
Saat semua orang sudah terlelap dengan buaian alam mimpi, saat itu jugalah Aron mulai mengerjapkan mata nya dengan perlahan.
Bahkan tangannya ia gerakan sedikit demi sedikit , hingga Santi yang memang ketiduran dengan memegang tangan Aron pun perlahan mengerjapkan mata nya.
"Ya ampun" gumam nya dengan sangat kaget.
Lalu Santi langsung saja memencet tombol yang ada di samping kepala Aron.
"Mas, kamu sudah sadar" ucap Santi dengan antusias.
Aron hanya diam dengan mengerjapkan mata saja, ia masih menatap kesana kemari lalu memejamkan mata lagi.
Hingga tak lama kemudian, Dokter dan perawat datang kesana bersama dengan Dava.
"Nona, Tuan, silahkan kalian tunggu dulu di luar" ucap Perawat.
Santi dan Dava langsung saja keluar dari sana. Dava yang memang baru kembali kesana terlihat bingung dengan keadaan.
"San, ada apa ? Apa terjadi sesuatu pada Tuan?" tanya Dava bingung.
"Aron sadar, Dav" jawab Santi dengan bahagia.
Dava tersenyum bahagia, ia mengucap syukur berkali-kali atas semua ini.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, keluarlah Dokter dan perawat dari sana.
Santi dan Dava langsung saja menghampiri Dokter tersebut.
"Tuan Aron sudah lebih baik, hanya tinggal menunggu pulih saja" jelas Dokter sebelum Santi bertanya.
"Terimakasih, Dok" ucap Santi.
Lalu setelah Dokter pergi, Santi dan Dava langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mas" ucap Santi dengan binar bahagia, lega dan juga antusias.
"Hemmm, aku sudah berapa lama disini San?" tanya Aron lemah.
Sebelum menjawab, Santi memeluk tubuh Aron terlebih dulu.
__ADS_1
"2 hari , Mas" jawab Santi dengan tersenyum.
Aron mengangguk, ia lalu menatap Santi dengan lekat. Aron baru ingat bahwa Santi pun ikut serta dalam kecelakaan itu dan ia juga ingat bahwa ia mendorong Santi agar keluar dari dalam mobil.
"Bagaimana keadaan mu, San?" tanya Aron khawatir.
"Aku baik-baik saja, hanya beberapa luka ringan saja" jawab Santi menenangkan.
Dava? Ia memilih duduk diam di sofa agar tidak mengganggu mereka melepas rindu.
Bahkan ia juga berpura-pura bermain ponsel agar mereka tidak canggung.
"Siapa yang sudah menabrak kita, Dav?" tanya Aron dengan penasaran.
Dava langsung saja menghampiri sang Bos, ia menghela nafas kasar terlebih dulu.
"Winda" jawab Dava dengan datar.
Santi dan Aron langsung memejamkan mata dengan tangan terkepal, apalagi Aron ia terlihat begitu emosi.
"Apa dia sudah di penjara? Kalau sudah kau urus agar dia tidak akan keluar dengan mudah" ucap Aron dengan tegas.
"Sudah, bahkan orangtua nya juga sudah ikut serta masuk ke dalam sana. Saya juga sudah membuat laporan yang tidak akan mudah untuk Winda keluar dari sana" jelas Dava
Dava juga menceritakan bagaimana licik nya Jana saat akan menguasai perusahaan milik Aron.
"Mereka sangat serakah akan harta" ucap Santi menggelengkan kepala nya.
"Iya, dan aku betapa bodoh nya bisa tertipu oleh mereka" timpal Aron dengan lirih.
"Oh iya Mas, semua perusahaan dan aset sudah berhasil kita jual dan uangnya sudah masuk ke rekening pribadi mu" ucap Santi dan di angguki oleh Dava.
Lalu Dava memberikan bukti semua nya pada Aron, ia melihatkan satu persatu surat pembelian dan penjualan itu.
"Setelah aku pulih, kita akan pergi dari sini tetapi sebelum pergi, aku ingin bertemu Mora terlebih dulu" balas Aron
"Iya Mas, sekarang kita istirahat saja ya sudah mau dini hari juga" ucap Santi lembut.
Dava memilih tidur di atas sofa dan Santi akan tidur di atas kasur lipat yang memang sudah Dava siapkan.
Hening.
__ADS_1
Ruangan tersebut langsung saja hening , mereka bertiga memejamkan mata nya tetapi dengan pikiran yang sudah berkelana kemana-mana.
Santi menghela nafas dengan kasar, ia tidak menyangka bahwa Winda akan melakukan hal nekad seperti itu pada Aron dan dirinya.
"Ah sebaiknya aku tidur dulu" gumam Santi dengan memejamkan mata nya.
Hingga pagi menyapa mereka belum juga bangun, entah karena masih mengantuk atau memang mereka lelah.
**
Pagi ini, Winda membuat kerusuhan di penjara. Winda berteriak histeris sambil memukul jeruji besi nya.
Bahkan Yuli dan Jana pun ikut serta membuat onar agar segera di bebaskan dari sana.
"Mora aku akan membalas mu, Hahhhhhh" teriak Winda dengan penuh emosi.
Brak
Brak
Brak.
"Buka, buka kunci nyaaaaa" teriak Winda kembali dengan lantang.
Brugh.
"Diam kau, jangan membuat gaduh disini" bentak salah seorang penghuni penjara.
Bahkan ia sampai memukul kaki Winda dengan kencang karena merasa snagat terganggu.
"Kau yang diam, jika tidak suka maka diam saja" balas Winda.
"Kau yang membuat kegaduhan disini , jadi kau yang harus diam" bentak nya dengan berkacak pinggang di depan Winda.
Glek.
Winda menelan saliva nya dengan kuat, ia juga mundur beberapa langkah dari sana.
.
.
__ADS_1
.