Apa kamu yakin bahwa Aron sudah berubah?" tanya Wildan dengan menatap Mora sekilas.
"Mas, sejujur nya Aron itu adalah pria baik. Bahkan selama kami menikah dia tidak pernah bermain kasar ataupun yang sampai menyakiti aku. Hingga pada akhir nya semua berubah saat usia kehamilan ku 5 bulan, dia memang masih baik tetapi semua pergerakan aku selalu di awasi oleh nya" jelas Mora.
"Aku yakin bahkan sangat yakin bahwa Aron sudah berubah, dan aku memang sudah memaafkannya" ucap nya lagi dengan lembut.
"Syukurlah, Mas hanya takut dia akan melukai perempuan lain lagi suatu saat nanti" balas Aron tersenyum.
Mora menggelengkan kepala nya, ia lalu tersenyum hangat pada sang Suami.
Selang berapa menit mereka sampai juga di kantor polisi, Mora dan Wildan langsung saja keluar dari dalam mobil.
"Ayo sayang" ajak Wildan lembut.
Mora menganggukan kepala nya, lalu mereka masuk ke dalam kantor polisi.
Wildan langsung saja mengatakan niat nya yang akan menemui Winda.
Lalu setelah itu mereka di arahkan ke ruangan khusus untuk membesuk tahanan.
Tak berselang lama, Winda datang dengan tangan yang di borgol.
Ia menatap Mora dan Wildan dengan sangat tajam.
"Mau apa kalian kemari, hah?" tanya Winda dengan tatapan tajam nya.
"Kami hanya memastikan bahwa kau sudah bertemu dengan orangtua mu, ahh atau kau belum ketemu?" ucap Mora dengan santai.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanya Winda dengan lantang.
Wildan lalu menunjuk ke belakang Winda, dan dengan gerakan cepat Winda menengok ke arah belakang.
"Ayah, Bunda" ucap Winda dengan kaget.
"Ah ternyata kalian baru bertemu ya" ucap Mora dengan enteng tanpa beban.
Brak.
"Diam kau" bentak Jana dengan penuh emosi.
"Bagaimana Paman, apa kalian bahagia disini atau sangat bahagia?" tanya Mora dengan santai.
"Mereka tentu saja bahagia sayang, kalau tidak mereka tidak akan mempunyai tenaga untuk membentak mu" jawab Wildan dengan terkekeh.
Jana sudah ingin bangkit dari duduk nya, tetapi seorang petugas langsung saja menyuruh duduk kembali dengan paksa.
"Kami hanya ingin mengatakan, bahwa perusahaan dan semua harta kalian sudah kembali pada Mama ku" jelas Mora dengan datar.
"Bagaimana bisa?" tanya Winda bersuara yang memang sejak tadi hanya diam.
"Jelas bisa, karena Bunda mu itu bukan Adik kandung Mama ku" jawab Mora dengan santai.
Hah.
Winda menatap Bunda nya, ia ingin tahu kebenarannya dari sang Bunda.
Dan sial nya lagi, Bunda nya menganggukan kepala dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
"Bunda juga baru tau sekarang, Nak" lirih Yuli.
"Kau pasti bohong Mora, kau dan keluarga mu itu pasti ingin semua harta keluarga Bunda ku jatuh ke tangan Mama mu saja, kan" teriak Winda penuh emosi.
"Ck, aku dan keluarga ku bukan seperti kalian yang serakah" ucap Mora dengan tatapan mata tajam.
Setelah itu, Mora dan Wildan pergi dari sana dengan santai nya. Bahkan Winda yang terus berteriak pun tidak mereka dengar.
"Arrgghh, kalau begini kita akan susah keluar dari sini, Ayah" geram Winda dengan frustasi.
"Kau sabarlah, setelah kita keluar dari sini kita akan membalas mereka" ucap Jana dengan emosi.
Lalu mereka kembali lagi ke tahanan, mereka di pisahkan dan tidak sama sekali di satukan.
Winda sedikit berontak saat akan di masukan kembali ke tahanan, tetapi ia tidak bisa apa-apa karena tangannya di borgol.
"Lihat saja Mora, aku akan membalas mu" batin Winda
**
Saat ini, Mora dan Wildan menuju ke mansion nya sendiri. Mereka tidak kembali ke mansion Widiatma karena Mora ingin ke mansionnya.
Mora memejamkan mata karena merasa sangat ngantuk, bahkan ia sudah terlihat mengantuk sejak keluar dari kantor polisi.
"Kau adalah wanita hebat ku, sayang. Pengkhianatan itu membuatmu kuat dan tegar" gumam Wildan dengan mengusap lembut pipi cabby Mora.
Wildan lalu tersenyum saat melihat Istri nya menggeliat, lalu ia fokus kembali ke jalan.
.
__ADS_1
.
.