PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 77


__ADS_3

Wildan menghampiri Mora untuk mengajak nya naik ke atas pelaminan memberi selamat pada pengantin.


Begitupun dengan Mama dan Ayah nya Mora, mereka ber empat bersama-sama pergi ke atas pelaminan.


"Selamat Dok, semoga selalu rukun dan bahagia rumah tangga nya" ucap Wildan dengan wajah datar nya.


"Terimakasih, Dok" balas Dokter Bimo tersenyum.


Setelah berbasa-basi, mereka pun turun dari sana dan menuju ke stand makanan.


Mora memilih beberapa makanan yang di cukup menggugah selera nya.


Sedangkan Ayah dan Mama nya pergi untuk menghampiri rekan bisnis mereka.


"Dokter Will" sapa seorang Wanita yang menghampiri meja mereka.


Wildan hanya diam saja dan acuh , ia bahkan tidak menatap wanita itu.


"Ya, apa kau mengenal Suami ku?" tanya Mora dengan ramah.


"Suami?" gumam wanita tersebut.


Mora menganggukan kepala tanda mengiyakan gumaman wanita di hadapannya.


"Sayang? Apa sudah selesai makannya?" tanya Wildan.


"Sudah Mas, ayo kita pulang" jawab Mora mengerti.


Wildan lalu membantu Mora berdiri, setelah itu mereka berdua pergi dari sana tanpa menghiraukan wanita tersebut.

__ADS_1


"Siapa wanita itu?" gumam nya dengan bingung.


Lalu ia memilih untuk menghampiri teman-teman nya yang sedang menghadang Wildan dan Mora.


"Wil, kau sudah mau punya Baby saja. Pindah ke Indonesia kau menemukan bidadari secantik ini" ucap salah satu temannya.


"Terimakasih, kalian bisa saja" balas Mora dengan lembut.


"Bukannya kamu ini Mora ya? Putri tunggal Nyonya dan Tuan Widiatma?" tanya nya dengan antusias.


Mora hanya menganggukan kepala saja dengan tersenyum ke arah teman-temannya, Wildan.


"Siapa yang pewaris Widiatma?" tanya wanita tadi yang baru saja tiba.


"Ini istri nya Wildan" jawab salah seorang teman nya.


Mora dan Wildan hanya acuh saja, ia bahkan tidak menghiraukan ucapan wanita tersebut.


"Kau tidak percaya? Kita buat taruhan bagaimana?" tantang temannya.


"Kalau memang dia benar Putri nya milliuner Widiatma , kau harus memberikan mobil terbaru mu padaku. Begitupun sebalik nya?" ucap nya lagi dengan tersenyum kecil.


"Siapa takut, deal" balas wanita itu dengan sombong.


Lalu salah seorang dari mereka mencari Tuan dan Nyonya Widiatma yang kebetulan datang juga kesana.


Hingga tak lama kemudian orangtua Mora datang juga kesana.


"Maaf Nyonya, apakah Nona ini Putri kandung anda?" tanya Celina, wanita yang di tantang.

__ADS_1


"Iya, Mora memang Putri kandung saya, kenapa memang nya?" tanya Mama Hesti balik.


"Ada apa ini, Nak?" tanya Ayah pada Mora dan Wildan.


"Tidak tahu Ayah, kami permisi pulang dulu ya" pamit Wildan dengan menggandengan lengan Mora.


"Hati-hati, kalian" ucap temannya dengan melambaikan tangan.


Sedangkan Celina? Ia melongo tak percaya bahwa ternyata benar dan ia kehilangan mobil yang baru saja ia beli kemarin.


"Kau kalah Celina, kemarikan kunci mobil mu" ucap temannya dengan tertawa bahagia.


Dengan berat hati ia memberikan kunci mobil tersebut, lalu ia pergi dari sana karena merasa kesal.


"Dia pikir dia itu hebat apa? Dari dulu mengejar Wil yang tak suka padanya" kekeh teman-temannya dengan menatap kepergian Celina jengah.


Lalu acara pun berjalan lanjut hampir tengah malam, dan hanya Wildan saja yang sudah pulang dari teman-teman yang lainnya.


**


Wildan dan Mora baru saja tiba di Rumah, mereka langsung saja menuju ke kamar nya karena sudah malam


Mora langsung saja mengganti pakaian dan terlelap karena cukup lelah, begitupun dengan Wildan ia juga ikut memejamkan mata nya dengan memeluk tubuh sang Istri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2