
Di kediaman Winda, ia sedang ketar ketir saat ada seseorang yang mengirim poto Aron dan Sekertaris nya masuk ke dalam kamar yang sama.
Winda bahkan mengabaikan Putri nya yang sedang menangis karena haus.
Ia terus saja menelpon Aron yang tak kunjung di angkat.
"Aarrgghh sialan kau Mas, dimana kau" geram Winda dengan penuh emosi.
Lalu ia pergi begitu saja dari sana, ia tidak peduli pada bayi yang sedang menangis.
Bibi Art langsung saja membawa nya ke pelukan, ia menyuruh salah satu rekan nya untuk membuatkan susu untuk Nona muda nya.
"Ya Tuhan, kenapa Nona Winda tega begini ya" gumam Bibi dengan menggelengkan kepala.
Lalu ia memberikan susu pada Nona muda nya dan membawa nya ke halaman belakang.
"Mbak, kenapa Tuan Aron belum pulang ya? Ini sudah hari ke tiga kepergiannya kan?" tanya salah satu Art disana pada Bibi.
"Mungkin dalam perjalanan kemari, aku pun kasihan pada Nona muda Cinta" jawab Bibi dengan sendu.
Para pelayan disana semua tahu bagaimana Nyonya nya saat sedang marah, bahkan ia sangat takut Nona muda nya akan menjadi kekejaman Winda.
"Bi" panggil seseorang dari dalam.
"Ahh itu Tuan Aron, Bi" ucap Art lain.
Bibi langsung saja menganggukan kepala nya, dan ia masuk bersama dengan Nona Cinta dalam pelukannya.
__ADS_1
Bibi berjalan cepat menuju ke ruang tengah, yang dimana disana ada majikannya.
"Tuan" ucap Bibi dengan sopan.
"Bi, kenapa Cinta ada di Bibi? Dan dimana Winda?" tanya Aron dengan mengambil Cinta dari gendongan Bibi.
Bibi lalu menceritakan semua nya tentang Winda, yang selalu saja marah-marah tidak jelas.
Ataupun apapun itu, ia bahkan selalu mengabaikan Putri nya sendiri.
"Masssss" teriak Winda dari atas tangga.
"Pergilah Bi, bawa Cinta ke belakang kembali" ucap Aron pada Bibi.
Bibi pelayan langsung saja membawa kembali Nona muda nya ke belakang bersama dengan pelayan lainnya.
"Apa maksud nya ini? Kenapa kau masuk bersama wanita ini ke kamar Hotel" teriak Winda dengan penuh emosi.
Aron mengajak Winda duduk terlebih dulu agar emosi nya tidak meledak-ledak.
"Saat itu aku tak enak badan, dan aku menyuruh Santi membawa berkas kepada kolega ku, sayang" ucap Aron dengan lemah.
"Jangan bohong, Mas" bentak Winda.
Aron langsung menghentakan tubuh nya, ia lalu bangkit dari duduk nya.
"Terserah apa kau percaya atu tidak, bahkan aku baru saja dari Dokter dan sambutan mu sudah begini? Istri macam kau ini" ucap Aron dengan emosi.
__ADS_1
Aron langsung saja berlalu dari sana, ia mengambil Putri nya terlebih dulu baru setelah itu membawa nya ke kamar nya.
Winda memejamkan mata nya, ia baru kali ini melihat Aron yang sangat emosi.
Hingga tak lama kemudian , Santi datang dengan membawa beberapa keresek.
"Mau apa kau" bentak Winda saat melihat Santi.
"Maaf Nyonya, ini obat Tuan Aron tertinggal di perusahaan dan saya mengantarkannya karena ia sedang sakit saat sejak di Kota Semarang" ucap Santi dengan memberikan obat tersebut pada Winda.
Setelah itu Santi pergi dari sana dengan senyuman kecil nya.
Winda langsung saja masuk ke dalam kamar dimana ada Suami dan Putri nya.
Ia melihat Aron yang memeluk tubuh mungil Putri nya dengan wajah yang lumayan pucat.
"Ternyata kamu memang sakit, Mas" gumam nya dengan merasa bersalah.
Lalu Winda menghampiri mereka dan ikut merebahkan diri disana.
Ia memeluk tubuh Aron dengan sangat rasa bersalah.
.
.
.
__ADS_1