
Telepon genggam milik suami ku berbunyi yang artinya tanda ada panggilan masuk. Aku melihat nya dan ternyata dari Ibu mertua ku yang ada di kampung.
[Mas, ada telepon dari Ibu] teriak ku pada Suami ku yang kala itu sedang mandi.
[Tolong angkat saja, sayang] balas Suami ku sambil berteriak juga.
Dengan gerakan cepat aku mengangkat panggilan dari Ibu mertua ku sambil duduk santai di atas sofa.
[Halo, Bu] sapa ku pada Ibu mertua ku.
[Mas Ibra nya lagi mandi, ada apa Bu? Bisa bilang sama Sulis saja?] tanyaku kembali pada sang Ibu di seberang sana.
[.........]
[Baiklah nanti Sulis akan bilang pada Mas Ibra] balasku pada ucapan Ibu.
Tut.
Sambungan terputus, lalu aku menyimpannya dan menunggu Mas Ibra selesai dari membersihkan badannya.
[Ada apa ya dengan Ibu, tidak biasanya dia lembut dan biasa saja padaku] gumam nya dengan menopang dagu.
[Ah syukurlah mungkin saja Ibu sudah bisa menerimaku jadi menantu nya] gumamnya kembali dengan senyuman yang mengembang.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan munculah Mas Ibra dengan menggunakan handuk yang hanya sebatas area sensitif nya saja.
[Mas, kata Ibu kamu suruh nelpon balik. Aku sudah menanyakannya namun dia tetap tidak mau menceritakan ada hal apa] ucap ku dengan bangkit dari duduk.
[Yaudah tolong telpon kembali, sayang. Biar Mas yang akan berbicara] balas Mas Ibra.
Aku mengangguk dan menekan nomor ponsel Ibu mertua ku. Dan tak berselang lama panggilan tersebut langsung tersambung.
[Hallo Bu, ad apa? Kata Sulis Ibu mau berbicara penting pada Ibra?] tanya Ibra pada sang Ibu.
[........]
[Baiklah nanti aku rundingkan dulu dengan Istri ku ya, nanti aku kabari Ibu lagi] balas Ibra dengan memberikan ponsel nya pada Sulis.
Sulis menerima nya dan menyimpannya kembali pada meja rias milik nya.
[Ada apa dengan Ibu, Mas?] tanya ku dengan penasaran.
[Dia menyuruh kita untuk pulang dan menetap disana bersama nya, katanya dia kesepian] jawab Ibra.
[Aku sih terserah kamu, namun pekerjaan disjni bagaimana?] tanya Sulis.
[Disini kan ada Asisten ku yang mengurus nya, nanti aku juga bisa pulang pergi kalau ada yang mendesak] jawab Mas Ibra.
__ADS_1
[Yasudah kalau begitu, aku nurut sama kamu saja, Mas] ucap Sulis lembut.
Mas Ibra mengangguk seraya memeluk ku dengan hangat, aku berpikir mungkin ini juga kesempatan untukku mendekati sang mertua.
🌹🌹🌹
1 minggu kemudian aku dan Mas Ibra pergi ke kampung dengan menggunakan motor milik Mas Ibra. Tidak banyak pakaian yang aku dan Suami ku bawa karena tidak akan cukup tempat di motor.
Hingga setelah melakukan perjalanan selama 4 jam kami sampai di Bandung, kota kelahiran Mas Ibra.
Di depan pintu terlihat Ibu mertua ku sudah menunggu dengan wajah agak pucat seperti sakit.
[Assalamualaikum, Bu] sapa ku bersamaan dengan Mas Ibra.
[Waalaikumsalam, ayo masuk] balas Ibu dengan tersenyum.
Kami mengangguk dan masuk ke dalam, aku menyimpan barang-barang milikku dan Mas Ibra di dalam kamar yang memang milik Suami ku sejak remaja.
[Ibu, apa Ibu sakit?] tanya ku dengan hati-hati.
[Tidak Nak, Ibu hanya sedikit lelah dengan pekerjaan Rumah] jawab Ibu wini, mertua ku.
Aku hanya menghela nafas, lalu aku pamit untuk ke dapur membuat minuman untuk Mas Ibra dan Ibu.
[Bukannya Qia tinggal disini, namun kenapa dia tidak terlihat] gumam Sulis sambil membawa teh hangat yang enak di nikmati kala sedang cuaca sore-sore begini.
Sulis kembali duduk bersama dengan Ibu dan Ibra, dia meletakan satu piring kue dan minuman hangat untuk mereka nikmati.
🌹
Tepat jam 8 malam kami selesai makan malam, Aku , Ibu dan Mas Ibra kembali bersantai di depan televisi.
Hingga tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan Rumah Ibu mertua ku.
[Buuuu] teriak Desi, kakak Mas Ibra.
[Wah kalian sudah datang? Pasti di suruh Ibu datang kan, kasihan juga sih di kota juga cuma jadi pemulung saja] ucap Mbak Desi dengan melenggang masuk ke dapur.
Aku hanya bisa mengusap dada, jika tak ada Ibu sudah aku bungkam mulut pedas Mbak Desi tersebut.
[Lalu untuk apa kau kesini?] tanya Ibu menaikan alis nya.
Mbak Desi tak menjawab, dia hanya menunjukan bahan mentah untuk membuat bakwan saja.
[Katanya kaya, tapi buat bakwan saja minta sama Ibu] celetuk Mas Ibra santai.
[Gak apa, toh kalian juga numpang disini] balas Mbak Desi sambil melenggang pergi.
Aku dan Mas Ibra hanya menggelengkan kepala saja, entah bagaimana pikiran Mbak Desi yang selalu saja bermulut pedas pada kami berdua.
__ADS_1
[Bu, Qia kemana?] tanyaku yang memang sejak tadi tak melihat adik Mas Ibra.
Ibu menghela nafas kasar, dia lalu menatap ke depan dengan pandangan lurus.
[Ada apa, Bu?] tanya Mas Ibra.
[Qia sudah pergi dengan pria pilihannya, Ibu sudah melarangnya karena pria itu terlihat tak baik. Namun Qia kekeh dan kemarin mereka menikah diam-diam dan kabur dari sini] jelas Ibu meneteskan air mata nya.
Deg.
[Ya Tuhan, Qia] geram Mas Ibra yang terlihat mengepalkan tangannya.
[Ibu jangan banyak pikiran, semoga saja Qia dan Suami nya bahagia. Ayo sekarang Ibu tidur saja dan istirahat] ucap Sulis dengan lembut.
Ibu mengangguk, kemudian dia bangun dari duduk nya dan melangkah masuk ke kamar nya bersama dengan Sulis.
Sulis menyelimuti tubuh Ibu dengan lembut, setelah nya dia pergi dari sana seraya mematikan lampu utama di kamar sang mertua.
[Mas, ayo istirahat] ajak ku dengan tersenyum.
[Ayo, aku juga sudah lelah] balas Mas Ibra lembut.
Kami berdua pun masuk ke dalam kamar, sebelum nya aku sudah menutup dan mengunci jendela dan pintu Rumah Ibu.
Di dalam kamar, kami berbincang sebentar sebelum akhir nya terlelap karena lelah setelah perjalanan.
🌹
Pagi hari nya, cuaca di Bandung sangatlah tak menentu. Sejak subuh tadi sudah turun hujan dan sekarang sudah terlihat cerah namun kadang juga mendung.
Sulis sudah sejak tadi membersihkan Rumah tersebut, namun dia belum memasak karena Ibu ingin makan bubur yang ada di depan gang.
[Sulis, ayo makan bubur] teriak Ibu dari arah belakang.
[Iya Bu sebentar] balas ku dengan gerakan cepat menyimpan selang air yang memang sering di gunakan untuk menyiram tanaman atau memandikan motor.
Terlihat di dapur sudah tersedia bubur dengan berbagai toping, Ibu juga menyiapkan 3 mangkuk bubur ayam.
Mas Ibra, aku dan Ibu pun langsung duduk, kami langsung makan bubur dengan hening.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.