
Selama di perjalanan pulang, Wildan tidak melepaskan sama sekali genggaman tangannya pada Mora.
Entah kenapa Mora lebih manja pada nya, di bandingkan minggu awal menikah.
"Mas, beli itu" pinta Mora menunjuk pada pedagang siomay.
"Siomay , sayang?" tanya Wildan memastikan.
Mora menganggukan kepala dengan sangat antusias. Wildan lalu mendekati pedagang tersebut, ia membeli nya tanpa harus keluar terlebih dulu.
"Berapa Pak?" tanya Wildan saat pedagang tersebut memberikan pesanannya.
"15 ribu, Tuan" jawab nya dengan sopan.
Wildan lalu memberikan uang satu lembar bewarna merah, setelah itu ia mengambil pesanannya.
"Kembaliannya buat bapak saja, buat anak istri bapak di Rumah" tolak Wildan saat pedagang tersebut memberi nya kembalian.
"Alhamdulilah , terimakasih Tuan, Nyonya" ucap nya dengan wajah bahagia.
Mora dan Wildan dengan kompak menganggukan kepala nya saja, lalu mereka pergi dari sana karena para sahabat nya sudah di mansion.
"Enak?" tanya Wildan saat Mora sedang menikmati siomay tersebut.
"Huum, ini lezat sekali sayang" jawab Mora dengan berbinar
Wildan tersenyum melihat Mora yang sangat lahap memakan siomay.
Hingga akhir nya mereka sampai juga di mansion.
Wildan menyuruh pengawal nya untuk membawa belanjaan mereka langsung ke halaman belakang.
Mora masuk masih dengan menikmati siomay tersebut, bahkan sampai mereka duduk bersama dengan sahabat nya pun ia masih anteng dengan makanan di tangannya.
"Maaf lama, ya" ucap Wildan tak enak pada Frans dan yang lainnya.
"Tidak apa, kita juga baru 10 menit sampai" balas Elisa
"Mora, makan apa?" tanya Afnan penasaran.
Mora menghentikan aktifitas nya sejenak, lalu ia memandang Afnan dan Elisa bergantian.
"Ehemm, ini siomay tapi tidak enak jadi aku makan sendiri saja" jawab Mora santai
__ADS_1
Wildan langsung melongo mendengar jawaban sang Istri, pasalnya ia tadi bilang bahwa siomay itu sangat enak dengan wajah berbinar nya.
Grep.
"Kau membohongi kita, jadi kau jangan makan siomay ini lagi" ucap Elisa memeluk Mora.
"Af, cepat ambil siomay nya" ucap Elisa kembali dengan memegang Mora.
"Ehhh jangan Af, itu tidak enak aku bener kok gak bohong" pekik Mora dengan meronta di pelukan Elisa.
Afnan dan Elisa tidak mempedulikan ucapan Mora, dengan cepat Afnan langsung saja mengambil siomay yang tinggal sedikit lagi.
"Dapat" pekik Afnan dengan senang.
Lalu ia kembali duduk di sofa dan memakan siomay itu. Elisa pun ikut menghampiri nya setelah melepaskan Mora.
"Siomay kuuuuu" teriak Mora dengan mata berkaca-kaca.
Ehh.
Fira , Elisa dan Afnan langsung saja menghentikan makan nya saat mendengar Mora berteriak dengan air mata yang menetes.
"Sayang, kenapa menangis?" tanya Wildan dengan khawatir.
Mereka yang ada disana di buat melongo dan juga bingung, entah apa yang membuat Mora menangis histeris.
"Mora, maaf kalau aku tadi meluk nya terlalu kencang" cicit Elisa dengan bersalah.
"Hiks hiks, aku ingin siomay itu lagi pokok nya" pekik Mora di pelukan Wildan.
Hah.
Elisa, Fira dan Afnan langsung menelan ludah kasar saat Mora menatapnya dengan tajam.
Bahkan siomay nya sudah habis oleh mereka bertiga.
"Nanti kita beli lagi ya, sayang. Kita kan akan bbq an dulu sekarang" bujuk Wildan.
"Baiklah, tapi aku ingin makan hasil bakaran mereka bertiga" ucap Mora dengan ketus.
"Iyaaa Tuan Putri" balas Fira, Afnan dan Elisa.
Mora lalu memeluk Wildan kembali dan mengabaikan wajah bingung para sahabat nya.
__ADS_1
"Ayo kita ke halaman belakang" ajak Wildan.
"Mas , aku ingin membersihkan diri dulu ya" pamit Mora dengan lembut.
"Iya sayang" balas Wildan.
Sedangkan yang lainnya langsung saja menuju ke halaman belakang.
Disana sudah tersedia tikar yang sudah di gelar, bahan untuk membuat sambal nya, snack dan yang lainnya.
"Wildan, kenapa Mora menjadi seperti itu?" tanya Elisa bingung.
"Entahlah, seminggu ini dia memang sangat manja padaku dan menjadi singa galak pada orang lain. Tanya saja noh sama kekasih mu dan Hari" jawab Wildan santai.
Elisa langsung saja menatap Roy dan Hari bergantian dengan wajah yang bingung.
"Aku hanya di suruh makan siang dengan 7 menu" ucap Roy menghela nafas kasar.
"Dan aku di suruh makan nasi dengan di siram jus tomat" timpal Hari dengan datar.
Sontak mereka langsung saja tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan kedua pria itu.
Bahkan Fira pun sampai memegang perut nya karena tertawa dengan bahagia.
"Ehemm" dehem Mora dari belakang mereka.
Glek.
"Sudah mulai belum?" tanya Mora santai.
"Belum sayang, kita nunggu kamu dulu" jawab Wildan lembut.
Mora lalu menyuruh ketiga wanita itu memanggang yang di inginkan Mora, tetapi Afnan hanya menata saja karena ia sedang hamil.
Sedangkan yang Pria, mereka juga membakar jagung, sosis , bakso dan yang lainnya.
Hanya Mora saja yang duduk diam dengan memakan setumpuk snack yang ada di hadapannya.
.
.
.
__ADS_1