PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 95


__ADS_3

-Kalimantan.


Pada malam hari nya, Winda benar-benar bersiap dan ia tidak sampai membawa koper karena ia dan Suami nya hanya sekejap saja di Jakarta.


Agus tersenyum kala melihat binar bahagia di wajah dan mata Winda. Ia juga sudah yakin bahwa sang Istri sudah berubah baik.


"Mas, aku deg-degan banget ini" ucap Winda dengan terkekeh.


"Kayak mau perang saja" ceplos Agus dengan mengusap lembut kepala Winda.


Winda langsung mencebikan bibir nya, ia lalu mengikuti sang Suami keluar dari pondok.


Ya Winda dan Agus sudah 1 minggu tinggal di Pondok yang menyerupai Rumah tapi terbuat dari bambu dan kayu.


"Mmm Mas" ucap Winda dengan ragu.


"Kenapa?" tanya Agus yang sedang sibuk memasukan barang-barang nya pada mobil yang menjemput mereka.


"Bolehkah aku besok keluar lagi dari Pondok, seperti nya di sekitaran sini banyak sekali Jamur dan bahan lainnya" ucap Winda dengan menatap kesana kemari.


"Bukan karena ingin mencari jalan kabur?" tanya Agus santai.


Deg.


Winda lalu menatap Agus dengan gelengan kepala yang kuat, ia tidak akan kabur dan buat apa kabur sementara disana ada Suami nya.

__ADS_1


"Bukan, aku hanya ingin saja mencari Jamur yang sering kau bawa. Tidak keluar juga tidak apa aku tidak masalah" jawab Winda dengan cepat.


Agus terkekeh, lalu ia membawa Winda untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, salah satu anak buah nya melajukan mobil nya menuju keluar dari Hutan dan menuju ke Bandara yang jalannya terhubung langsung dari sana.


"Ya mulai besok kau boleh keluar, jika ingin melakukan apapun itu terserah kamu. Jika ingin ikut ke lahan kerjaan juga gak apa.


Tapi, jika kamu kembali seperti dulu lagi itupun terserah kamu, karena mungkin tidak akan ada ampun lagi bagimu dari Tuan" ucap Agus dengan santai dan tanpa beban.


"Aku akan keluar Hutan ini jika bersama mu, aku sudah berjanji akan selalu bersama mu bersama-sama. Buat apa aku keluar jika kamu disini? Aku tidak peduli lagi dengan Dunia luar yang aku inginkan sekarang merangkai kebahagian dan masa depan bersamamu" balas Winda dengan tulus dan sorot mata yang tegas.


Agus tersenyum kecil, ia tahu bahwa Winda sudah berubah dan juga sudah bergantung padanya.


Ya, sudah hampir 9 bulan menikah dengan Winda tetapi mereka belum melakukan hubungan intim.


Agus bahkan tidak mempermaslahkannya karena ia ingin fokus pada merubah Winda menjadi lebih baik lagi.


Hingga hampir jam 9 malam mereka tiba di Bandara, Agus langsung saja menuju ke dalam dan menunggu jadwal keberangkatannya bersama Winda.


"Mora, aku datang. Semoga kamu masih ingin memaafkan aku agar aku lebih tenang dengan menjalani semua ini dari awal" batin Winda dengan tulus.


Hingga tak lama kemudian, pesawat yang akan ke Jakarta pun akan berangkat.


Winda dan Agus langsung saja masuk ke dalam pesawat.

__ADS_1


"Tuan Wildan mengizinkan kita ke NTT selepas dari Jakarta. Apa kamu mau menjenguk Ayah dan Bunda?" tanya Agus saat mereka sudah duduk di dalam pesawat.


"Jika tidak menganggu pekerjaan mu aku ingin sekali, tetapi jika menganggu jangan saja dan kita bisa lain kali kesana" jawab Winda tersenyum.


"Tidak apa, sekalian aku ingin ketemu Teman ku disana untuk masalah pekerjaan di kebun sawit" jelas Agus lembut.


Winda hanya mengangguk saja, ia tidak akan memaksa walaupun ia sangat ingin bertemu dengan Ayah dan Bunda nya.


Tak berselang lama, pesawat yang mereka naiki pun melambung tinggi di angkasa.


Hanya memerlukan waktu 1 jam mereka akan sampai di tempat tujuan nya.


Selama perjalanan berlangsung, Agus menyuruh Winda untuk tidur terlebih dulu karena sudah malam.


Dan mereka juga nanti tidak akan langsung ke mansion Sy, melainkan ke tempat para anak buah nya yang ada disana.


Winda hanya menurut saja apa kata Agus, ia tidak protea ataupun merajuk di ajak kesana kemari oleh Agus.


Ia bahkan sangat bersyukur karena bisa menemui Mora untuk meminta maaf langsung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2