PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 43


__ADS_3

Sesampai nya di mansion, Jana, Winda dan Yuli langsung saja pergi ke mansion Mora. Mereka sudah tidak sabar ingin membuat kejutan untuk Mora.


"Kita akan meminta hak kita pada Mora, ia kan tidak tau apa-apa jadi dia pasti akan memberikannya" ucap Yuli dengan berbinar.


"Bunda benar, aku sudah tidak sabar ingin menjadi wanita kaya" balas Winda dengan semangat.


Jana, ia hanya diam saja sambil fokus melajukan mobil nya di jalan raya.


Hingga tak lama kemudian, mereka sampai juga di halaman mansion mewah milik keluarga Tuan Darma.


"Wah Ayah, mansion ini sangat megah dan indah" puji Winda dengan berbinar.


"Benar Nak, dan sebentar lagi akan menjadi milik kita" ucap Jana tersenyum.


"Ayo kita ke dalam" ajak Jana dengan semangat.


Mereka lalu keluar dari dalam mobil, terlihat di setiap sudut sudah ada para penjaga yang sedang menjaga.


"Siapa kalian?" tanya penjaga yang ada di depan pintu.


"Kami keluarga Tuan Darma" jawab Jana tegas.


Rekan penjaga satu lainnya menganggukan kepala, lalu mereka di biarkan masuk oleh mereka.


Jana dan anak istri nya sama sekali tidak menyadari adanya kejanggalan, mereka sibuk dengan mengagumi mansion tersebut.


"Silahkan duduk Tuan, Nyonya" ucap Art dengan menyadarkan mereka dari keterpukauannya.


"Ahh iya" balas Yuli.


Mereka lalu duduk disana , sedangkan Art tersebut pamit pergi untuk memanggil Tuan dan Nona nya.


"Terlihat sekali bahwa mereka sangat serakah" batin Art tersebut.


Art tersebut langsung saja naik ke lantai atas untuk memanggil Mora dan Wildan.

__ADS_1


Tak


Tak


Manik mata Jana , Yuli dan Winda langsung saja melihat ke arah tangga. Mereka bisa melihat bahwa Mora dan Wildan sedang berjalan ke arah mereka.


"Selamat siang, Paman , Bibi. Ahh Tuan, Nyonya" ucap Mora dengan gaya anggun nya.


Wildan lalu mengajak Mora duduk di sofa yang berhadapan dengan Jana.


Wajah Jana, langsung terkejut saat mendengar Mora memanggil nya Paman.


"Ada apa kalian kemari?" tanya Wildan dengan to the point.


"Kami ingin kau memberikan sebagian harta Hesti pada kami" jawab Yuli dengan sarkas.


Mora memicingkan mata nya dengan tatapan yang sangat tajam, sama persis dengan tatapan Tuan Darma.


"Harta? Harta yang mana ya, Bibi YULI?" tanya Mora penuh penekanan.


"Meninggal? Kenapa kalian tau bahwa orangtua meninggal sedangkan tidak ada kabar nya sama sekali di stasiun tv maupun sosial media, apalagi kalian kan dari Desa" ucap Mora dengan santai dan mata nya yang tajam.


Glek.


"Bahaya kalau Yuli sampai keceplosan lagi" batin Jana dengan ketar ketir.


"I itu karena aku menebak saja, karena sampai sekarang dia tidak ada kabar nya" balas Yuli dengan gugup.


Brak.


Mora melemparkan berkas pada meja , ia sudah muak dengan semua nya.


"Itu adalah berkas perusahaan yang anda miliki sekarang, dan perusahaan itu sudah sah milik mu, Paman. Jangan kira aku tidak tau bahwa kalian kesini ingin memeras ku? Bahkan aku sendiri saja tidak tau dimana berkas Ayah dan Mama ku" ketus Mora dengan sinis.


"Aku ingin mansion ini" teriak Winda dengan tegas.

__ADS_1


"Silahkan kalau kau ingin mansion ini" ucap Mora dengan santai.


"Tetapi jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan semua nya, Winda" jelas Mora kembali.


"Ah dan jangan lupa, beri perhatian pada Aron kalau kau tidak mau di tinggalkan" bisik Mora dengan tersenyum


Wildan lalu merangkul pinggang sang Istri dengan sayang, mereka lalu keluar dari dalam mansion itu.


Tak lama kemudian, para Art dan pengawal pun ikut serta dengan Mora dan Wildan.


"Kalian mau kemana?" tanya Jana dengan bingung.


"Kami akan mengikuti Tuan kami" jawab salah satu dari mereka dengan acuh.


Jana terperangah dengan semua ini, bahkan tak lama kemudian datang beberapa mobil kontener untuk mengangkut semua ini dari mansion itu.


"Apa-apaan ini, hah" teriak Jana pada pegawai yang sedang membereskan semua nya.


"Maaf Tuan, semua ini atas perintah Nona muda Mora" balas pegawai tersebut.


Jana , Yuli dan Winda sekali lagi di buat membelakan mata nya dengan tingkah Mora, mereka tidak menyangka Mora akan melakukan hal ini.


Jana lalu keluar dari mansion, ia melihat Mora yang sedang tersenyum sinis pada nya dari dalam mobil.


"Sedikit demi sedikit kau akan hancur, Paman" ucap Mora dengan tersenyum kecil.


Wildan menyuruh Roy langsung melajukan mobil nya, ia sudah sangat ingin memeluk Istri nya dengan leluasa.


"Kau nakal sekali, sayang" bisik Wildan dengan mengecup pipi Mora lembut.


Mora hanya tersenyum saja, ia memeluk tubuh tegap Suami nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2