PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 66


__ADS_3

Tiba di halaman, Mora terus saja memeluk Wildan untuk menenangkan Suami nya.


"Wil, ada apa kalian sampai harus kesini?" tanya Aron penasaran.


"Kami kemari untuk memberikan keterangan akan mereka, tetapi saat sudah selesai entah kenapa Istri ku ingin melihat Winda dan disana ternyata ada kalian" jawab Wildan


Aron hanya menganggukan kepala , lalu ia berpamitan pada Mora dan Wildan.


Setelah kepergian Aron, Wildan pun membawa Mora untuk pulang ke mansion Widiatma.


Karena Wildan akan ada operasi nanti sore, jadi ia akan menyuruh Mora untuk berada di mansion mertua nya dulu.


"Mas, kenapa ya bawaannya aku ingin selalu nempel saja denganmu, bahkan saat kamu ingin pergi bekerja pun aku merasa bahwa kamu ingin jauh-jauh dari ku" ucap Mora dengan menatap Wildan dalam.


"Baiklah, kau akan ikut ke Rs dan menunggu ku selesai operasi lalu kita pulang kembali bersama-sama, apa ini keinginan mu?" ucap Wildan dengan tersenyum kecil.


Hehehe.


Mora sontak langsung saja cengengesan dan menganggukan kepala nya antusias.


Sedangkan Wildan, ia mengecup berkali-kali kepala Mora karena gemas.


**


Sedangkan di penjara, setelah kepergian Mora dan yang lainnya, kini Winda duduk termenung di dalam sel.


"Apa benar aku sehina dan sekejam itu ya" gumam nya dengan menggelengkan kepala.


"Mereka itu pasti bohong, jelas-jelas Wildan itu orang miskin dan hanya Dokter biasa, bagaimana bisa dia menjadi seorang yang mempunyai SyGroup" ucap nya lagi dengan terkekeh.


"Aku tidak akan tertipu" ucap Winda lagi pada diri nya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di dalam sana sontak langsung saja tertawa saat melihat Winda berbicara sendiri.


"Kau sudah gila Winda, masa bicara sendiri" ucap temannya.


"Apa sih yang membuat mu masuk ke dalam sini?" tanya yang lain dengan penasaran.


"Aku hanya menginginkan harta sepupu ku dan aku sudah membuat mantan suami ku jatuh ke jurang" jawab Winda dengan enteng.


"Apaa, kau memang gila" ucap mereka dengan wajah terkejut nya.


Winda hanya diam saja, ia bahkan mengacuhkan mereka yang sedang membicarakan dia.


"Ck, kau itu sangat serakah Winda. Apa kau juga merebut suami wanita yang memakai hijab tadi?" tanya temannya lagi.


"Kalau ia, berarti lelaki itu mata nya kat*rak karena memilih mu yang ibaratkan nya hanya sebuah batu bata dan meninggalkan dia yang indah seperti berlian permata" ucap nya lagi dengan tawa bahak dan ikuti oleh teman-temannya.


Hahaha.


Hahahaha.


"Haha, apa kau? Tidak terima hah" ucap yang lainnya.


Mereka terus saja tertawa dengan bahagia, mereka memang sempat melihat Mora yang menatap Winda sinis tadi.


Plak.


"Aku bilang diam kau" teriak Winda kembali dengan kencang.


Bugh


Bugh

__ADS_1


Winda langsung saja tumbang saat kaki dan perut nya di pukul oleh wanita yang ia tampar.


"Berani sekali kau menampar ku hah, kau tahu tidak bahwa yang aku bicarakan memang fakta" bentak nya di hadapan wajah Winda.


"Ayo kita serang dia" ajak yang lainnya.


Lalu mereka dengan semangat memukuli Winda dengan penuh tenaga, bahkan Winda pun sampai menjerit kesakitan karena di keroyok 4 orang teman sesama sel nya.


"Hei hei apa yang kalian lakukan" teriak petugas polisi dengan cepat membuka pintu sel nya.


"Dia yang sudah membuat kami marah Pak, dia sudah menampar wajah saya dan juga berisik di sel ini" ucap wanita yang di tampar Winda.


"Sudah-sudah, kalian menjauh lah" balas petugas itu.


Lalu petugas itu memanggil petugas medis untuk mengobati tubuh Winda yang luka.


"Awas kalian" batin Winda dengan menatap ke arah 4 orang wanita tadi tajam.


"Apa kau" tantang temannya dengan wajah sengit.


Winda langsung saja memalingkan wajah nya karena ia takut.


Lalu ia meringis sakit saat petugas medis mengibati luka nya.


Sedangkan yang lainnya hanya diam dengan wajah tersenyum mengejek ke arah Winda.


Setelah selesai, petugas polisi dan petugas medis pun pergi dari sel sana.


Dan Winda memilih memejamkan mata nya karena merasa sangat remuk pada badannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2