PENGKHIANATAN!

PENGKHIANATAN!
Bab 55


__ADS_3

Sedangkan di kediaman Jana, sepasang suami istri itu langsung bergegas ke kantor polisi pagi-pagi sekali.


Semalam setelah mendapatkan laporan bahwa Putri nya di tangkap, mereka tidak langsung kesana karena sedang ada pekerjaan penting.


"Ayah, bagaimana Winda bisa sampai di kantor polisi?" tanya Yuli bingung


"Ayah juga tidak tahu, Bu" jawab Jana dengan melajukan mobil nya cepat.


Jana terus saja melajukan mobil nya, ia sudah cemas mengingat sifat Putri nya yant lumayan keras kepala.


Tak lama kemudian mereka sampai juga di kantor polisi, Jana dan Yuli langsung saja masuk ke dalam.


Jana langsung saja menemui pihak Polisi, ia ingin segera menemui Putri nya, Winda.


"Windaa" teriak Yuli dengan berkaca-kaca saat melihat Putri nya yang datang dengan di borgol tangannya.


"Bunda, Ayah, tolong aku. Aku tidak mau disini" teriak Winda dengan terisak.


"Waktu kalian hanya 20 menit saja" ucap Polisi tersebut.


Jana dan Yuli duduk berhadapan dengan Putri nya yang sudah terisak sejak tadi.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Nak?" tanya Yuli sendu.


"Aku hanya menabrakan mobilku pada mobil Aron, aku cemburu karena Aron sedang tertawa bersama Sekertaris nya" jawab Winda dengan geram.


Astaga,Winda.


Saat Jana akan berbicara, ponsel di dalam saku nya berdering.


"Ada apa?" tanya Jana langsung saat panggilan sudah terhubung.


"Tuan, anda harus segera ke perusahaan. Ini gawat Tuan, saham kita anjlok dan Nona Mora menjual saham di perusahaan kita dengan sangat murah" jawab Asisten dengan cemas.


"Apaaa, tunggu aku sekarang kesana" teriak Jana dengan kaget.

__ADS_1


"Bun, ayo kita ke perusahaan. Dan kamu Winda, bersabarlah nanti Ayah akan keluarkan kamu dari sini" ucap Jana dengan cepat


Yuli menganggukan kepala, ia lalu mengikuti suami nya pergi dari sana.


Sedangkan Winda? Ia hanya bisa diam saat kedua orangtua nya pergi dari sana. Winda tau pasti terjadi sesuatu sehingga mereka panik dan pergi dari sana.


Winda lalu di bawa kembali ke penjara oleh petugas, ia berjalan dengan gontai dan wajah datar nya.


**


Jana langsung saja masuk ke dalam perusahaan saat dia sudah sampai, ia dengan cepat menuju ke ruangannya.


"Ada apa ini? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Jana pada Asistennya.


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Nona Mora mencabut semua saham milik nya dan di jual dengan harga rendah, begitupun dengan perusahaan Sy" jelas Asistennya dengan gugup.


"Apa, bagaimana bisa?" teriak Yuli saat ia sampai di ruangan sang Suami.


Jana lalu mengecek semua nya, ternyata benar bahkan pemegang saham yang lainnya pun ikut serta mengambil nya.


Dalam satu malam semua nya hancur, bahkan perusahaan yang dia punya pun sudah gulung tikar.


"Ayah, siapa yang sebenarnya yang melakukan ini?" tanya Yuli dengan lesu.


"Apa semua yang berhubungan ini ulah, Mora?" tanya Jana pada Asistennya.


"Iya Tuan, semua yang terjadi pada perusahaan ulah Nona Mora , Tuan Wildan dan anak buah nya" jawab nya dengan menundukan kepala.


"Bagaimana bisa kita kecolongan dengan anak kecil itu" geram Jana dengan menggebrak meja.


"Bun, kamu pulanglah duluan aku akan pergi menemui Mora bersama Asisten ku" ucap Jana dengan tegas.


Yuli menganggukan kepala nya, ia sangat lesu saat tahu perusahaannya sudah gulung tikar karena mereka tidak bisa menopang kekurangannya.


Jana dan Asistennya pergi langsung ke perusahaan Widiatma, ia sudah sangat geram akan kenyataan ini.

__ADS_1


Selama perjalanan , Jana hanya diam saja dengan sorot mata yang begitu penuh emosi dan tajam.


"Aku akan melenyapkan mu, Mora" batin Jana dengan mengepalkan tangannya kuat.


***


Sedangkan Mora, ia saat ini baru saja tiba di Rumah sakit bersama dengan sang Suami nya.


Sebelum ke ruangan Aron, Wildan mengajak sang Istri untuk masuk ke ruangan Dokter lain.


"Mas, memang Dokter nya sudah ada?" tanya Mora saat mereka sudah ada di depan ruangan Dokter.


"Sudah sayang, ayo masuk" ajak Wildan lembut.


Wildan lalu membukan pintu ruangan tersebut, ia dan Mora langsung saja masuk saat ada sahutan dari dalam.


"Langsung saja Nona anda ke ranjang pasien" ucap Dokter wanita tersebut.


"Baik Dok" balas Mora patuh.


Mora langsung saja merebahkan diri nya di ranjang pasien, lalu sang Dokter memeriksa dengan sangat telaten.


"Maaf Dok, seperti nya Nona Mora harus di bawa ke Dokter Obgyn" ucap Dokter pada Wildan saat ia selesai memeriksa Mora.


Wildan langsung saja tersenyum senang, ia lalu memeluk Mora dan menggendong nya untuk menemui Dokter Obgyn.


"Yaampun manis sekali mereka ini" ucap Dokter tersebut dengan menggelengkan kepala nya.


Sedangkan Wildan, ia sudah sampai di Dokter Lia, Dokter Obgyn yang sudah sangat terkenal, bahkan Mora juga dulu dia di tangani oleh nya.


Wildan langsung saja menyuruh Dokter Lia untuk memeriksa Mora, ia bahkan tidak pergi dari sisi Mora sedikitpun.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2