
"Bukan mau Tamat ya Readers, tetapi akan berganti musim yang ke 2 untuk cerita anak-anak mereka semua"
****
Setelah saling memaafkan, Winda berpamitan pada mereka karena akan berangkat ke NTT menemui sang Ayah dan Bunda nya.
Agus juga sudah menyerahkan berkas penting pada Wildan serta laporan yang penting.
Mora mengantarkan Winda sampai ke depan mansion, ia melambaikan tangannya saat Winda pergi dengan mobil yang membawa nya.
Mora masuk ke dalam mansion dengan senyuman yang menghiasi wajah nya, ia bahkan langsung memeluk Wildan dengan erat karena bahagia.
"Bahagia em" ucap Wildan dengan mengecup kepala Mora.
"Ya, aku merasa sangat bahagia dan juga lega, Mas" balas Mora dengan tersenyum kecil.
Wildan terkekeh, ia bersyukur karena masalah dalam kehidupan sang Istri sudah berakhir dengan senyuman dan maaf tulus.
"Yasudah, Mas akan ke perusahaan Widiatma dulu ya sama Ayah" pamit Wildan.
"Iya, hati-hati ya, Mas" balas Mora mengecup lengan Wildan.
Wildan mengangguk, ia lalu pergi dari sana bersama dengan sang Ayah.
Sedangkan Mora, ia masuk ke kamar karena twins ada disana bersama Bibi Kay dan Mama Hesti.
***
Setelah sampai di perusahaan, Wildan dan sang mertua langsung menuju ke ruangannya.
Kebetulan mereka datang di waktu sedang jam makan siang dan banyak nya karyawan yang berpasan dengan mereka.
"Ada apa ini? Kenapa Tuan besar dan Tuan muda datang dengan wajah yang menyeramkan?" tanya salah satu karyawan pada resepsionis.
"Aku juga tidak tahu, yang pasti di ruangan CEO sudah ada Tuan Roy dan Tuan Hari yang menunggu mereka" jawab resepsionis.
"Yang aku dengar sih, manager keuangan yang baru menggelapkan dana sampai miliyaran" celetuk salah satu dari mereka.
__ADS_1
Glek.
"Dia berani sekali, sama saja cari mati"
"Ya ampun, dia punya nyawa berapa ya?"
"Habislah dia, padahal kurang enak apa ya kerja disini? Pentaris mobil/motor di kasih, mes megah di kasih, gajih gede pula"
Begitulah celetukan para karyawan disana, lalu mereka membubarkan diri saat perut nya sudah keroncongan. Mereka juga takut akan terkena masalah.
*
Suasana di ruangan CEO sangat menyeramkan, bahkan Roy dan Hari sampai menelan ludah kasar berkali-kali.
"Panggil dia" ucap Wildan pada Roy.
Roy mengangguk patuh, ia lalu memanggil manager keuangan dengan lewat telepon.
Mereka menunggu nya dengan santai, bahkan Wildan sambil memainkan ponsel nya.
Hingga tak lama kemudian, pintu tersebut di ketuk dan Roy langsung membuka nya.
Masuklah seorang pria yang sudah berumur , Roy lalu menyuruh nya duduk di hadapan Wildan.
Sedangkan Ayah Darma, ia hanya duduk di sofa melihat semua itu.
Brak.
"Baca itu" ucap Wildan dengan dingin.
Glek.
Manager tersebut pun langsung saja membuka berkas yang di lemparkan oleh Wildan.
Ia membaca nya dengan jantung yang berdebar kuat, bahkan tubuh nya sudah bergetar hebat.
Deg.
__ADS_1
"Kenapa mereka sampai tahu, aku bahkan sudah bermain sangat rapih" batin sang Manager.
Manager tersebut langsung saja menyeka keringat yang sudah keluar dengan sendiri nya.
"Tu tuan" ucap sang manager.
"Apa? Kau mau mengelak? Tidak akan bisa karena semua bukti sudah aku dapatkan" balas Wildan dengan aura yang sangat dingin dan juga mencekam.
"Kau itu hanya karyawan baru, bahkan hanya pengganti saja tetapi kau sudah sangat berani menggelapkan dana hingga ber M" bentak Wildan.
Glek.
Manager tersebut langsung saja terlonjat kaget , ia bahkan sampai bangun dari duduk nya.
"Sa saya tidak melakukan itu, Tuan. Mu mungkin Tuan Roy yang salah dengan berkas itu" ucap sang manager terbata.
Bugh.
"Sialan kau, disini lebih lama siapa yang bekerja. Kau itu baru kemarin tetapi sudah berani memfitnah Tuan Roy yang adalah Kakak angkat Nona Mora hahhh" teriak Hulk yang sudah emosi bahkan ia sampai meninju wajah sang manager.
"Siapa kau berani sekali memfitnah Putra ku?" tanya Ayah Darma dengan bengis.
"Matilah kau" batin Hari dengan tersenyum smirk.
"Jebloskan dia ke penjara bawah tanah, dan buat sebuah skandal yang menjurus bahwa dka mati karena itu" ucap Ayah Darma dengan lantang.
Hulk dengan senang hati mengangguk, ia langsung saja menyeret paksa sang manager.
Dan Sekertaris yang berjaga di luar di buat hampir pingsan karena mendengar semua itu.
Ia juga yang tergolong senior disana tidak berani membuat ulah, apalagi ini menggelapkan dana.
.
.
.
__ADS_1