
Hingga mobil berhenti di halaman mansion pun Mora masih tetap terlelap.
Wildan menyuruh Bibi kay untuk membawa belanjaan Mora , sedangkan ia sendiri menggendong Mora untuk ke kamar nya.
Mora memutuskan untuk tinggal di kamar lantai bawah saat mengetahui diri nya sedang hamil.
Jadi semua barang dirinya dan milik Wildan sudah berpindah di lantai bawah.
"Tuan, mau bibi siapkan makanan?" tanya Bibi Kay.
"Tidak usah Bi, kami sudah makan siang tadi di luar" jawab Wildan.
Lalu Bibi permisi untuk kembali ke belakang dan hanya di jawab anggukan saja oleh Wildan.
Setelah kepergian Bibi Kay, Wildan lalu mengganti pakaian Mora dengan pakaian rumahan yang nyaman.
Bahkan ia juga membiarkan rambut indah sang Istri tergerai.
Setelah selesai, Wildan langsung saja masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan berendam sejenak untuk membuat rilexs tubuh nya.
**
-Rumah Sakit Widiatma
Hari ini, kondisi Aron sudah lebih baik. Ia sudah boleh pulang Sore ini juga oleh Dokter.
Saat ini Santi sedang mengepak pakaian milik nya dan juga Aron yang ada di Rumah sakit tersebut.
Sedangkan Dava, ia sedang menyelesaikan administrasi Tuan nya dan juga Santi.
"Akhir nya selesai juga" gumam Santi dengan menyimpan koper nya dan koper Aron di sudut kamar.
Ceklek.
__ADS_1
"Sudah siap semua nya?" tanya Aron yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah, Mas" jawab Santi dengan menghampiri Aron untuk membantu nya kembali ke ranjang.
"Tinggal menunggu Dokter saja" ucap Santi kembali.
Aron mengangguk, lalu ia duduk di atas ranjang pasien milik nya.
Hingga tak lama kemudian datanglah Dokter bersama dengan Dava.
Dokter langsung saja memeriksa Aron sebelum ia pulang.
"Semua nya baik, bahkan ini bisa di katakan sangat cepat pulih biasanya memerlukan waktu 1-2 mingguan" jelas Dokter dengan tersenyum.
"Sudah tidak betah, Dok" balas Aron dengan terkekeh.
Dokter hanya tersenyum, lalu ia memberikan penjelasan yang lainnya dan juga memberikan vitamin untuk Aron.
Setelah itu , Dokter pamit dari sana.
"Sudah Tuan , sekarang kita bisa pulang" jawab Dava sopan.
Lalu mereka bertiga langsung saja keluar dari sana, Dava membantu Santi membawa koper milik Aron.
Mereka berjalan beriringan dengan wajah tanpa exspresi nya.
Sesampai nya di loby, Dava langsung saja menghubungi sopir untuk membawa mobil nya ke depan loby.
Tak berselang lama , mobil pun sudah tiba disana.
Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil, Aron menghela nafas kasar saat ia duduk di dalam.
"Kita kemana dulu, Tuan?" tanya Dava.
__ADS_1
"Ke makam Putra ku dulu, besok pagi kita ke mansion Mora dan ke kantor polisi" jawab Aron.
"Baiklah Tuan" ucap Dava.
Lalu sopir melajukan mobil nya ke arah pemakaman khusus keluarga Widiatma
Selama di perjalanan, Aron memejamkan mata nya dengan menyenderkan kepala nya di sandaran kursi.
Santi mengusap lengan Aron dengan lembut, ia mencoba menguatkan Aron agar tetap semangat.
"Semangat, kita akan memulai semua nya dari awal" ucap Santi lembut.
"Iya, aku hanya tidak menyangka saja bahwa takdir ku sangat tragis" balas Aron tersenyum getir.
Santi menggelengkan kepala, ia lalu memegang tangan Aron dengan erat.
"Ini hanyalah teguran agar kita sadar dan kembali ke jalan yang benar, mungkin kemarin kamu menjalani semua nya dengan memilih jalan yang salah sehingga Allah menugurmu, Mas" ucap Santi dengan bijak.
Aron menghembuskan nafas kasar, ia membenarkan ucapan Santi.
Bahkan bukan hanya jalan yang salah, Aron bahkan dengan tega nya membunuh darah daging nya dan menyakiti wanita sebaik Mora.
"Sekarang anda berubah lah dan kembali pada diri anda sendiri Tuan, jangan melihat masalalu lagi cukup tatap masa depan anda" timpal Dava
"Ya kalian memang benar, aku akan memulai nya dengan baik" balas Aron dengan tersenyum.
Santi dan Dava ikut tersenyum, mereka cukup bahagia dengan perubahan Aron yang sedikit demi sedikit.
Hingga tak berselang lama mobil mereka sampai juga di pemakaman keluarga Widiatma.
Aron, Santi dan Dava langsung saja keluar dan menuju ke makam Mikael, Putra Aron dan Mora.
.
__ADS_1
.
.