
Sedangkan di Negara lainnya, Aron dan Santi sedang menjalankan beberapa bisnis perhiasannya yang sudah melesat terkenal disana.
Tetapi pencapaian tersebut masih terasa kurang karena sudah hampir 7 tahun mereka menantikan keturunan belum juga terpenuhi.
Sudah beberapa Dokter yang mereka datangi, dari yang terbaik sampai biasa saja sudah mereka datangi dan hasil nya tetap sama mereka subur namun memang belum ada rezeki nya.
Seperti saat ini, Aron dan Santi sedang dalam perjalanan pulang ke Rumah nya selepas menjalankan perjalanan bisnis di Kota sebelah.
"Lelah ya?" tanya Aron dengan membelai pucuk kepala Santi
"Heemm, ini badan rasanya remuk banget Mas" jawab Santi dengan lemas.
Aron membelai wajah Santi lembut, ia mengecup kening nya dengan lembut.
Setelah itu ia memeluk nya dengan hangat.
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di Rumah, Santi langsung saja keluar dan segera masuk ke dalam Rumah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aron dengan mengejar Santi yang sudah lebih dulu berlari.
Aron terus saja berlari hingga ia melihat sang Istri sedang muntah di wastafel dapur. Aron langsung menghampiri dan memijat tengkuk Santi.
"Sudah baikan?" tanya Aron dengan cekatan membersihkan sisa muntahan di sudut bibir Santi.
"Udah, tapi aku pusing banget mungkin masuk angin" jawab Santi dengan lemas.
Aron langsung menggendong nya dan membawa Santi ke kamar mereka.
Ia merebahkan Santi dengan lembut di atas ranjang empuk mereka.
__ADS_1
"Mas, mau teh hangat. Tolong ya" ucap Santi dengan sedikit tak enak karena biasanya ia yang menyiapkan semua nya.
Aron mengangguk, ia mengecup kening Santi dengan lembut dan pergi ke dapur.
"Kenapa perutku jadi mual sekali sih" gumam Santi dengan mengelus perut nya.
Santi mencoba memejamkan mata nya agar mual nya reda dan tak datang lagi.
Tetapi ia tak kunjung tidur apalagi Aron yang belum datang kembali ke kamar nya.
Ceklek.
Pintu terbuka dan munculah Aron, Dava dan Istri nya.
"Mbak, kenapa?" tanya Kekey Istri Dava.
"Gak apa, Key. Mbak mungkin terlalu lelah dan juga masuk angin biasa saja" jawab Santi lembut.
"Ini teh nya, sayang" ucap Aron sambil memberikan teh hangat.
Kekey membantu Santi untuk duduk, ia lalu membantu nya untuk minum teh hangat tersebut.
"Terimakasih, Key" ucap Santi dengan tersenyum.
"Iya Mbak" balas Kekey.
Santi kemudian berbaring kembali, ia merasa sangat sakit kepala nya.
Dava dan Aron pergi dari sana, mereka membiarkan Kekey yang menemani Santi.
__ADS_1
*
"Bagaimana kabar proyek yang di Indonesia?" tanya Aron yang memang tidak tahu menahu semua urusan yang ada di tanah air.
"Baik, semua nya bejalan dengan lancar dan aman-aman saja" jawab Dava.
Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruang kerja, setelah nya Dava menjelaskan semua tentant pekerjaan yang ada di tanah air.
Aron hanya mendengarkan saja sambil membaca berkas yang di bawa oleh Dava.
Hampir 1 jam mereka membahas pekerjaan, Aron dan Dava memutuskan untuk menghampiri Istri mereka kembali.
"Key, bagaimana Mbak mu?" tanya Aron sambil melangkah menuju ke ranjang.
"Sudah agak mendingan sih Kak, tapi aku sarankan agar periksa ke Dokter saja karena barusan juga sudah muntah lagi" jawab Kekey sambil menatap sendu pada Santi.
"Besok pagi Kakak akan membawa nya ke Dokter, kalian menginap saja disini" ucap Aron.
Kekey dan Dava mengangguk, lalu mereka berpamitan dari kamar tersebut dan langsung menuju kamar Dava yang memang selalu di rawat di Rumah itu.
Setelah kepergian Dava, Aron mengunci pintu nya dan langsung menuju ke kamar mandi.
Hingga beberapa saat , Aron sudah keluar dengan pakaian tidur nya dan di tangannya ada pakaian ganti untuk sang Istri.
Aron mengganti pakaian Santi dengan lembut agar Istri nya tidak bangun.
Setelah selesai, Aron ikut merebahkan diri nya di samping Santi dan memeluk Santi dengan hangat.
.
__ADS_1
.
.