PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 71


__ADS_3

Pagi hari menyapa warga Amerika, dengan udara yang sangat hangat.


Pagi ini, Aron akan melakukan kembali pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kaki nya.


Ceklek.


"Selamat Pagi, Tuan" sapa Dokter Bimo yang menangani Aron selama ini.


"Pagi juga Dok" balas Aron dan Santi bersama.


Dokter Bimo langsung saja mengecek kondisi kaki Aron dengan teliti.


Hingga beberapa saat kemudian pemeriksaan tersebut selesai juga.


"Nanti malam anda akan di periksa oleh Dokter Wil, Dokter handal ahli tulang" jelas Dokter Bimo.


"Apa separah itu ya Dok?" tanya Aron lirih.


"Ini lumayan parah, dan saya juga harus berdiskusi dengan Dokter Wil untuk langkah selanjut nya" jawab Dokter Bimo.


Aron dan Santi hanya mengangguk saja.


Setelah selesai, Dokter Bimo pun memberikan obat dan juga mengganti cairan infus yang mulai habis.


"Dok, apa hal yang paling terakhir di lakukan untuk kesembuhan kaki saya?" tanya Aron penasaran.


"Terpaksa harus di amputasi, kalau tidak maka akan membusuk karena ini juga sudah menjalar ke bagian bawah" jawab Dokter Bimo dengan helaan nafas kasar.


Aron menundukan kepala, lalu ia menghembuskan nafas nya kasar.


Santi langsung saja menggenggam tangan Aron agar ia kuat dengan keadaannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan , Nona" pamit Dokter Bimo.

__ADS_1


"Iya Dok" balas Santi dengan tersenyum.


Setelah kepergian Dokter Bimo, Aron memilih untuk memejamkan mata nya kembali.


Dada nya sangat sesak dengan mengingat semua keadaan diri nya.


"Apa ini karma untuk ku karena sudah menyakiti Mora dan Putra ku" batin Aron dengan meremas dada nya.


"Mas, jangan begini hey" ucap Santi dengan lembut.


Lalu Aron membuka mata nya, ia menatap manik mata Santi dengan air mata yang sudah menetes.


"Aku akan ikhlas jika jalan terakhir nya harus di amputasi, San. Mungkin ini hukuman bagi ku karena sudah menyakiti Istri sebaik Mora dan bayi tak berdosa Putra ku" ucap Aron dengan terbata.


"Pergilah San, carilah kebahagian dengan laki-laki sempurna disana" ucap nya lagi dengan menahan sesak di dada nya.


"Tidak akan Mas, aku akan selalu bersama mu apapun keadaannya. Kita akan berjuang bersama sampai kita menemukan titik kebahagian kita" tegas Santi dengan air mata yang ikut menetes.


"Jangan pernah menyuruh ku pergi, karena aku tidak akan pernah pergi dari mu. Aku menyayangi mu tulus Mas, meski aku tahu bahwa hatimu masih sangat mencintai Nona Mora" ucap Santi kembali dengan yakin.


Begitupun dengan Aron, ia juga menangis tersedu-sedu.


"Ma maafkan aku, San. Jujur, aku masih memcintai Mora. Dia adalah cinta pertamaku" lirih Aron dengan terisak.


"Tidak apa Mas, aku akan menjadi cinta terakhir dan masa depan mu. Jangan pesimis terus semangat ya , kita akan berjuang bersama" ucap Santi dengan lembut.


Aron menganggukan kepala dan tersenyum lembut pada Istri nya, Santi.


Santi lalu memeluk Aron kembali, begitupun dengan Aron, ia membalas memeluk Santi dengan erat.


Sedangkan Dava, ia tersenyum melihat bagaimana Santi selalu memberi suport pada Tuannya, Aron.


Ia mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam karena di dalam sedang terlihat adegan penuh haru.

__ADS_1


Hingga setelah beberapa saat ia memutuskan untuk mengetuk pintu nya.


*Tok


Tok*


"Masuk" teriak Santi.


Ceklek.


Dava masuk dengan membawa beberapa berkas untuk di tandatangani oleh Aron.


"Selamat pagi, Tuan" sapa Dava sopan.


"Pagi Dav, ada apa?" tanya Aron.


Dava memberikan berkas tersebut dan juga pulpen nya. Lalu ia menjelaskan bagaimana tentang perusahaan Aron yang sudah lebih baik dan bisa di bilang maju dengan pesat.


"Maafkan aku ya, Dav. Aku bukannya membantu mu tetapi aku malah membuang uang nya kembali untuk pengobatan ku" ucap Aron dengan lirih.


"Cukup anda semangat untuk sembuh itu sudah cukup bagiku, Tuan. Masalah uang bisa di cari kembali" balas Dava tersenyum.


"Kalau ada yang tidak kau mengerti dan masalah apapun, cepat kabari aku dan Santi ya" ucap Aron kembali.


"Baik Tuan, kalau begitu aku permisi dulu" pamit Dava sambil membawa kembali berkas yang sudah Aron tandatangani.


Aron dan Santi menganggukan kepala nya, lalu Dava pergi ke perusahaan.


Dan nanti malam ia akan menemani sepasang Suami Istri itu di Rs.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2