PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 69


__ADS_3

"Bukan kah ini diagnosa milik Aron, dan bukannya dia sudah sembuh saat pergi ke Amerika" gumam Wildan kembali.


Wildan lalu membaca kembali email tersebut dan benar saja bahwa itu semua milik Aron.


**


Sedangkan Mora, saat ini ia sedang memilih beberapa tas, sepatu, alat tulis dan keperluan sekolah lainnya.


Mora dan Mama Hesti di temani beberapa pengawal untuk membawa belanjaan mereka.


"Seperti nya ini sudah cukup, Ma" ucap Mora melihat hampir 3 troli belanjaannya yang penuh.


"Yasudah kita bayar dulu saja" balas Mama Hesti.


Lalu Mama Hesti menyuruh pengawal untuk mendorong troli ke kasir.


Setelah melakukan pembayaran, Mora dan Mama Hesti membeli banyak makanan untuk di bawa ke panti.


"Belilah makanan untuk kalian, sekalian menunggu kami makan siang" ucap Mora pada pengawal nya.


"Baik Nyonya, terimakasih" balas pengawal dengan sopan.


Mora menganggukan kepala, lalu ia memesan beberapa makanan untuk nya dan sang Mama.


"Uhh sayang, kita makan dulu ya pasti kalian lapar kan" ucap Mora sambil mengusap lembut perut nya.


"Sayang, bagaimana dengan keadaan Winda dan orangtua nya?" tanya Mama Hesti


"Yang aku dengar sih mereka sudah di satukan dan juga sudah di bawa ke pelosok untuk mendapatkan hukuman yang agak berat, apalagi Winda" jawab Mora


"Memang nya kenapa?" tanya Mama Hesti penasaran.


"Kata nya sih Winda bertengkar dengan sesama teman sel nya dan temannya itu sampai meninggal karena kepala nya di pukul ke dinding oleh Winda" jelas Mora kembali.


Hah.


Mama Hesti sangat kaget , ia bahkan sampai menganga tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa mereka tidak berubah ya" ucap Mama Hesti menggelengkan kepala nya.


"Aku juga tidak tahu, Ma. Tetapi mereka bukan di tahan oleh pihak polisi kok" balas Mora.


"Terus sama siapa?" tanya Mama Hesti khawatir.


Mora tersenyum kecil saat melihat wajah panik sang Mama.


"Mereka di tahan oleh orangnya Mas Wildan, Ma. Dan disana juga tidak ada penghuni lainnya selain anak buah Mas Wildan, mereka sedang di pekerjakan agar mereka sadar" jelas Mora tersenyum kecil.


"Oh syukurlah, Mama sudah sangat khawatir" ucap Mama Hesti tersenyum geli.


Mora tertawa kecil dengan tingkah sang Mama.


Hingga obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka datang.


Mora langsung saja melahap makanan yang sangat menggugah selera nya.


Begitupun dengan sang Mama, mereka makan dengan tenang.


*


Barang-barang serta makanan sudah lebih dulu di antarkan oleh pengawal lainnya.


"Sayang, nanti kalian menginap di Mama ya" ucap Mama Hesti.


"Iya Ma, besok kan Mas Wildan libur jadi kita bisa menginap" balas Mora lembut.


Di sepanjang jalan, Mora dan sang Mama terus bercengkrama dan sesekali terdengar tawa renyah mereka berdua.


Hingga pada akhir nya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di pelataran panti asuhan.


"Hati-hati, sayang" ucap Mama Hesti saat Mora akan keluar dari dalam mobil.


Di luar , sudah ada Ibu panti yang menyambut mereka berdua.


Apalagi saat melihat Mora, senyum Ibu panti terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Ayo masuk, Nak" ajak Ibu panti dengan bahagia.


"Iya Bu, kemana yang lainnya?" tanya Mora saat tidak melihat anak-anak panti berkeliaran.


"Mereka sedang memakan makanan dari mu sayang, ada juga yang sedang membuka hadiah dari kalian. Terimakah Mbak , Nak" ucap Ibu Panti dengan tulus.


"Sama-sama Bu, kami hanya melakukan hal kecil agar mereka tetap bahagia" balas Mama Hesti lembut.


Mereka larut dalam obrolan ringan yang sangat hangat, bahkan Ibu panti sesekali mengusap lembut perut Mora.


Hingga jam sudah menunjukan angka 4 dan tak lama kemudian Wildan datang menjemput mereka berdua.


"Assalamualaikum" ucap Wildan.


"Waalaikumsalam, masuk dulu Nak" balas Ibu dengan tersenyum.


"Maaf Bu, saya sedang buru-buru jadi lain kali saja saya akan masuk" tolak Wildan dengan tak enak.


"Ah yasudah tidak apa, Nak. Sebentar Ibu panggilkan mertua dan Istri mu dulu" ucap Ibu mengerti.


Tak lama setelah Ibu pergi, Mora dan Mama Hesti pun keluar dari sana.


Mora menatap wajah sang Suami yang sedang gelisah, lalu ia dengan cepat berpamitan pada Ibu.


Setelah itu, mereka langsung pulang dengan Wildan.


Sepanjang perjalanan, Mora diam dengan memejamkan mata nya karena lelah, hingga tangan Wildan mengagetkannya karena mengusap lembut pipi Mora.


"Tidurlah jika lelah, sayang" ucap Wildan lembut.


Mora mengangguk, lalu ia memegang tangan Wildan lembut.


Hingga pada akhir nya Mora dan Mama Hesti terlelap karena kelalahan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2